
Firda dan Gabriel duduk di sebuah kursi di dekat jendela dimana di depan nya ada meja bulat, biasanya tempat itu menjadi meja makan di kamar Gabriel saat ia malas turun ke bawah. Dan kali ini mereka makan di kamar karena Firda yg mengaku tak sanggup jika harus naik turun tangga, dan ia dengan tegas menolak di gendong oleh Gabriel.
Firda melahap makanan di depannya dengan rakus, meskipun sebenarnya ia bukan nya rakus melainkan benar benar kelaparan. Bayangkan saja, sekarang sudah jam setengah 4 dan perut nya sejak pagi baru di isi sekarang. Belum lagi pegulatan nya dengan sang suami yg sungguh menguras tenaga.
Sementara Gabriel cuma menikmati makanan nya namun ia tak selahap sang istri, bukannya ia tidak lapar melainkan ia tidak bisa mengalihkan pandangan nya dari Firda yg entah mengapa terlihat sangat cantik dengan rambut yg setengah basah dan terurai.
Setelah menghabiskan semua makanan nya hingga piring nya bersih, Firda meneguk susu segar yg memang di sediakan untuk nya.
"Alhamdulillah..." seru Firda setelah ia juga menghabiskan segelas susu segar nya. Firda menepuk perut nya yg sekarang sedikit membuncit karena ia menimbun nya dengan banyak makanan.
"Kenyang?" tanya Gabriel sambil terkekeh.
"Iya, Alhamdulillah. Sampai buncit perut Firda..." seru Firda.
"Mana? Masih seksi kok..." goda Gabriel yg membuat Firda mendelik.
"Om..." seru Firda kemudian dan Gabriel pun menyudahi makanan nya meskipun belum habis.
"Kenapa, Fir?" tanya Gabriel setelah meneguk susu nya.
"Om engga jahat kan?" cicit Firda ragu, Gabriel terdiam sesaat dan ia memasang mimik wajah serius, membuat Firda merasa bersalah karena seperti nya ia telah menyinggung sang suami.
"Jangan tersinggung dulu, Om..." seru Firda lagi "Firda tanya gitu karena...karena pria baik tidak akan menodai seorang wanita sedikitpun"
Gabriel tersenyum samar mendengar penuturan Firda, ia mengulurkan tangan nya dan mengelap sudut bibir Firda yg terdapat bekas susu. Gabriel menatap tepat ke dalam mata Firda dan ia berkata
"Saat itu aku benar benar terpaksa, Fir. Sebenarnya yg menaruh obat itu, Maddison, dia menawarkan diri dan memang itu tujuan nya, tapi aku bukan tipe orang yg mau melakukan hubungan intim dengan orang asing apa lagi wanita seperti Maddison, entah sudah berapa pria yg tidur dengan nya. Dan saat melihat mu, aku...fikiran ku blank dan aku tidak bisa menahan diri, rasanya sangat sakit saat itu...dan hasrat mengalahkan ku. " tutur Gabriel panjang lebar.
Hati Firda terenyuh mendengar penuturan Gabriel, apa lagi kini terbukti bahwa Gabriel benar benar berusaha menahan diri dan berusaha menjaga Firda.
__ADS_1
"Maaf..." ucap Firda tulus "Aku, Abi dan Ummi sudah memperlakukan mu dengan sangat buruk..."
"Aku mengerti posisi kalian" jawab Gabriel dengan senyum di bibir nya "Dan aku ingin mengatakan sesuatu, Firda..."
"Apa?" tanya Firda penasaran.
"Aku bukan pria yg baik, Fir. Jauh dari kata baik, tapi untuk mu aku janji, aku akan menjadi pria terbaik mu..." Firda tersipu mendengar ucapan mesra sang suami dan ia mengangguk percaya.
"Aku akan ke ruang kerja ku, ada beberapa hal yg harus aku kerjakan..." ujar Gabriel kemudian dan lagi lagi ia langsung menggendong Firda, membuat Firda kembali memekik terkejut. Gabriel membawa Firda ke ranjang.
"Istirahat lah, aku akan memanggil pelayan untuk membersihkan kamar kita..."
