
"Siapa?" tanya Gabriel panik "Siapa yang mencoba melacak keberadaan mu?"
"Aku..."
Gabriel langsung mendongak dan mendapati Gio dan satu anak buah nya muncul dari balik pintu.
"Siapa itu, Bang?"
"Bukan siapa siapa, Sayang..." jawab Gabriel dan pandangan nya menatap tajam Gio yang justru tersenyum.
"Apa itu Firda?" tanya nya, ia melangkah cepat dan sebelum Gabriel menjawab, tiba tiba Gio langsung merampas ponsel Gabriel dan menempelkan ponsel itu ke telinga nya sendiri.
"Nyonya Firda, ini aku, Gio..." seru Gio dengan mata yang berbinar dan tentu itu membuat Gabriel menggeram kesal.
"Hey, kembalikan ponsel ku!!!" tegas Gabriel namun Gio tak mengindahkan nya apa lagi ketika mendengar suara girang sang Nyonya muda.
"Gio? Beneran ini kamu?" dari nada bicara Firda, Gio sudah tahu kalau Nyonya Muda nya itu sangat senang berbicara dengan nya dan itu membuat Gio juga senang bahkan bahagia, Gio pun me load speakers panggilan Firda agar Gabriel mendengar nya juga.
"Benar, Nyonya Firda. Ini aku..." kata Gio sambil tersenyum puas.
"Ya Allah, Gio. Kamu kemana saja? Kok hilang kabar?" Gio terkekeh mendengar pertanyaan wanita mungil itu, sementara Gabriel hanya bisa menggeram tertahan.
"Aku hanya takut menganggu mu dan suami mu, Nyonya Firda..." jawab Gio sementara ekor mata nya melirik Gabriel.
"Memang ada perlu apa kau menemui ku?" tanya Gabriel dengan begitu dingin nya dan ia hendak mengambil kembali ponsel nya namun Gio mencegah nya.
"Aku hanya ingin berkunjung ke rumah Nyonya Firda, aku ingin tahu dimana desa nya" kata Gio yang justru membuat Gabriel semakin kesal seperti nya. Beda hal nya dengan Firda yang tampak nya sangat senang.
"Gio, kamu mau kesini? Ya udah, kesini cepetan. Bawain aku oleh oleh yang banyak yaaa" seru Firda dari seberang telpon yang membuat Gabriel mendengus.
"Sayang, kamu memang nya mau apa? Biar nanti aku saja yang belikan..." seru Gabriel yang membuat Gio mencebikan bibir nya.
"Baik, Nyonya Firda. Katakan saja apa yang kau mau, aku akan membelikan semua nya" Jawab Gio tak lupa menampilkan senyum puas nya pada Gabriel.
"Eh tapi tunggu dulu..." ujar Firda kemudian "Bang Gabriel, Gio boleh main ke desa?" tanya Firda dengan nada yang begitu lembut, yang justru membuat Gabriel membalas Gio dengan senyum puas di bibir nya karena Gabriel mengenal Firda, yang takkan melakukan apapun tanpa izin dari Gabriel dan akan selalu meminta izin pada Gabriel dalam segala hal.
"Tidak boleh, Sayang. Tidak ada suami kamu di sana, nanti terjadi fitnah" kata Gabriel tegas dan percaya diri, tentu hal itu membuat Gio mendengus.
__ADS_1
"Jangan begitulah, Abang Gabriel. Kan di rumah banyak orang, ada Kakek, Nenek, Abi, Ummi, Om, Tante. Tidak akan terjadi fitnah. Terus ada Ustadz juga, Gio bisa tinggal di kediaman para Ustadz" suara Firda terdengar merajuk di seberang telfon dan itu kembali membuat senyum puas tercetak di bibir Gio, dan tentu itu kembali membuat Gabriel mendengus.
"Nanti saja ya, Sayang. Kalau aku sudah pulang, sekalian aku ajak Gio, bagaimana?" Gabriel menawarkan solusi.
"Tapi nanti kemungkinan aku akan sibuk..." sambung Gio menginterupsi "Hanya minggu ini aku punya waktu kosong" lanjut nya lagi.
"Ya sudah, ke desa saja minggu ini. Di izinin kan, Bang?" bujuk Firda.
"Tidak" jawab Gabriel tegas yang membuat Gio langsung menatap tajam pada nya nya.
"Hem, ya sudah deh..." terdengar suara pasrah Firda dari sana.
