Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 248 - Sulitnya Ikhlas & Sabar


__ADS_3

Ummi Aisyah dan keluarganya sangat terkejut saat polisi memberi tahu bahwa Firda lah yang menusuk leher Edward sebanyak tiga kali. Sementara Gabriel justru merasa marah pada Raisa, dan ia hampir saja membunuh Raisa yang telah memberikan informasi itu pada polisi namun beruntung keluarga nya masih bisa menahan Gabriel dan menenangkannya.


"Apa artinya Firda juga akan di seret dalam kasus ini? Apakah dia akan di hukum?" lirih Ummi Aisyah yang kembali merasakan ketakutan akan bahaya pada putrinya.


"Tidak akan, Tante" jawab Gio "Aku tidak akan membiarkan Firda di tahan, kami akan mengurus masalah ini secepatnya"


"Tidak, Gio" sambung sang Kakek "Biarkan ini menjadi urusan polisi, Firda tidak bersalah jadi tidak akan ada yang menghukumnya. Kebenaran itu akan segera terungkap, karena Allah tahu apa yang di lakukan Firda hanya untuk melindungi dirinya sendiri"


Sementara Gabriel, sekarang ia hanya bisa berbaring di atas bangsal rumah sakit. Kakek memberinya tasbih dan melarang Gabriel melepaskannya, hal itu Kakek lakukan supaya Gabriel terus teringat untuk berdizkir. Agar hati dan fikirannya lebih tenang, tidak lagi terpuruk apa lagi terbakar amarah. Kakek, Abi dan yang lainnya terus menguatkan Gabriel tanpa bosan, mereka juga mengatakan yang bisa Gabriel lakukan saat ini adalah sabar dan ikhlas.


Gabriel juga melaksanakan sholat walaupun ia berada di ats bangsalnya, dan saat itu lah ia kembali teringat dengan beberapa nasihat Firda. Yang meminta Gabriel agar lebih mencintai Tuhan dari pada Firda, saat Firda meminta Gabriel ikhlas jika terjadi sesuatu dengan nya.


Sekarang Gabriel mulai memahami apa yang di maksud Firda dan juga Abi nya yang pernah menasihati Gabriel dengan hal yang sama. Jika Gabriel mencintai makhluk secara berlebihan, maka saat makhluk itu pergi Gabriel akan terpukul dan hancur, karena makhluk tak ada yang abadi. Sementara jika Gabriel memenuhi hatinya dengan cinta pada sang Khaliq, maka Gabriel tak akan merasakan perih karena Khaliq itu abadi. Gabriel tak akan pernah kehilangan sandaran cintanya.


"Bagaiamana keadaan Firda?" tanya Gabriel lirih pada Ayah mertuanya yang kini memasuki ruang rawat Gabriel.


"Masih sama" jawab Abi Farhan lirih.

__ADS_1


"Apa kata Dokter?" tanya Gabriel lagi dan Abi Farhan tak bisa menjawab nya, karena Dokter mengatakan kemungkinan nya sangat kecil untuk bisa menyelamatkan Firda.


"Abi, apa kata Dokter?" Gabriel mengulang pertanyaan nya dengan penuh penekanan.


"Firda akan baik baik saja" jawab Abi Farhan namun Gabriel tak mempercayai apa yang dia katakan Ayah mertuanya itu.


"Gabriel..."


"Aku baik baik saja, Abi" jawab Gabriel lirih dan ia kembali memutar manik tasbih itu satu persatu, bibirnya tak berhenti mengucapkan kalimat dzikir dan ia berusaha menekan segala amarah yang menggeliat dalam jiwanya.


.........


"Kemungkinannya sangat kecil bahkan hampir tidak mungkin Firda bisa selamat, dia juga kesakitan setiap detiknya dengan berbagai macam alat medis yang menempel di tubuh nya" ucap Dokter yang menangani Firda pada Abi Farhan, yang membuat Abi Farhan langsung terjatuh lemas di kursinya.


"Bagaiamana jika Firda di kirim ke kota atau ke luar negeri jika perlu, putri ku pasti masih bisa di selamatkan kan, Dok?" tanya Abi Farhan lagi.


"Kemungkinan nya sangat kecil, tapi tidak ada salah nya kita mencoba melakukan yang terbaik" ucap Dokter itu.

__ADS_1


"Dokter, tolong jangan beri tahu membantu ku tentang keadaan Firda jika dia bertanya pada mu" tukas Abi Farhan kemudian namun tanpa ia tahu, Gabriel sejak tadi mendengarkan obrolan mereka.


Tadi nya Gabriel keluar dari ruang rawat nya untuk melihat sang istri yang masih setia terlelap selama satu minggu, namun Gabriel justru mendapatkan kabar buruk seperti itu. Gabriel kembali merasa marah dan sedih, namun segera berusaha menenangkan hati nya.


Setelah Dokter dan Abi Farhan keluar dari ruang rawat Firda, Gabriel pun mendorong kursi rodanya dan ia masuk ke dalam ruang rawat sang istri. Nafas Gabriel tercekat saat melihat kondisi Firda yang begitu memprihatinkan, Gabriel menggenggam tangan istri nya itu dan kemudian ia mengecup nya dengan lembut.


"Assalamualaikum, Sayang..." lirih Gabriel dengan suara yang bergetar "Sudah satu minggu kamu tidak menyusui Jibril, dia pasti haus. Kapan kamu akan bangun?" lirih Gabriel.


"Micheal juga telfon setiap hari dan menanyakan keberadaan mu, setiap hari juga kami harus berbohong pada Micheal. Terkadang kami bilang kamu sedang mandi, sedang sholat, sedang belanja. Sampai kapan? Bukan kah berbohong itu dosa, Sayang?"


"Tapi, apakah kamu benar benar kesakitan, Sayang? Apa benar yang di katakan Dokter tadi?" air mata Gabriel sudah tak bisa lagi di bendungnya, Gabriel menggigit bibir nya agar isak tangis yang coba ia tahan tidak lolos dari bibir nya.


"Aku_aku tidak tahu apakah aku ikhlas jika harus kehilangan mu, aku sungguh takut kehilangan mu. Bagaimana aku harus mengurus Jibril, aku harus bilang apa Micheal nanti. Firda...." Gabriel menunduk dan air matanya langsung tumpah hingga membasahi tangan sang istri. Gabriel menangis selama beberapa saat sampai air matanya seolah tak bisa keluar lagi, hidung nya sudah tersumbat dan wajahnya sudah begitu sembab.


Semua orang meminta Gabriel sabar dan ikhlas, Gabriel tidak tahu ia harus sabar dan ikhlas akan apa. Akan kehilangan sang istri? Akan berpisah dengan sang istri?


Tapi yang Gabriel tahu, Tuhan akan memberikan yang terbaik untuknya.

__ADS_1


"Ya Allah, jika Engkau mengambilnya. Sesungguhnya dia adalah hamba Mu, dan tidak ada yang bisa mencintainya lebih dari cinta Mu. Dan jika Engkau mengembalikannya pada kami, sesungguhnya Engkau maha tahu apa yang terbaik untuk kami. Aku serahkan semuanya pada Mu, karena aku adalah hamba Mu yang lemah dan tak berdaya tanpa Mu. Terkadang aku dzalim pada diri ku sendiri karena kebodohan ku, sedangkan Engkau maha pengasih lagi penyayang "


__ADS_2