
Setelah selesai melaksanakan kewajiban nya sebagai pria muslim, Gabriel, Kakek dan Abi Farhan pun pulang. Mereka jalan kaki karena jarak dengan masjid memang dekat.
"Kek, Bi. Aku mau mampir ke toko sebentar ya, mau beli pampers sama cemilan" ujar Gabriel.
"Kita pergi bersama saja" kata Abi Farhan yang masih was was dengan keadaan.
"Tidak apa apa, Bi. Cuma sebentar, kalian pulang saja duluan"
"Tapi, Gabriel..."
"Cuma sebentar, Bi. Lagi pula ini siang hari, tidak akan terjadi apa apa" Gabriel meyakinkan Ayah mertua nya itu. Apa lagi toko yang di tuju memang dekat dan juga ada banyak warga di sekitar nya.
"Baiklah, kami pulang duluan" kata Kakek kemudian. Mereka pun berpisah di sana, Gabriel segera pergi ke toko sementara Abi dan Kakek pulang ke rumah.
Sesampainya di toko, Gabriel langsung membeli pampers dan beberapa cemilan untuk Firda dan orang rumah. Setelah selesai, Gabriel langsung membayar nya dan kemudian berjalan pulang.
Namun saat di tengah jalan, tiba tiba ada mobil hitam yang berhenti di depan nya. Pintu kaca mobil pun di buka.
"Assalamualaikum, Mas..." sapa seorang wanita yang memakai jilbab dari mobil.
"Waalaikum salam..." jawab Gabriel dan ia tidak menaruh curiga sedikit pun pada wanita di dalam mobil itu, apa lagi wanita itu terlihat sangat muda dan berpakaian tertutup juga memakai jilbab.
"Mas, maaf saya mau tanya. Rumah Pak Ayub dimana ya?" tanya wanita itu lagi namun dengan suara yang kecil, hampir tak terdengar ke telinga Gabriel.
"Pak Ayub?" tanya Gabriel mengulang.
"Iya, Mas tahu rumah nya dimana?"
Sementara itu, pemilik toko melihat mobil itu tanpa curiga apa lagi Gabriel terlihat sedang berbicara dengan orang di dalam nya. Pemilik toko itu pun masuk ke dalam, sementara Gabriel masih berbicara dengan wanita itu
"Saya tidak tahu" jawab Gabriel.
"Sebentar, saya punya foto nya. Mungkin saja Mas mengenali nya" kata wanita itu lagi sembari merogoh tas nya kemudian menyerahkan selembar foto pada Gabriel, dan saat Gabriel hendak mengambil foto itu. Tiba tiba wanita itu menusukan jarum ke tangan Gabriel membuat Gabriel merintih dan langsung menarik tangan nya.
__ADS_1
"Kau..." geram Gabriel namun tiba tiba pandangan nya menjadi buram, kepala nya terasa pusing dan seluruh tubuh nya terasa begitu lemas. Kemudian wanita itu keluar dari mobil dan sebelum Gabriel terjatuh ke tanah, wanita itu langsung memasukan Gabriel yang sudah tak berdaya ke dalam mobil nya.
Wanita itu menutup kaca mobil nya yang gelap dan kemudian ia kembali menjalankan mobil nya. Wanita itu melirik Gabriel dengan sinis dan terlihat sekali kepuasan di mata nya melihat Gabriel yang kini perlahan menutup mata nya.
"Kau membunuh suami ku, sekarang aku akan membunuh istri mu di hadapan mu"
.........
"Bang Gabriel dimana?" tanya Firda pada Abi dan Kakek nya yang pulang tanpa Gabriel dari masjid.
"Kata nya kamu suruh dia beli pampers?" Abi Farhan justru balik bertanya.
"Sendirian, Bi?" tanya Firda dengan panik.
"Kami mau temani tapi dia tidak mau, kata nya cuma sebentar dan tempat nya dekat" kata Kakek "Insya Allah dia baik baik saja, Nak. Jangan cemas, banyak orang di siang hari begini"
Firda hanya tersenyum tipis dan ia segera ke kamar nya, Firda langsung mengambil ponsel nya dan menghubungi suami nya itu.
"Angkat dong, Bang. Seharusnya kamu tidak pergi diri..." gumam Firda dengan begitu cemas dan tak lama kemudian ia mendapatkan jawaban dari suami nya namun yang terdengar justru suara seorang perempuan.
"Siapa kamu? Dimana suami ku?" tanya Firda dengan tegas.
"Kamu ingin melihat suami mu?" tanya wanita itu sambil tertawa "Aku akan mengirimkan foto suami mu yang tampan ini"
Dan beberapa detik kemudian Firda mendapatkan kiriman foto Gabriel yang sedang berada dalam mobil.
"Datang lah ke sungai yang ada di ujung desa dengan menggunakan mobil yang ada di belakang rumah sakit, dan jangan memberi tahu siapa pun. Atau aku akan meledakan kepala suami mu" ancam wanita itu yang membuat darah Firda seolah membeku, namun Firda tetap berusaha tenang.
