
Firda dengan sangat tergesa gesa melangkah di lorong rumah sakit di ikuti Gabriel dan Kakek Nenek nya. Firda bahkan tak mengindahkan ucapan Gabriel yang sejak tadi meminta nya jalan pelan pelan.
"Sudah, biarkan saja...." seru sang Kakek yang jalan dengan pelan pelamn, karena usia nya yang sudah tak lagi muda, otot otot kaki nya tak lagi kuat seperti otot otot anak muda yang bahkan sedang hamil seperti Firda "Sejak dulu dia memang dekat dengan Abi nya dan Abi nya sangat memanjakan nya, dia pasti tidak sabar bertemu Abi nya" lanjut sang Kakek. Ia berjalan bergandengan tangan dengan sang istri yang sama sama sudah tak bisa berjalan cepat, dan itu lah yang membuat Gabriel dilema. Mengejar istri nya atau menemani kakek nenek nya yang sudah lansia itu?
"Kamu kejar saja Firda, Gabriel" ujar Sang Nenek tiba tiba seolah bisa membaca fikiran Gabriel.
"Terima kasih, Kek" kata Gabriel dengan girang dan ia segera berlari lari kecil mengejar Firda.
Gabriel dan Firda langsung memasuki ruang rawat Abi Farhan dan di sana mereka melihat Micheal yang masih menemani Abi Farhan di samping nya dan bahkan masih terus berbicara.
"Kenda tahu tidak, tadi malam Mickey bermimpi. Kalau adik bayi nya nanti laki laki, terus tampan seperti Mickey" kata Micheal dengan mata berbinar. Abi Farhan hanya bisa tersenyum, apa lagi ia belum bisa banyak berbicara.
"Terus, tapi Mickey tidak mau adik laki laki. Mickey mau nya adik perempuan, yang cantik seperti Mommy, terus nanti Mickey belajar karate, jadi kalau ada orang jahat, Mickey bisa melindungi adik bayi" kata nya dengan raut wajah yang sangat serius "Mickey pukul penjahat nya seperti ini, hap hap hap" Micheal memukul udara dengan tangan nya yang di kepalkan
Gabriel dan Firda yang melihat itu tertawa kecil dan Micheal yang mendengar tawa mereka langsung menoleh.
"Daddy, Mommy. Kenda sudah bangun, tapi sakit nya banyak" seru nya "Kalau mickey sakit nya tidak banyak, Kenda banyak, sampai tidak bisa bicara" adu Micheal yang tentu saja membuat Firda dan Gabriel terkejut karena mereka mengira Abi Farhan benar benar tidak bisa bicara, mereka langsung menatap Ummi Aisyah.
"Ummi, Dokter bilang begitu? itu tidak mungkin, Ummi, Abi pasti masih bicara kan?" tanya Firda cemas yang membuat Ummi Aisyah justru terkekeh.
"Tentu saja Abi mu sudah bisa bicara, Fir. Cuma sejak tadi Micheal nyerocos terus, sedangkan Abi belum bisa berbicara banyak" tukas Ummi Aisyah "Bahkan sebenar nya Dokter tadi melarang Abi mu ini di jenguk ramai ramai, tapi setelah kedatangan Micheal, Abi malah tampak lebih baik. Jadi Dokter bilang tidak masalah jika pasien merasa lebih baik"
__ADS_1
"Oh, Alhamdulillah ya Allah" Firda dan Gabriel mengucap syukur bersamaan sambil mengelus dada mereka yang tadi sempat berdebar karena mengira Abi Farhan benar benar tidak bisa bicara.
"Oh ya, Mommy nya Mickey dimana?" tanya Firda karena dia tidak melihat Angeline atau pun Frank di sana.
"Tadi dia menerima telfon, kata nya urusan pekerjaan" jawab Ummi Aisyah "Kakek sama Nenek mu dimana, Fir?" tanya Ummi Aisyah karena ia belum melihat batang hidung Kakek Nenek nya Firda sedangkan tadi mereka mengatakan akan ke rumah sakit semua nya.
