
Gabriel duduk termenung di samping putra nya sembari terus memikirkan apa yang di katakan Ummi Aisyah. Amarah dalam jiwa mu sungguh menggelora, bagi nya mata harus di balas mata, namun itu bukan gaya hidup keluarga mertua nya dan entah mengapa, setelah berfikir cukup lama, Gabriel Ummi nya itu benar. Meskipun secara logika bagi nya itu tidak adil, tapi hati kecil nya mengatakan itu memang solusi yang terbaik.
Sementara keluarga Firda yang lain menyusul ke rumah sakit untuk menjenguk Abi Farhan, Firda dan yang lain nya. Gio dan Gerry pun masih setia menjaga mereka di sana.
"Gio..." seru Om nya Firda "Sebaik nya kamu dan Gerry pulang, kalian juga terluka dan harus istirahat kan" ujar nya namun Gio langsung menggeleng.
"Aku akan menunggu Om Farhan sampai sadar, Om" tegas nya.
"Benar..." sambung Gerry "Ini salah kami, seandai nya mereka tetap di rumah dan tidak mengantarkan kami"
"Tidak ada yang bisa di salahkan di sini, Gerry. Gabriel berusaha sebaik mungkin untuk bisa melindungi keluarga nya, tapi jika Allah sudah berkehendak yang lain, kita hanya bisa bersabar dan yakin lah, pasti akan ada hikmah yang besar di balik semua ini" jelas Om nya Firda itu.
"Abi dan Ummi juga harus pulang, kalian harus beristirahat" ujar Tante nya Firda "Biar kami yang menjaga mereka di sini"
Sang Kakek yang sangat sayang pada Firda tampak enggan meninggalkan rumah sakit, Firda adalah satu satu nya cucu nya yang nakal, bar bar tapi entah mengapa Firda menjadi cucu kesayangan nya dan entah kenapa juga, Tuhan memberikan cobaan yang begitu berat pada cucu kesayangan nya itu. Om dan Tante nya Firda terus membujuk Gio, Gerry, Kakek dan Nenek supaya mereka pulang, hingga akhir nya mereka ber empat pun pulang.
Sementara itu, Ummi Aisyah masih menemani Firda dan saling menguatkan.
"Micheal sudah keluar dari masa kritis nya kata Dokter" kata Ummi Aisyah yang membuat Firda langsung mengucap syukur.
"Alhamdulillah ya Allah, semoga Mini dan Abi juga segera keluar dari masa kritis mereka" lirih Firda yang masih terbaring di atas bangsal nya dengan jarum infus yang menancap di punggung tangan kiri nya.
"Oh ya, Ummi. Tadi Ibu nya Mickey bilang apa?" tanya Firda kemudian yang membuat Ummi Aisyah terdiam sejenak.
__ADS_1
"Hanya bertanya kenapa Gabriel tidak bisa di hubungi" jawab Ummi Aisyah sambil tersenyum, raut wajah Firda langsung tampak sedih.
"Jika sampai terjadi sesuatu dengan Micheal, mungkin Firda tidak akan pernah bisa memaafkan diri Firda sendiri, Ummi. Karena Firda yang memaksa Abi pergi menggunakan mobil itu."
"Kamu meminta mereka pergi demi menyelamatkan mereka, dan jika yang terjadi justru sebaliknya maka mungkin itu sudah kehendak Allah"
"sebaik nya sekarang kamu istirahat, ini sudah malam. Besok, saat matahari kembali bersinar, Insya Allah, itu juga akan menjadi cahaya untuk keluarga kita"
....
Gabriel tertidur di ruangan Micheal, ia masih menggenggam tangan putra nya dan meletakkan kepala nya di samping kepala putra nya Gabriel terbangun saat adzan subuh berkumandang, dan saat ia hendak menarik tangan nya, Gabriel menyadari kalau Micheal juga menggenggam tangan nya. Gabriel langsung membuka mata lebar lebar dan ia mendapati putra nya yang sudah membuka mata dan tersenyum di balik alat bantu pernapasan yang terpasang di mulut nya.