"Dengarkan aku, Nyonya Emerson. Yang aku inginkan hanya kau, jadi jangan paksa aku melukai keluarga mu yang lain. Jika kamu bertindak sok pintar, aku akan meledakan rumah anak tiri mu dan rumah keluarga mu" Firda menelan ludah nya mendengar ancaman yang sangat mengerikan itu.
"Bagaiamana aku bisa mempercayai mu? Bagaimana aku tahu yang kamu inginkan benar benar hanya aku?" tanya Firda kemudian sembari memperbesar foto yang wanita itu kirimkan. Dan melihat dari pemandangan di belakang Gabriel, wanita itu sudah pergi ke ujung desa dimana tak ada rumah warga di sana. Karena hanya terlihat pepohonan di belakang foto Gabriel.
"Arti nya dia menyetir dengan kecepatan tinggi" kata hati Firda. Ia segera berpikir cepat bagaimana cara nya mengejar Gabriel.
__ADS_1
"Nama ku Raisa Agarwal, suami ku Vicky Agarwal. Suami mu membunuh suami ku dalam pertemuan 3 tahun yang lalu, aku punya anak berusia 4 tahun sekarang. aku hanya ingin membuat suami mu merasakan bagaimana rasa nya kehilangan pasangan"
Firda dengan cepat membuka laptop nya dan mencari tahu tentang Vicky Agarwal, namun ia tak menemukan apapun di sana. Firda mencoba nya sekali lagi dengan cara yang pernah Mini ajarkan, mencari berita tersembunyi di Internet. Dan muncullah berita kematian seorang pengusaha muda yang bernama Vicky Agarwal. Di temukan tewas dengan tembakan di kepala dan di dada.
"Aku akan datang tapi... "
"Tidak ada tapi dan jangan memutuskan sambungan telfon nya" Firda menghela nafas panjang namun ia tak berani membantah.
Firda pun menutup laptop nya dan Firda memperhatikan Lora Jibril yang saat ini sedang tertidur dalam box bayi nya.
"Lagi lagi karena dendam..." lirih Firda dalam hati dan seketika air mata menetes dari sudut mata nya, namun dengan cepat Firda menghapus nya. Firda menunduk dan mengecup kening serta pipi putra nya.
"Kami akan pulang, Nak. Insya Allah..." hati nya berkata dengan begitu berat sebelum akhirnya kembali mengecup kening putra nya yang sedang tertidur pulas itu.
Firda melihat ada beberapa permen cokelat di dalam toples, Firda mengambil semua nya dan memasukan nya ke dalam kantong gamis nya. Ia juga mengambil senjata nya yang ia letakkan dalam laci kemudian Firda bergegas keluar.
"Ummi..." teriak nya.
"Di kamar, Firda" jawab Abi nya yang saat ini sedang duduk di sofa sembari membaca kitab kuning nya.
"Emm ini, Bi. Firda mau ke toko, uang nya Bang Gabriel engga cukup kata nya. Titip Jibril ya, dia lagi tidur" kata Firda berusaha bersikap tenang, bahkan ia juga tetap menyunggingkan senyum. Sementara Abi nya langsung mendongak mendongak dan langsung beranjak berdiri.
"Abi anterin..." tegas nya.
"Engga usah, cuma sebentar kok. Lagi pula ini juga masih siang hari, banyak orang. Aman kok" jawab Firda meyakinkan.
"Engga bisa, Firda. Abi ikut..."
"Aduh, Bi. Engga usah, mending Jagain Jibril yaa..." seru Firda "Oh ya Firda bawa permen cokelat, Firda pergi dulu. Assalamualaikum..." Firda langsung bergegas keluar tanpa memperdulikan Abi nya yang terus berteriak memanggil nya.
Firda langsung bergegas ke rumah sakit yang kini sudah sempurna dan lengkap dengan semua peralatan medis, namun rumah sakit itu masih belum di resmikan karena Gabriel sedang mengurus nya.
Sesampainya di belakang rumah sakit, Firda melihat ada mobil putih dan ia pun masuk ke dalam nya. Untuk sampai ke ujung desa membutuhkan sekitar 30 menit karena jalan nya yang sempit dan naik turun.
__ADS_1
Sementara wanita itu kini memerintahkan Firda untuk membuang ponsel nya, sebelum membuang ponsel nya, Firda mengirim pesan pada Abi nya yang berbunyi ujung desa namun siapa sangka, pesan itu tidak bisa terkirim dan kemudian ada ponsel lain yang berdering di dalam mobil, Firda mencari nya dan setelah mendapatkan nya, Firda langsung menjawab panggilan itu.
"Jangan berani mengirim pesan pada siapapun, bodoh!!! Dan matikan ponsel mu" Firda menggeram kesal karena ternyata ponsel nya di hack. Firda pun keluar dari mobil dan meletakkan ponsel nya yang sudah ia matikan itu di atas rumput, dekat dengan dinding rumah sakit, Firda juga meletakkan satu permen cokelat di atas nya dan Firda menggunakan jarum pentol di jilbab nya, Firda menuliskan kata 'sungai' di dinding rumah sakit. Meskipun tidak begitu kentara namun Firda sangat berharap ada yang bisa membaca tulisan nya ini.