
"Masih ada bisnis Om Gabriel yg belum kita datangi?" tanya Firda sembari mendongak untuk bisa menatap Gabriel yg saat ini menggandeng Firda menuju mobil.
"Ada..." jawab Gabriel sembari membukakan pintu untuk Firda, mempersilahkan Firda masuk kemudian ia pun menusul nya.
"Apa?" tanya Firda saat Gabriel duduk di samping nya.
"Club..." jawab Gabriel enteng yg membuat Firda terkejut.
"Apa?" pekik nya.
"Aku tidak mungkin membawa mu kesana..." jawab Gabriel enteng.
"Memang nya club apa?" tanya Firda penasaran.
Kini mobil sudah melaju ke jalan yg tak pernah Firda lewati sebelumnya, sesekali Firda melirik keluar jendela, ingin mengenali jalan yg ia lewati itu.
"Club yg tidak mungkin pernah kamu datangi..." jawab Gabriel.
"Iya tapi club apa? Club sepak bola kah? Club golf, atau club yg mana?"
"Bukan club semacam itu, Firda" jawab Gabriel, kemudian ia mengambil laptop nya, membuka nya dan memberikan nya pada Firda.
"Ini club milik ku..." seru Gabriel dan Firda melihat sebuah foto gedung dengan tulisan Club House Emr, Firda menggeser foto nya dan seketika ia menganga saat melihat foto sebuah diskotik, saat kosong dan saat ada banyak orang. Bahkan ada video nya juga, orang yg menari ria dan tampak mabuk, dengan musik yg pasti menulikan tersingkap dan kerlap kerlip lampu yg pastinya membuat pusing.
Firda menggeser foto lagi dan Firda melihat sebuah ruangan dengan meja besar dan panjang yg di kelilingi beberapa kursi.
"Ini untuk apa?" tanya Firda dan Gabriel mengintip ke layar laptop nya.
"Ruang kasino...." jawab Gabriel santai namun itu berhasil membuat Firda terpekik kaget lagi.
"Apa? Om punya usaha beginian, Om?" pekik nya.
"Iya" jawab Gabriel dan seketika tubuh Firda terasa lemas, ia menyenderkan punggung nya ke sandaran kursi.
"Aku tahu, orang orang seperti mu tidak akan mendatangi tempat seperti itu. Jadi tenang saja, aku tidak akan membawa mu kesana, itu hanya sebagian kecil dari bisnis ku" ujar Gabriel sembari menyunggingkan senyum nya sementara Firda hanya bisa cengengesan namun ia juga tampak meringis.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam, mobil memasuki sebuah Resort yg bertuliskan Emr'S Resort.
Kedatangan Gabriel dan Firda tentu juga di sambut dengan hormat.
"Malam ini kita menginap di sini ya, besok pagi baru pulang" ajak Gabriel dan Firda hanya mengangguk pelan.
Firda masih terbayang dengan club yg di miliki suami nya itu, berisi diskotik dan kasino, dimana kedua nya tentu bukan lah hal yg baik menurut agama yg di anut nya.
__ADS_1
Gabriel membawa Firda ke sebuah kamar eksekutif, lagi lagi Firda di buat takjub dengan kemegahan itu. Maklum saja, Firda adalah gadis desa yg biasa hidup dengan alam yg asri dan ia dari keluarga yg standart. Tapi seharian ini Gabriel memperlihatkan sebuah kekayaan dunia bisnis yg tak pernah terbersit sedikitpun dalam benak Firda.
"Mau mandi?" tanya Gabriel karena hari sudah sore.
"Engga bawa baju ganti..." jawab Firda dengan suara rendah, ia duduk di tepi ranjang sembari menepuk ranjang itu, sangat empuk, fikir nya.
"Gampang saja, Firda. aku akan menyuruh orang mengantarkan pakaian untuk mu...." Jawab Gabriel sembari memandangi Firda dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Gabriel ingin menghabiskan malam ini bersama istrinya dengan ritual khusus suami istri, yg menggebu dan nikmat. Tak bisa Gabriel bayangkan akan betapa indah nya malam ini, apa lagi setelah ia berpuasa selama beberapa hari ini. Gabriel tak sabar ingin menyentuh setiap inci kulit bak susu sang istri.
Bahkan tubuh nya sampai meremang hanya karena memikirkan jari jari lentik sang istri yg akan menyentuh setiap jengkal kulit nya.
Firda yg tidak tahu fikiran mesum suami nya, ia malah melepaskan jilbab nya. Menggerai rambut nya, melepaskan laging ia pakai dan kemudian langsung melompat ke tengah ranjang, kemudian berguling ria ke kanan ke kiri. Membuat dress nya tersingkap hingga menampilkan kaki jenjang nya. Pemandangan itu membuat jakun Gabriel naik turun dan pandangan nya terasa menggelap.
"Ugh, empuk nya..." seru Firda. Kemudian ia duduk, menyenderkan punggung nya di sandaran ranjang.
"Fir..." Gabriel memanggil dengan suara serak nya, ia duduk di tepi ranjang, berhadapan dengan istri nya.
Firda menatap Gabriel dengan lembut, membuat hasrat dalam diri Gabriel semakin menggeliat nakal.