"Nyonya Firda..." seru Gio kemudian "Tadi aku menghubungi mu, tapi kamu tidak menjawab nya, itu nomor ponsel ku" tukas Gio mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh, jadi itu nomor mu, Gio? Astagfirullah, aku fikir siapa, sudah was was aku" seru Firda.
"Iya, itu nomor ku. Baiklah, nanti aku akan menghubungi mu lagi ya. Sekarang ada urusan yang harus aku selesaikan dengan Don Gabriel" kata Gio melirik Gabriel.
Gabriel dengan kasar langsung merampas ponsel nya dari tangan Gio, Gabriel kembali me non aktifkan load speakers nya.
"Sayang, sebagai suami aku tidak mengizinkan mu berbicara dengan lawan jenis mu. Mengerti?" tegas nya. Tak terdengar jawaban dari Firda selama beberapa saat, namun Gabriel menunggu dengan sabar. Hingga kembali terdengar suara Firda.
Ternyata memang benar, tipu daya perempuan itu memang dahsyat, fikir nya.
"Baiklah, kamu boleh bicara dengan nya asal jangan banyak banyak" akhir nya Gabriel mengalah yang tentu saja membuat Firda senang.
"Okey, Abang. Terima kasih, Love you. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam, Sayang.."
Setelah panggilan telepon nya terputus, Gabriel memasukan ponsel itu ke dalam saku nya dan ia kembali menatap Gio.
"Aku hanya ingin mengunjungi nya, dulu kemana mana dia selalu sama aku, belajar bela diri juga sama aku, selain teman, aku juga guru nya.." kata Gio dengan santai nya namun tentu saja Gabriel tak mau kalah begitu saja dari bocah di depan nya ini.
"Dan aku suami nya, pria yang di cintai nya, lalu kenapa aku harus mengizinkan mu menemui nya? Bagaimana kalau nanti kamu mau mengambil nya dari ku?" tanya Gabriel dengan nada angkuh nya.
"Karena aku adalah orang yang Selalu ada untuk Firda saat dia dalam bahaya meskipun aku bukan pria yang di cintai nya" kata Gio yang membuat Gabriel langsung mengeraskan rahang nya. Karena memang benar, Gio yang menyelamatkan Firda dari anak buah Edward, Gio merawat Firda dengan sangat baik padahal sebelumnya Gio menargetkan Firda untuk balas dendam.
__ADS_1
"Karena itu memang tugas mu sebagai bodyguard" tukas Gabriel kemudian yang tak mau kalah.
"Ya, bodyguard badungan..." kata Gio sambil terkekeh namun kemudian ia pun tersenyum dan berkata "Abang Gabriel..." Gabriel tentu langsung melotot terkejut mendengar panggilan Gio yang terdengar sangat menggelikan itu di telinga nya.
"Menjijikan..." desis Gabriel yang justru membuat Gio semakin terkekeh.
"Berikan aku alamat Firda, selengkap mungkin. Besok pagi aku akan ke sana. Aku tidak akan merebut nya dari mu, seluruh dunia ini tahu dia hanya mencintai mu" rayu nya.
"Tidak tidak, aku tidak mengizinkan mu" kekeh Gabriel.
"Hem kalau begitu, aku akan bilang pada Firda, kalau kamu tidak mau menjalin hubungan yang baik dengan ku karena kamu masih menganggap ku musuh mu"
"Itu fitnah..."
"Kamu tahu, di dunia kita tidak ada kata fitnah, hanya ada kata manipulasi dan itu hal yang biasa"
"Benar benar kamu ya, tidak pernah taubat"
Gio kembali terkekeh mendengar ucapan Gabriel, padahal dia datang hanya untuk menanyakan dimana desa Firda, tapi kenapa malah terjadi drama tak penting seperti ini?
"Dasar pemaksa" geram Gabriel, kemudian ia mengambil sebuah kertas note dan pena, menuliskan nama desa Firda, lengkap dengan alamat rumah nya. Tak hanya itu, ia juga menuliskan beberapa aturan untuk Gio. Setelah itu, ia memberikan kertas itu pada Gio, saat Gio membaca nya, ia hanya bisa menganga.
*Aturan yang harus di patuhi
Tidak boleh berduaan dengan Firda
Tidak boleh berdekatan dengan Firda, minimal dengan jarak 1 meter
Tidak boleh bicara banyak banyak dengan Firda.
Tidak boleh menatap wajah Firda, baik dari kejauhan apa lagi dari dekat.
Tidak boleh tinggal di rumah mertua, harus tinggal di area sekolah*.
__ADS_1
"It's so crazy" geram Gio namun Gabriel hanya mengedikan bahu nya acuh.