Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Episode 143 - Beratnya Menjadi Istri Don


__ADS_3

Firda mengetuk ngetukan jari nya di atas bantal, saat ini ia sedang duduk bersila di tengah ranjang sembari terus memikirkan Gabriel dan Micheal. Firda menghela nafas berat, seperti nya ia sudah salah karena sudah mendorong Micheal agar datang ke desa nya.


"Ya pasti lah Kak Angel itu cemburu kalau anak nya pergi ke rumah Ibu tiri nya..." monolog nya.


"Eh tunggu, dia cemburu atau khawatir ya? Khawatir takut aku kejam sama anak nya? Cerita yang berdedar itu kan ibu tiri lebih kejam dari ibu kota..." gumam nya kemudian.


"Aduh, gara gara hidup sama Mafia aku jadi was was terus..." ia melempar bantal nya dan beranjak turun dari atas ranjang.


Firda keluar dari kamar nya untuk menikmati hari yang sudah sore, angin membeli wajah nya dengan begitu lembut. Firda tersenyum dan ia membayangkan akan tinggal di desa ini bersama Gabriel dan anak anak mereka, Firda tak sabar menunggu hidup nya kembali normal seperti orang lain.


"Ning..."


"Ning Firda..."


"Apa, Ummi?" seru Firda saat Ibu nya itu memanggil nya dengan panggilan yang tidak biasa.


"Sini deh, Ning..."


Firda pun berjalan mengikuti arah suara Ibu nya yang berasal dari kamar nya, Firda masuk dan ia melihat Ibu nya yang sedang fokus pada ponsel nya.


"Astagfirullah..." pekik Firda ketika ia melihat Ibu nya menonton film Mafia.

__ADS_1


"Kenapa Ummi nonton begituan, ih?" tanya Firda meringis.


"Hidup Gabriel tuh begini ya, Fir?" tanya Ummi nya antusias membuat Firda semakin meringis "Terus kalian sering melakukan meeting dengan para geng Mafia? Bagaimana rasa nya, Fir? Tegang ya? Terus mereka memang wajah nya galak galak begini, Fir?"


Firda hanya bisa garuk garuk tengkuk nya, bingung harus menjawab pertanyaan Ibu nya dari mana.


"Ummi, jangan nonton film kekerasan ya, tidak boleh" kata Firda.


"Kamu saja sering nonton, Fir. Padahal ini termasuk 21+ lho" seru Ummi nya yang membuat Firda cengengesan.


"Ya kan sekarang Firda sudah taubat, dengan taubatan nasuha..." ujar Firda.


"Firda, kamu sedang apa di sini?" tanya Abi nya yang baru masuk ke kamar nya, dan melihat suami nya datang, Ummi Aisyah langsung mematikan ponsel nya yang tadi masih memutar film Mafia.


"Cuma ngobrol sama Ummi..." Jawab Firda pada akhirnya dan itu bukan jawaban dusta.


"Hem begitu, hari sudah petang. Nyalakan lampu sama tutup semua jendela ya, jangan di kamar terus..." ujar Abi nya kemudian ia mengambil sebuah sorban yang tergantung di belakang pintu.


"Mau kemana, Bi?" tanya Firda.


"Di ajak Abi ke rumah Rohim, kata nya anak nya mau masuk pesantren dan mau slametan dulu" jawab nya dan Firda hanya mengangguk mengerti.

__ADS_1


Setelah Abi nya pergi, Ummi Aisyah langsung bernafas lega. Sebenarnya suami nya itu tidak marah meskipun Ummi Aisyah menonton Film tapi biasa nya dia akan marah jika film yang di tonton tidak seharusnya di tonton oleh Ibu ibu seperti diri nya. Ummi Aisyah akan di ceramahi panjang lebar supaya menonton tausiyah saja kata nya.


"Jadi gimana, Ummi? Masih penasaran sama jawaban nya?" tanya Firda dan Ibu nya itu mengangguk, membuat Firda terkekeh.