"Tidak usah..." jawab Firda dengan cepat.
"Kenapa?" tanya Gabriel heran.
"Karena?"
"Karena kamar itu menurut ku privasi apa lagi kamar suami istri, jadi aku ingin melakukan nya sendiri" jawab Firda malu malu yg membuat Gabriel tersenyum gemas.
"Baiklah, tapi aku tidak ingin kau kelelahan" ujar Gabriel menegaskan.
"Tidak akan, itu sudah menjadi kewajiban istri" jawab Firda yg membuat Gabriel melayang hanya karena mendengar pengakuan Firda sebagai seorang istri.
"Baiklah, tapi karena kamu masih sakit, jadi aku akan memanggil pelayan untuk membawa keluar makanan kita" ucap Gabriel kemudian.
"Iya" jawab Firda.
Gabriel pun memanggil pelayan dan dengan cepat sang pelayan melakukan tugasnya. Sementara Gabriel langsung pergi ke ruang kerja nya yg ada tepat di samping kamar nya.
__ADS_1
Setelah Gabriel pergi, Firda langsung menghubungi Ummi nya apa lagi ia melihat ada dua panggilan tak terjawab dari Ummi nya tadi pagi.
"Kenapa aku engga dengar ponsel berdering?" Firda bertanya pada diri nya sendiri dengan bingung.
"Assalamualaikum, Ummi..." sapa Firda dengan girang saat panggilan nya di jawab.
"Waalaikum salam, Fir. Kamu dari mana saja? Ummi telpon dari tadi, khawatir Ummi, Fir..." suara Ummi nya terdengar cemas dari seberang telpon.
"Hehe, maaf Ummi... Tadi em.. Tadi..." Firda bingung mencari alasan untuk ia berikan pada ibu nya "Tadi Firda itu, Ummi..."
"Itu apa?" tanya Ummi nya tak sabar.
"Ummi, Firda itu tadi... Tadi melakukan gituan sama Gabriel terus... Terus sakit dan ternyata berdarah..."
.........
"Ummi, Firda itu tadi... Tadi melakukan gituan sama Gabriel terus... Terus sakit dan ternyata berdarah..."
Aisyah menganga mendengar pengakuan anak nya itu, bukan karena apa, tapi karena ia mengaktifkan loudspeaker ponsel nya, sedangkan saat ini ia sedang berkumpul bersama semua keluarga nya di karenakan nanti malam ada haul di rumah nya. Mereka sedang sibuk membuat kue dan berbagai macam makanan lain nya.
Bahkan kedua orang tua Aisyah dan kedua orang tua Farhan juga ada di sana, begitu juga dengan Farhan yg hanya bisa menganga lebar.
Dengan cepat Aisyah menyambar ponsel nya dan me non aktifkan speaker nya. Sementara yg lain hanya bisa saling pandang dengan berbagai macam ekspresi. Kakek nenek Firda hanya bisa geleng geleng kepala dan menggumamkan istighfar, sementara tante tante nya malah tertawa cekikikan. Lain halnya dengan Abi nya yg masih menganga lebar dengan ekspresi bak patung.
"Firda, nanti Ummi telepon lagi ya, Sayang..." seru Aisyah sembari melirik semua orang yg saat ini menatap ke arah nya, Aisyah pun beranjak dari tempat duduk nya dan ia menarik Farhan yg masih bengong. Aisyah membawa nya ke kamar Aisyah sementara Firda masih mengoceh di seberang telpon sana.
"Tapi ada yg mau Firda bicarakan, Ummi. Ini kabar baik buat Abi dan Ummi. Waktu itu Om Gabriel engga ngapa ngapain Firda, maka nya tadi pas itu... Firda sakit dan berdarah, malah sampai sekarang masih sakit. Berarti kan waktu itu kami tidak melakukan apapun, Ummi... "
Aisyah yg mendengar penuturan putri nya itu tidak tahu apakah ia harus merasa senang karena ternyata putri nya tidak ternoda, atau haruskah ia malu dan kesal karena dengan tidak tahu malu nya Firda memberi tahu hal yg sangat pribadi itu.
__ADS_1