
"Jadi ini harga cinta menurut mu?" tanya Gio yang membuat Mini langsung terlonjak kaget.
"Kamu? Sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Mini ketus.
"Dari tadi..." jawab Gio santai, ia pun melangkah mendekati Mini dan kemudian tanpa permisi, Gio langsung menggigit cokelat bekas gigitan Mini.
"Harga cinta mu mahal ya?" tanya Gio kemudian.
"Hem" jawab Mini dan ia menggigit cokelat nya lagi namun tiba-tiba Gio nya juga menggigit cokelat yang ada di mulut Mini sehingga bibir mereka hampir saja bersentuhan.
Kedua bola mata Mini langsung membulat sempurna, jantung nya berdebar seperti habis lari marathon, tubuh nya bahkan sampai terasa membeku.
"Kenapa ekspresi begitu?" tanya Gio dengan santai nya sembari mengunyah cokelat yang ada di dalam mulut nya.
"Bu... Bukan, bukan apa apa" jawab Mini gugup, Gio menatap Mini dengan begitu intens, bahkan ia kembali mendekatkan wajah nya ke wajah Mini membuat Mini semakin merasa gugup dan perlahan ia melangkah mundur, Gio pun melangkah maju hingga tubuh Mini membentur pintu kulkas. Mini semakin gugup apa lagi ketika Gio meletakkan kedua tangan nya di kedua sisi tubuh Mini, membuat Mini tak bisa melarikan diri.
"Kamu... tidak pernah pacaran ya?" tanya Gio sembari menaikkan sebelah alis nya.
"Kenapa tanya begitu?" tanya Mini ketus untuk menutupi kegugupan nya.
"Dari raut wajah mu, sepertinya kamu tidak pernah pacaran. Apa lagi jika mengingat seperti apa sifat mu, pasti tidak ada laki laki yang mau pacaran sama kamu" tukas Gio dan bibir nya begitu dekat dengan bibir Mini, membuat jantung Mini semakin dag dig dug.
"Aku... Aku tidak pacaran karena aku wanita baik baik" jawab Mini berusaha tak luruh ke lantai, karena kedua kaki nya kini terasa begitu lemas apa lagi dengan tatapan intens Gio yang seolah menusuk hingga ke tulang tulang nya.
"Ya, aku suka itu. Tapi masalahnya..." tatapan Gio kini turun ke bibir Mini yang pink tanpa polesan lipstick "Kamu bahkan tidak punya pengalaman berciuman, bagaimana malam pertama nanti akan berjalan nanti?" tanya Gio berseringai membuat Mini hanya bisa menelan ludah nya dengan susah payah dan ia menahan nafas tanpa sadar.
"Ya... Ya bisa" jawab Mini gugup.
"Aku tidak yakin" goda Gio "Apa yang harus kita lakukan sekarang..." Gio melangkah mundur dan menjauhkan wajah nya dari wajah Mini membuat Mini langsung mengambil nafas sebanyak mungkin "Bagaiamana kalau kita latihan malam pertama sekarang?" tanya Gio kemudian dengan nada menggoda membuat Mini langsung melemparkan tatapan tajam nya.
__ADS_1
"Dasar mesum!!!"
"Cuma beberapa hari lagi, apa salah nya kalau di maju kan, hmm?" Gio kembali menggoda dan me naik-turun kan alis nya.
"Enak saja, latihan saja sendiri sana" ketus Mini dan ia pun segera pergi dari dapur, bahkan dengan sengaja ia menyenggol Gio saat melewati nya.
.........
"Kita pergi ke Jakarta..."
"Yey... Yey... Yey..."
"Pergi ke Jakarta, bersama adik Lora"
"Naik pesawat, ngeeenggggg...."
Micheal berlarian di rumah nya sembari memainkan pesawat-pesawatan nya yang ia bawa dari Jakarta.
"Maaf ya, Om Ustadz" kata Micheal dan Ustadz itu hanya tersenyum kemudian menganggukkan kepala nya.
Micheal kembali berlarian dan kemudian ia masuk ke dalam kamar orang tua nya, di sana ia melihat Mommy Firda nya yang sedang menyusun barang barang Lora Jibril ke koper karena besok mereka akan berangkat ke Jakarta.
"Mommy, apa semua nya sudah siap?" tanya Micheal yang sudah seperti orang dewasa saja.
"Sebentar lagi" kata Firda.
"Mommy, nanti di sana kita jalan jalan ya" seru Micheal dan ia pun naik ke atas ranjang, duduk bersila di depan adik nya itu dan kemudian ia bernyanyi sambil bertepuk tangan.
"Siapa suka adik Lora tepuk tangan..."
__ADS_1
Plok Plok
"Siapa yang suka adik Lora, mari kita bermain. Siapa suka adik Lora tepuk tangan"
Plok Plok Plok
Firda hanya tertawa mendengar nyanyian putra tiri nya itu.
"Lebih baik lagu nya begini...." kata Firda setelah ia menutup koper nya, Firda naik ke atas ranjang dan duduk di sisi Lora Jibril.
"Tepuk rukun Islam..." Firda dan Micheal pun bertepuk tangan bersamaan. Sebanyak dua kali
"Rukun islam, ada lima"
"Satu, syahadat..."
"Dua, sholat... "
"Tiga, Zakat..."
"Empat, puasa..."
"Lima, haji..."
"La Ilaha Illa Allah, Muhammad Rasulullah"
"Horee...." kedua nya pun bertepuk tangan dengan meriah bahkan sekarang Lora Jibril ikut tertawa meskipun tentu saja ia tak mengerti apa yang di lakukan para orang tua itu.
"Micheal hafal kan lagi itu?" tanya Firda.
__ADS_1
"Hafal setengah saja, Mommy" jawab Micheal namun tentu ia tak terlihat sedih.
"Tidak apa apa, nanti Mommy ajarin"