
"Lomba apa, Aira?" tanya Firda yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu. Aira langsung mendongak dan ia sangat terkejut melihat Ummi nya yang saat ini menatap Aira dengan sangat serius.
"Lomba apa? Kamu bicara apa?" tanya Firda yang kini berjalan masuk ke kamar Aira, Aira langsung menunduk takut dan sekarang Firda tahu ada yang di sembunyikan oleh putri nya.
"Aira..." tegas Firda dan seketika Aira kembali meneteskan air mata nya.
"Ma_maaf, Ummi" lirih Aira yang membuat Firda langsung mengernyit bingung.
"Sekarang cerita sama Ummi, ada apa sebenarnya?" tegas Firda lagi.
.........
Di halaman luar, Micheal bersama para adik adikny duduk bersama sambil membicarakan sesuatu tentang kehidupan mereka. Sekolah mereka dan sebagai nya. Beda hal nya dengan Jibril yang sejak tadi hanya diam dan memasang raut wajah seriusnya.
"Kenapa?" tanya Ezra yang melihat sepupu nya itu tampak memikirkan banyak hal.
"Iya, sejak tadi kamu melamun terus. Mikirin balikan pesantren?" sambung Al.
"Bukan, aku cuma memikirkan Aira" kata Jibril.
"Memang kenapa dengan gadis penunggang kuda itu?" tanya Al lagi.
"Iya, padahal Akshara sama si kembar cariin dia. Biasanya mereka main bersama, tapi sekarang Aira selalu ada di kamarnya" Ezra menimpali.
__ADS_1
"Sebenarnya kami pergi ke Jakarta itu bukan untuk liburan, tapi Aira mau ikut lomba pacuan kuda" ujar Jibril kemudian yang membuat saudara suadara nya itu terkejut begitu juga dengan Micheal. Micheal terkejut karena Jibril memberi tahu yang lain, sementara mereka sepakat untuk memberi tahu nanti. Saat suasana lebih tenang.
"Huh? Bagaimana bisa?" pekik Ezra.
"Memang nya di bolehin sama Tante dan om?" sambung Al.
"Tidak, kami tidak memberi tahunya kamu terpaksa berbohong" jawab Jibril jujur.
"Kita bukan berbohong, Dek. Cuma tidak memberi tahu" Micheal meralat dengan cepat.
"Terus? Om dan Tante sudah tahu?" tanya Ezra.
"Pasti di marahin habis habisan" sambung Al.
"Sudah, jangan jadi provokasi" seru Jibril " Aku mau ke kamar Aira dulu, kalian siap siap makan malam" seru Jibril kemudian ia pun bergegas ke kamar Aira.
.........
Di kamar Aira, Firda menarik nafas panjang beberapa kali setelah mendengar cerita Aira.
Aira telah menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat sedikitpun sambil menangis sesegukan, Maryam yang mendengar cerita Aira pun tak kalah tak terkejutnya. Tak menyangka dengan keberanian Aira yang masih gadis remaja.
"Maafin Aira ya, Ummi. Aira benar benar menyesal" lirih Aira untuk yang ke sekian kali nya, ia sangat takut jika Ummi nya itu marah "Jangan marahi Kak Micheal dan Kak Jibril ya, ini semua karena Aira" lanjutnya.
__ADS_1
"Aira..." Firda menggeram tertahan.
"Firda..." terdengar suara teriakan Afsana dari luar yang di iringi langkah kaki yang semakin mendekat.
"Biar aku yang keluar, kalian bicara saja" kata Maryam pada Firda dan Firda hanya mengangguk pelan.
Maryam pun segera bergegas keluar "Dimana Firda? Anak anak sudah mau makan" kata Afsana.
"Nanti dia nyusul, kita makan duluan saja" ajak Maryam kemudian menarik tangan Afsana untuk pergi dari sana dan mereka berdua berpapasan dengan Jibril.
"Mau kemana?" tanya Maryam.
"Ke kamar Aira, Tante" jawab Jibril dengan suara datarnya.
"Jangan, lebih baik makan malam" ucap Maryam.
"Kenapa?" tanya Gabriel menatap Tante nya itu.
"Aira lagi bicara serius sama Ummi mu" jawab Maryam lagi.
"Apa ada masalah?" tanya Afasana penasaran.
"Biasalah, masalah Ibu dan anak" jawab Maryam dan mendengar itu, tentu Jibril khawatir dengan adiknya itu. Ia pun hendak pergi lagi namun Maryam kembali mencegah nya.
__ADS_1
"Jibril, jangan ganggu mereka" tegas Maryam "Kecuali..." Maryam menatap Jibril dengan serius kemudian berkata.
"Panggil Kakak mu dan Daddy mu"