Bersamaan dengan itu pintu kamar kembali terbuka dan Kakek Nenek nya itu muncul dengan senyum yang mengembang di bibir mereka.
"Alhamdulillah, Farhan. Kamu sadar juga, Nak" kata Nenek yang senang karena melihat menantu nya baik baik saja "Sudah hubungi mertua mu, Aisyah?"
"Sudah, Ummi. Mereka sedang di jalan" Jawab Ummi Aisyah.
Firda berjalan mendekati Abi nya, ia menatap mata nya dengan tatapan yang tampak sangat bahagia dan penuh kerinduan, mata Firda bahkan sudah berkaca kaca saking bahagia nya ia melihat Abi nya yang sudah sadar.
"Abi bangga sama kamu..." lirih nya yang bahkan hampir tidak terdengar, Firda terkekeh dan mengecup tangan Abi nya.
"Harus dong, Abi harus bangga sama Firda dan Firda memang anak sholehah, baik hati, rajin ibadah, rajin menabung dan membanggakan orang tua" tukas Firda.
"Tidak sekalian membanggakan negara, Fir?" cibir Ummi nya yang membuat Firda langsung cemberut namun kemudian cengengesan.
...
__ADS_1
Sementara di kamar Mini, Gio menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di hari penyerangan itu. Mini yang mendengar cerita itu begitu shock dan tidak percaya, apa lagi yang terluka ternyata bukan hanya diri nya.
"Kalau Om Farhan mau menyelamatkan diri nya sendiri, dia bisa sebenar nya" kata Gio "Tapi Om Farhan mau menyelamatkan mu dan Micheal"
"Oh Tuhan, Bagaiamana bisa ada orang sebaik itu pada orang asing?" gumam Mini "Tapi sekarang beneran kan Om Farhan sudah baik baik saja?" Mini menatap Gio dan Gio bisa melihat kecemasan di mata Mini.
"Iya, Syukurlah dia sudah sadar.." kata Gio.
"Aku juga ingin menjenguk nya, Tuan Mafia" pinta Mini, ia ingin menjenguk orang yang telah menyelematkan nya.
"Kondisi mu sama parah nya, sebaik nya nanti saja kalau kondisi mu sedikit lebih baik" jawab Gio "Aku juga tidak menyangka, ternyata bukan hanya Firda saja yang baik tapi juga keluarga nya. Saat kamu belum sadarkan diri, Ummi Aisyah juga menjaga mu, dia bahkan beberapa kali meminta maaf pada mu. Dia sungguh merasa bersalah karena dia berfikir kamu ada di masalah ini karena Firda atau pun Gabriel" tutur Gio yang membuat Mini tersenyum.
"Benar benar keluarga idaman ya, Tuan Mafia" kata Mini "Kalau saja Firda punya saudara laki laki, aku mau jadi istri nya biar punya keluarga ku seperti itu" kata Mini asal yang justru di cibir oleh Gio.
"Mimpi mu ketinggian, Nona.." cibir nya yang membuat Mini mendengus, karena seperti nya Gio tidak pernah suka melihat nya bahagia bahkan dalam khayalan nya sekalipun.
..
Sementara itu, Edward sedang mencari cara untuk melarikan diri. Ia tidak tahu kondisi apa yang di hadapi nya sekarang, apa lagi ia tahu ada dua polisi yang berjaga di depan ruangan nya. Edward teringat dengan Ayah Frank yang di tahan nya.
"Seperti nya hanya Frank yang bisa membantu ku" gumam nya, tanpa Edward ketahui bahwa Frank saat ini ada di rumah sakit yang sama. Edward memutar otak nya dan mencari cara Bagaiamana bisa menghubungi Frank, sedangkan ia tidak bisa bergerak banyak karena luka luka di tubuh nya apa lagi salah satu nya di borgol.
__ADS_1
Tak lama kemudian seorang suster datang untuk memeriksa keadaan Edward, saat suster itu berdiri di samping nya, Edward melirik kedalam saku baju suster itu dimana ada ponsel di sana.