"Kenapa.... Gab?" tanya Firda yg membuat telinga Gabriel tergoda dengan nama panggilan singkat nya itu.
"Aku..." Gabriel menggenggam tangan Firda, mengecup nya dengan lembut dan tatapan nya lurus menatap tepat di mata Firda, membuat Firda gugup dan merona dalam waktu bersamaan.
Menyadari keinginan sang suami, Firda meringis. Ia menatap suami nya dengan tatapan bersalah.
"Gab... Em Gabriel...." Firda berkata dengan gugup, entah karena Firda belajar memanggil suami nya dengan nama atau karena ia harus menolak keinginan sang suami.
"Ya, Firda?"
"Aku, em...malam ini belum bisa" ucap Firda masih mempertahankan tatapan nya dengan sang suami.
"Kenapa? Kamu takut aku kasar lagi?" tanya Gabriel dan ia tampak menyesal, pandangan nya tampak begitu sendu dan jujur saja Firda sangat menyukai tatapan Gabriel yg seperti itu.
"Aku akan berusaha mengendalikan diri, Firda. Aku janji...." rengek Gabriel kemudian yg membuat Firda merasa gemas, karena Gabriel seperti anak anak yg meminta mainan baru dan berjanji akan menjadi anak yg baik.
"Bukan masalah itu, hanya saja aku lagi dapat" ujar Firda lembut, berharap suami nya tidak merajuk.
"Dapat apa?" tanya Gabriel dengan polos nya yg membuat Firda memndengus.
"Lagi dapat tamu bulanan" jawab Firda lagi.
"Tamu bulanan? Siapa?" tanya Gabriel lagi yg membuat Firda menghela nafas berat.
__ADS_1
"Om engga faham?" tanya Firda yg mulai jengkel dan Gabriel menggeleng "Astagfirullah, Om..." geram nya, antara gemas dan kesal
"Aku lagi haid, mens, menstruasi, berdarah" ujar nya kemudian yg membuat Gabriel melongo kecewa.
"Jadi sekarang tidak bisa?" Gabriel berusaha bersikap tenang tapi Firda tetap menangkap gelagat merajuk nya.
"Belum bisa" jawab Firda.
"Sampai kapan?" tanya Gabriel dan ia memajukan bibir nya, ia tampak sangat kecewa.
"Sampai minggu depan" jawab Firda dan seketika raut wajah Gabriel langsung layu, seperti bunga yg di siram air panas. Dan kini ia benar benar merajuk, membuat Firda tertawa geli.
"Om Gabriel menggemaskan..." ujar Firda sembari memainkan bibir Gabriel yg masih manyun.
"Satu minggu itu lama sekali..." rengek Gabriel lagi.
''Jangan merajuk begitu ah, sini biar aku peluk..." bujuk Firda dan seperti bayi yg di panggil ibu nya untuk di susui, Gabriel langsung menjatuhkan diri nya di pelukan Firda. Membuat Firda tertawa geli. Firda pun melingkarkan tangan nya di pundak sang suami, dan sesekali mengelus nya lembut. Sementara Gabriel melingkarkan tangan nya di perut Firda dengan erat.
"Om, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Firda lembut dan Gabriel mengangguk di pelukan Firda "Sejak kapan Om memiliki Club itu?
"Itu warisan... " jawab Gabriel dan ia memejamkan mata saat merasakan hangat nya pelukan sang istri.
"Usaha mu sudah sangat banyak, Om. Bahkan kekayaan mu mungkin tidak akan habis sampai tujuh turunan..." ujar Firda lagi dan Gabriel merespon nya dengan gumaman.
"Hmmm..."
"Om, apa Om Gabriel benar benar bisa menerima ku sebagai istri?"
"Tentu saja, dan itu seperti sebuah anugerah bagi ku"
"Kenapa?"
"Karena kamu baik, lucu, menggemaskan, jujur, apa ada nya, perduli pada ku dan kamu faham agama dengan sangat baik, anak anakku pasti akan sangat beruntung memiliki ibu yg sempurna seperti mu, kamu pasti bisa mendidik nya dengan baik" Firda tersenyum samar mendengar ungkapan Gabriel, meskipun ia merasa Gabriel berlebihan karena Firda tahu dengan pasti ia tidak sesempurna itu.
"Om, ada beberapa hal yg di larang dalam agama kita, dan alangkah baik nya kita menjauhi hal itu maupun yg berhubungan dengan hal itu"
"Apa saja hal itu?" tanya Gabriel masih memejamkan mata.
"Judi dan miras..." Gabriel langsung mendongak saat mendengar apa yg di katakan Firda, ia menatap Firda dan itu membuat Firda merasa bersalah karena sudah menyinggung istri nya "Om Gabriel jangan tersinggung dulu, aku mengatakan semua ini karena aku peduli sama Om. Om suami ku, dan sebagai istri aku berkewajiban untuk mengingatkan jika.... "
"Jadi maksud mu aku tidak seharusnya memiliki club itu?" tanya Gabriel dan ia tampak dingin.
"Om, itu tidak baik..." Firda berkata setengah berbisik.
__ADS_1
"Kamu mengerti apa soal bisnis?"