Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 41 - Penjahat Di Rumah Om Gabriel?


__ADS_3

Firda terbangun saat merasakan desakan di ranjang nya dan ia mencium aroma Gabriel yg semakin menyengat. Firda mengerjapkan mata nya dan melihat Gabriel yg berbaring di samping nya dengan berbantalkan kedua lengan nya di belakang kepala.


"Sudah pulang?" tanya Firda dengan suara serak sembari mengucek mata nya.


"Sudah, maaf aku membangunkan mu. Dan maaf karena kita tidak sempat ke Dokter" ujar Gabriel.


"Tidak apa apa, kita bisa pergi besok" ujar Firda yg mencoba mengerti posisi Gabriel sebagai pengusaha yang pasti sibuk "Oh ya, jam berapa sekarang ?" ia bertanya sembari melirik jam dinding yg menunjukan pukul 00.15 "Kamu baru pulang tengah begini?" tanya Firda.


"Tidak, aku sudah pulang dari tadi. Tapi karena aku melihat mu tidur, aku jadi tidak masuk kamar dan aku melanjutkan pekerjaan ku di ruang kerja" jawab Gabriel jujur. Karena ia memang langsung dari Black Royal tadi dan saat sampai di rumah dan mengecek Firda di kamar nya, ia mendapati Firda yg sedang tertidur pulas.


"Hm begitu, aku belum sholat isya. Kamu sudah sholat belum?" tanya Firda dan Gabriel menggeleng sembari menguap.


"Sholat dulu" ajak Firda.


"Tapi aku mengantuk, Fir" ujar Gabriel malas.


"Sholat engga sampai 10 menit, ayo..." bujuk Firda lagi dan mau tak mau Gabriel pun ikut perintah Firda untuk sholat.


Firda membuka koper nya yg belum sempat ia bereskan isi nya, Gabriel terkejut saat melihat yg ada dalam koper Firda ternyata adalah buku yg sangat banyak. Padahal Gabriel sempat berfikir mungkin Firda membawa pakaian yg sangat banyak, alat alat mandi nya mau pun barang barang untuk perawatan diri seperti wanita pada umumnya.


Gabriel masih mengintip Firda yg mengeluarkan isi koper nya. Para pelayan memang tidak membereskan barang Firda karena mereka memang di larang memasuki Gabriel tanpa perintah langsung dari Gabriel. Dan seperti nya Gabriel harus memberikan aturan baru, yaitu perintah Nyonya Emerson sama dengan perintah Tuan Emerson.


"Kenapa kamu tidak meminta pelayan membereskan barang mu, Fir?" tanya Gabriel.


"Aku kan masih tidak tahu barang barang ku harus di taruh di mana" jawab Firda.


"Baiklah, besok aku akan membelikan lemari baru untuk barang mu" ujar Gabriel yg membuat Firda tertawa kecil.


"Engga usah, memang nya lemari mu engga ada yg kosong. Aku cuma bawa barang sedikit"

__ADS_1


"Seperti nya ada" jawab Gabriel.


Firda menghamparkan sejadah nya dan meletakkan tasbih juga mukena nya di atas sejadah nya, ia juga menghamparkan satu sejadah lagi untuk Gabriel di sampingnya.


Setelah itu, Firda dan Gabriel mengambil wudhu bergantian. Yg di lanjutkan sholat bersama namun bukan sholat berjemaah, karena Gabriel yg masih tak memungkinkan untuk menjadi imam Firda.


Setelah sholat, Firda memimpin berdizkir dan berdoa. Setelah selesai, Firda mempersilahkan Gabriel untuk beristirahat sementara ia ingin melanjutkan sholat nya dengan sholat tajahud.


"Kamu mau sholat lagi?" tanya Gabriel yg melihat Firda kembali hendak bertakbir.


"Iya, aku mau sholat tahajud" jawab Firda "Kamu istirahat saja, katanya mengantuk" lanjut nya.


"Kenapa kamu tidak mengajak ku sholat yg ini? Kamu marah sama aku ya karena aku tidak membawa mu ke dokter?" tanya Gabriel dan ia tampak merajuk, membuat Firda langsung menatap nya heran.


"Pertanyaan macam apa itu?" tanya Firda sembari memicingkan mata nya menatap Gabriel "Aku tidak mengajak kamu sholat karena kamu bilang mengantuk, terus karena sholat tahajud itu di lakukan setelah tidur. Sementara kamu kan belum tidur" papar Firda berharap Gabriel mengerti maksud nya, ia sama sekali tidak menyangka Gabriel akan melontarkan pertanyaan konyol seperti itu.


"Tapi aku ingin sholat seperti mu..." ujar kemudian.


Firda merasa heran dengan Gabriel, ia jadi meragukan kejahatan Gabriel pada nya. Bersama Firda, Gabriel seperti anak anak yg begitu polos dan hanya butuh bimbingan, bahkan kian hari sikap Gabriel semakin berubah. Tampak lunak pada Firda, atau mungkin karena ia masih merasa bersalah?


Mengusir semua pemikiran liar itu, Firda menggeleng kan kepala nya dan ia fokus untuk menghadap Rabb nya.