"Jadi, hidup di lingkungan Mafia itu memang tegang, Ummi. Setiap hari adrenaline itu terpacu..." kata Firda sembari berjalan duduk di sofa, supaya lebih enak cerita nya "Dan membunuh itu benar benar hal yang sangat mudah. kalau kita ya, membentak orang saja sudah membuat hati kita resah gelisah, tidak bisa tidur, merasa bersalah, tapi kalau mereka, Astagfirullah..." Firda mengusap dada nya yang kembali bergetar saat mengingat pertama kali ia mendapatkan serangan yang hampir membuat nyawa nya melayang, kemudian ia teringat bagaimana diri nya membunuh seseorang saat dalam perjalanan ke bandara. Firda tertunduk sedih, ia menatap kedua tangan nya yang telah berbuat dosa dengan menghilangkan nyawa seseorang. Nafas nya tercekat di tenggorokan nya.


"Firda bahkan..." ia menelan saliva nya dengan susah payah "Firda juga sudah membunuh seseorang, Ummi..." air mata menetes dari kedua sudut mata nya tanpa bisa ia cegah dan Firda langsung menghapus nya.


Mungkin Firda selama masih terlihat tersenyum di rumah nya, masih tampak ceria apa lagi setiap kali keluarga nya membicarakan kehamilan Firda. Sementara Ummi Aisyah mendengarkan Firda dengan seksama, ia melihat kedua mata anak nya yang merah dan berkaca kaca.


"Setiap malam Firda akan teringat dengan wajah pria itu, Firda tidak tahu apakah Allah mau memaafkan Firda... Hiks...." tangis nya pecah dan Ummi Aisyah langsung merengkuh Firda kedalam pelukan nya.


"Kamu melakukan nya untuk membela diri, Nak..." hibur nya namun Firda masih menangis sesegukan.


"Tapi Firda sudah membunuh, dosa yang sangat besar..." lirih nya terbata bata.


Terdengar suara ceklekan pintu dan perlahan pintu terbuka, yang membuat Firda dan Ummi Aisyah terkejut dan ternyata yang datang adalah Abi Farhan.


"Putri Abi..." seru Ayah nya itu dan ia merengkuh dua wanita yang menjadi jantung dan hati nya. Yang menjadi sumber semangat dan sumber kebahagiaan nya. Abi Farhan sudah mendengar cerita Firda dan itu membuat nya begitu prihatin dengan putri semata wayang nya itu, yang dulu nya seorang gadis ceria, manja dan penyayang bahkan bahkan pada hewan sekalipun. Dulu Firda tidak pernah mengangkat suara nya dengan lantang pada siapapun termasuk pada anak anak, tapi sekarang ia dengan sangat terpaksa harus mengangkat tangan nya yang memegang senjata demi melindungi diri.


"Maafin, Firda. Abi, Ummi... Maafin Firda yang sudah melakukan dosa..." lirih nya, Ummi Aisyah juga tak sanggup menahan air mata nya menyadari beban yang di pikul putri kecil nya.

__ADS_1


"Memohon ampun lah, Nak..." ayah nya berkata dengan lembut "Ampunan Allah itu begitu luas, Sayang. Semoga Allah juga mengampuni pria itu dan menempatkan nya di surga Nya..." Firda hanya bisa mengangguk lemah dan ia masih terisak.


"Ya Allah, ampunan mu begitu luas. Maka sahaya kecil ku ini memohon kepada Mu, ampuni aku, hapus lah dosa ku, terima lah taubat ku. Dan ringankan lah penderitaan ku, karena begitu berat rasa nya menjadi istri seorang Don. Bimbinglah kami agar keluar dari lingkaran kegelapan ini, berikanlah cahaya Mu agar kami bisa memiliki kehidupan yang lebih baik dan lebih terarah"


__ADS_2