
Gabriel mencari cari Firda namun tak ada, yg ada hanya tiga mayat lelaki yg tergelak di tanah. Satu dengan luka tembak di dada, satu lagi di kepala dan satu nya lagi beberapa tembakan di bagian perut dan dada, dan itu terlihat seperti di berondong oleh seseorang. Sementara di sisi yg lain ada tumpukan mayat orang orang Gabriel yg di Tugas kan untuk menjaga Firda.
Anak buah Gabriel berpencar ke tempat sekitar guna menemukan Firda, Mini dan Micheal. Namun mereka tak menemukan nya.
Namun salah satu anak buah Gabriel berteriak mengatakan ia menemukan jam tangan Micheal. Gabriel mengambil jam tangan itu dan memperhatikan nya baik baik, ia telah menempatkan orang orang terbaik nya untuk menjaga Firda namun bagaimana bisa mereka masih terlacak dan terbunuh begitu saja dengan mudah nya?
Gabriel mencoba membuka jam tangan mainan putra nya itu dan ia menggeram marah saat mendapati sebuah pelacak dalam jam tangan Micheal. Gabriel ingat saat ia makan es krim bersama Micheal dan Micheal memakai jam tangan itu selalu.
Gabriel menghancurkan pelacak itu, menginjak nya dengan sangat marah.
Gabriel mengedarkan pandangan nya ke sekitar tempat itu dan ia melihat ada sebuah bangunan gereja. Seketika ia ingat Firda pernah mengatakan sesuatu pada nya.
"Tidak ada yg akan melakukan kekerasan di tempat ibadah, itu tidak boleh"
Gabriel langsung berlari menuju gereja itu, anak buah nya pun langsung mengikuti Gabriel dari belakang.
Di gereja itu, Gabriel berpapasan dengan seorang pemuka agama dan pemuka agama itu menyambut Gabriel dengan senyum.
"Apakah ada seseorang di dalam?" tanya Gabriel dengan nafas terengah
"Seorang gadis dan seorang anak perempuan?" tanya pria itu, Gabriel langsung menganggu saja karena ia ingat ia memerintahkan anak buah nya untuk mengganti identitas Micheal sebagai anak perempuan.
"Silahkan masuk, tapi..." pria itu menatap para anak buah Gabriel yg bersenjata.
"Hanya aku yg akan masuk..." ujar Gabriel dan ia memberikan senjata nya pada anak buah nya.
Pemuka agama itu tersenyum, menghargai Gabriel yg menghargai nya. Kemudian ia membawa nya masuk ke dalam sebuah ruangan dan seketika Micheal berlari memeluk nya.
__ADS_1
" Om... " ia berlari sekencang yg ia bisa, Gabriel langsung berjongkok dan menangkap putra nya itu, ia mengangkat Micheal kedalam gendongan nya kemudian Gabriel mencium pipi Micheal berkali kali.
"Mickey, Sayang. Kamu tidak apa apa, Nak?" tanya nya dan Micheal mengangguk lemah.
Mini berjalan gontai menghampiri Gabriel, ia terjatuh di depan Gabriel dan menangis histeris.
"Firda... Hiks... Firda"
"Dimana Firda, Mini?" tanya Gabriel dengan suara dan tatapan yg begitu dalam.
"Pria itu... Di sana... Pria itu menyakiti nya" Mini menunjuk ke arah di mana tadi ia melihat Firda.
"Tidak ada Firda di sana, Mini" Gabriel berseru marah namun di tenangkan oleh pendeta itu.
"Sebaik nya kita mencari nya pelan pelan, Pak. Jangan terbawa emosi, karena emosi hanya akan memperkeruh suasana" saran nya yg membuat Gabriel mencoba menahan emosi nya.
"Ini sudah kewajiban saya, Pak. Semoga masalah yg kalian lalui cepat terselesaikan"
Gabriel menanggapi nya dengan senyum dan ia segera membawa pergi Mini dan Micheal, Mini di bawa ke tempat dimana mereka tadi di tahan.
"Dia..." Mini menunjuk jasad seorang pria "Dia yg tadi mencekik Firda..." ujar Mini.
"Ada berapa orang tadi yg menahan kalian?" tanya Gabriel lagi.
"Tiga" Jawab Mini "Dia, dia dan dia..." ia menunjuk tiga jasad pria itu.
"Dan sekarang ketiga nya mati" ujar Gabriel lagi.
__ADS_1
"Firda yg membunuh nya..." Mini menunjuk pada pria yg di tembak dada nya oleh Firda "dan aku... Aku tidak sengaja menembak dia karena dia akan melukai Firda..."
"Lalu yg ini?" Gabriel menunjuk pria yg kata nya mencekik Firda dan ada banyak luka tembakan di perut dan dada nya.
"Aku tidak tahu, saat Firda memerintahkan ku untuk lari, aku langsung lari tanpa menoleh sedikitpun"
Gabriel terdiam sesaat, ia memperhatikan tempat sekitar nya dan pria yg mati karena di berondong tembakan.
"Itu arti nya Firda selamat.." gumam Gabriel kemudian.
"Gio..."
...
Firda terbaring pucat di tengah ranjang dan ada beberapa peralatan medis di sisi ranjang. Jarum infus tertancap di punngung tangan kiri Firda, sementara kedua lengan nya di perban. Wajah Firda yg babak belur di obati dengan begitu telaten oleh Gio yg saat ini duduk di samping nya. Ada Dokter khusus juga di sana untuk menangani Firda yg terluka parah. Dokter itu bahkan menyarankan pemeriksaan MRI untuk mengetahui kondisi Firda lebih lanjut, apa lagi takut nya Firda mengalami luka dalam. Memikirkan hal itu saja membuat Gio sudah sangat cemas dan ketakutan.
"Bagaiamana keadaan kandungan nya?" tanya Gio pada Dokter wanita yg baru saja selesai memeriksa Firda.
"Ini sebuah anugerah, Tuan. Kandungan nya tidak apa apa walaupun begitu lemah, dia harus istirahat total dan tidak boleh stres sedikitpun" ujar Dokter itu. Gio mengangguk mengerti dan mempersilahkan sang Dokter untuk keluar.
Saat Dokter keluar, Eduardo masuk dan memperhatikan Firda yg masih tidak sadarkan diri. Eduardo mengakui kecantikan dan keanggunan Firda bahkan meskipun Firda dalam keadaan babak belur karena di keroyok dua pria besar dan beringas.
"Janin nya sekuat ibu nya ya..." ujar nya kemudian duduk di tepi ranjang, tatapan nya masih lurus menatap Firda yg tampak sangat pucat. Eduardo tersenyum lembut "Seandainya putri ku masih hidup, mungkin dia akan seumuran dengan Firda ini kan" lanjut nya. Gio tersenyum tipis dan mengangguk.
"Dia masih sangat muda ternyata"
"Usia nya setahun di bawah ku, Paman"
__ADS_1
"Menyedihkan sekali, semoga kamu mampu melewati masalah ini, Nak"