"Mi... Micheal, kamu bangun, Nak" seru nya. Micheal hanya mengedipkan mata nya, Gabriel pun segera memanggil Dokter yang bertugas.
"Detak jantung nya normal, Insya Allah Micheal akan baik baik saja" kata Dokter itu yang kembali membuat Gabriel begitu terharu. Ia langsung mencium kening putra nya itu bahkan ia meneteskan air mata nya.
"Alhamdulillah, ya Allah. Terima kasih" gumam Gabriel. Dan ia memperhatikan Micheal yang seperti ingin mengatakan sesuatu, Gabriel mendekatkan telinga nya ke mulut Micheal dan Micheal memanggil Ibu nya
"Mom..."
"Mom?" tanya Gabriel dan Micheal mengedipkan mata nya lemah.
"Mommy masih sibuk bekerja, Sayang. Micheal mau ketemu Mommy ya? nanti ya, Daddy panggil Mommy ke sini" ujar nya lembut. Namun tiba tiba Micheal melepas alat bantu pernapasan nya itu.
__ADS_1
"Jangan, Sayang.."
"Mommy Cantik" lirih nya kemudian yang membuat Gabriel tercengang.
Ingatan Micheal berputar pada kejadian sebelum ledakan itu terjadi, ia melihat Mommy nya yang menangis dan berteriak sambil berlari ke arah nya, Micheal tahu Mommy tiri nya itu sedang mengandung, sehingga ia takut Mommy nya kenapa kenapa dan ia tidak tahu kenapa Mommy nya berlari sambil menangis, sehingga ia mengkhawatirkan Mommy tiri nya itu. Sementara selama ini Mommy tiri nya itu sangat sayang pada nya, menyuapi nya, memandikan nya, mengajak nya bermain, sehingga Micheal juga menjadi sangat sayang pada Firda.
Sementara Gabriel masih tercengang, ia merasa tidak percaya saat Micheal sadar, hal yang pertama ia tanyakan adalah Firda.
"Mommy Cantik sedang istirahat, Sayang" kata Gabriel lembut sembari kembali memasangkan alat bantu pernapasan itu ke mulut Micheal. Gabriel teringat dengan diri nya yang belum melaksanakan sholat.
"Daddy sholat dulu ya, Nak. Sholat nya di sini kok, Daddy mau mendoakan Micheal" ujar Gabriel dan Micheal hanya mengangguk lemah.
...
Jam 7 pagi Angeline dan Frank sudah di bandara untuk pergi ke desa Firda, walaupun mereka tidak tahu alamat rumah Firda yang di desa, namun Angeline bertekad akan menjemput putra nya, apa lagi tadi ia mencoba menghubungi Gabriel kembali namun masih tidak bisa, sehingga ia merasa Gabriel sengaja menjauhkan nya dari Micheal. Namun di satu sisi, ia juga mencemaskan Gabriel dan Micheal mengingat Edward ada di desa itu, dan fikiran fikiran liar nya itu membuat Angeline merasa frustasi sendiri.
....
Sementara itu, polisi kini mulai mengusut penyerangan yang terjadi pada Gabriel tanpa mereka ketahui siapa Gabriel dan siapa Gio. Yang mereka tahu, suami dan teman Ning Firda di serang orang asing dan hal itu tentu harus di usut karena ada tiga mayat yang di temukan, dan empat orang mengalami luka yang serius, ledakan dan tembakan terjadi, hal yang tidak pernah terjadi di sebuah desa.
Gio dan Gerry kembali ke rumah sakit saat pagi hari, apa lagi polisi membutuhkan keterangan mereka dan Gio tidak ingin urusan polisi ini terjadi di rumah Firda mengingat di sana adalah sebuah sekolahan.
Sementara sebelum polisi datang, Gabriel dan yang lain nya sudah sepakat mengatakan bahwa ini adalah dendam pribadi tentang harta dan memang itu fakta nya, mereka tak berbohong dan satu satu nya yang mereka tutupi adalah identitas mereka sebagai seorang Mafia.
__ADS_1