.........


Keesokan hari nya, Firda keluar dari kamar saat mentari sudah terbit dan memancarkan cahaya hangat nya. Sementara Gabriel tadi tidur lagi setelah sholat subuh.


Firda keluar dari mansion itu untuk menghirup udara segar dan merasakan sinar mentari, ada sebuah taman dengan rerumputan yg hijau di samping rumah Gabriel. Firda melepaskan sandal nya dan berjalan di atas rerumputan yg masih berembun.


Saat sedang asyik jalan jalan di taman itu, tiba tiba Firda mendengar suara seperti seseorang sedang menyiapkan senjata. Jangan tanya dari mana Firda tahu, tentu saja dari beberapa film Action yg pernah ia tonton. Firda mendekati asal suara itu dan ia melihat seorang pemuda yg sedang memegang senjata dan ia seperti berniat menembak.

__ADS_1


Melihat itu reflek Firda langsung berteriak histeris dan bahkan tanpa sadar ia memanggil Gabriel dengan sebutan Om.


"OM GABRIEL...." teriak Firda sembari berlari masuk ke dalam mansion, tak perduli kaki nya yg kotor dan menodai lantai yg sebelum nya tampak sangat bersih mengkilat.


Gio, yg sedang berlatih menembak di kejutkan dengan suara nyaring seorang gadis yg memanggil Don nya dengan sebutan Om. Gio pun berlari mengejar gadis itu karena setahu nya Don nya itu tidak punya keponakan. Dan sebagai bodyguard, tentu Gio sudah berfikir itu adalah penyusup.


Firda dan Gia kejar kejaran dan Gio berhasil menangkap Firda tepat saat Firda hendak menaiki tangga. Gio langsung menodongkan senjata nya pada Firda membuat Firda reflek angkat tangan. Firda tampak sangat terkejut dengan hal itu, mata nya terbuka lebar dan bahkan Firda menelan saliva nya dengan susah payah.


Gio yg berfikir Firda adalah penyusup pun langsung mengintimidasi Firda dengan tatapan nya dan semakin mendekati Firda saat Firda bergerak mundur.


"Siapa kamu?" tanya Gio tajam, Firda tak mampu menjawab nya karena ia sangat takut melihat Gio yg seperti penjahat menemukan korban nya. Firda melirik moncong senjata Gio yg mengarah tepat ke kepala nya. Ia takut dan karena itulah ia kembali berteriak...


"AAAHH, OM GABRIEL... ADA PENJAHAT DI RUMAH!!!!!" teriak Firda sekencang mungkin. Bahkan Gio harus menutup telinga nya karena suara nyaring Firda seperti akan memecahkan gendang telinga nya.


"Gio, turunkan senjata mu..." teriak Gabriel dari ujung tangga atas sana "Dia istri ku..." lanjut Gabriel sembari menuruni tangga. Gio pun langsung menurunkan senjata nya dan ia langsung menundukkan kepala nya di depan Fird meskipun Gio sebenar nya merasa tak percaya bahwa gadis kecil di depan nya ini adalah istri dari Don nya apa lagi gadis ini berhijab, tapi Gio selalu percaya apapun yg di katakan sang bos besar dan selalu patuh akan perintah nya


"Dia siapa?" tanya Firda dan ia berlari menaiki tangga, menghampiri Gabriel yg juga menuruni tangga.


"Dia Gio, salah satu bodyguard ku" jawab Gabriel "Jangan takut, Firda. Dia tidak akan menyakiti mu" ujar Gabriel yg bukan nya membuat Firda tenang malah membuat nya mendengus kesal.


"Tidak akan menyakiti ku kamu bilang?" seru Firda sembari berkacak pinggang "Dia menodongkan senjata tepat di kepala ku, Om..." lanjut nya dan tiba tiba Gabriel malah tersenyum. Karena setelah sekian lama, akhir nya Firda kembali mau memanggil nya dengan sebutan Om Gabriel.


"Malah senyum...." seru Firda kesal, sementara Gio masih menundukan kepala nya "Firda serius, Om. Itu senjata beneran apa bukan?" tanya Firda lagi.


"Bukan" jawab Gabriel yg membuat Gio mengernyit "Dia hanya sedang berlatih, untuk menjadi bodyguard memang harus bisa menggunakan senjata. Tapi senjata yg di pakai untuk latihan itu senjata mainan, jadi kamu tidak perlu takut, Firda"


Gio melotot terkejut mendengar ucapan Gabriel yg seperti nya hampir mencapai dua baris itu. Karena selama 10 tahun mengenal sang Don, Gio tidak pernah melihat atau mendengar Gabriel berbicara panjang lebar.


"Ohh begitu, bagus lah. Padahal sudah takut Firda tadi, ternyata cuma mainan" ucap Firda kemudian ia pun keluar untuk mengambil sandal nya yg tertinggal.

__ADS_1


"Kembali latihan, Gio. Tapi jangan sampai menimbulkan suara tembakan di sini. Inti nya, istri ku tidak boleh mendengar suara tembakan" titah Gabriel dan Gio pun mengangguk patuh.


"Di mengerti, Don Gabriel..."


__ADS_2