
Gio saat ini sedang berada di sebuah restaurant, Gio sedang melakukan pertemuan dengan rekan bisnis nya guna membicarakan bisnis Gio yang akan semakin di kembangkan. Awal nya, rekan bisnis nya itu memandang Gio sebelah mata di karenakan usia Gio yang masih sangat muda. Namun karena Don Ed sudah menyerahkan semua tanggung jawab bisnis pada Gio, maka mau tak mau mereka harus bekerja sama dengan Gio. Dan tak seperti dugaan mereka, Gio rupa nya cukup pintar dan tak memperlihatkan bahwa usia nya masih muda. Yang ia perlihatkan adalah kecerdasan dan attitude nya sebagai seorang businessman. Mungkin Gio memang tidak kuliah seperti Mini, namun Gio sudah memiliki semua kecerdasan yang ia perlukan bahkan untuk membangun sebuah kampus. Seperti apa yang pernah ia katakan pada Mini.
Gio belajar banyak dari Paman nya dan tentu nya juga dari Gabriel, meskipun bisa di katakan ia mempelajari ilmu itu dengan cara curang. Namun Gio sangat menikmati manfaat nya sekarang, Gio belajar banyak dari bagaimana Gabriel berbisnis, mempertahankan diri baik dalam bisnis mau pun di medan perang dan sebagainya nya.
"Aku sungguh tidak menyangka, Tuan muda Glatzel. Kau luar biasa.." kata seorang pria paruh baya yang duduk di hadapan Gio.
"Usia itu hanya hitungan masa berapa tahun kita sudah ada di dunia ini, jadi usia sama sekali tidak akan mempengaruhi kecerdasan maupun kerja keras" tukas Gio sembari menyeruput kopi nya dengan anggun.
Seperti biasa, Gio juga berpenampilan sangat maskulin dan kharismatik. Bahkan beberapa pelayan di restaurant itu menyunggingkan senyum dan tatapan yang berbeda pada Gio, seolah mereka mengundang Gio ke ranjang nya namun Gio tak menggubris nya sedikit pun.
Sementara klien nya yang sudah berusia di atas 50 tahun itu justru meladeni sang pelayan, ia mengedipkan mata nya dan saat pelayan menyajikan makanan di meja nya, kaki pria itu bermain di kaki sang pelayan. Gio yang menyadari hal itu hanya geleng geleng kepala sambil terkekeh.
"Kenapa? Kau tidak tertarik sama sekali? Padahal sejak tadi semua mata perempuan tertuju pada mu, mereka menatap mu seperti orang kelaparan yang menatap makanan lezat" kata nya yang membuat Gio kembali terkekeh.
"Aku tidak pernah tertarik pada hal semacam itu, aku lebih suka menyibukan diri dengan pekerjaan" jawab Gio.
"Hem, kau luar biasa. Muda, cerdas dan tidak tertarik pada wanita. Kau tahu? Wanita itu surga di mata, tapi neraka di jiwa. Kau melakukan hal yang sangat benar" kata pria itu yang membuat Gio kembali terkekeh.
"Yeah jika wanita itu wanita dari Neraka atau akan pergi ke neraka. Tapi jika wanita itu dari Surga atau akan pergi ke Surga, maka dia akan selalu membuat mu selalu merasa berada di surga" kata Gio sembari mengingat Firda.
"Aku dengar, istri Don Gabriel adalah tipe macam wanita yang seperti kamu ucapkan..." kata pria itu dan Gio tersenyum sembari menganggukan kepala nya.
__ADS_1
"Kabar Edward yang di penjara sudah tersebar luas bahkan hingga ke luar negeri, dan aku rasa, baik aku, kamu, apa lagi Don Gabriel pasti tahu penjara tidak akan bisa menahan seorang Mafia"
"Yeah, kami tahu. Karena itu lah kami berusaha melakukan yang terbaik, kami... Maksud ku, Don Gabriel. Sekarang dia tidak mau lagi main hakim sendiri"
"Aku tahu, tapi Edward bukan satu satu nya musuh Gabriel di dunia bawah tanah. Peperangan ini takkan berakhir dengan mudah apa lagi hanya dengan musuh yang di kurung berada di balik jeruji bisa"
"Don Gabriel sudah memikirkan semua nya" kata Gio lagi yang membuat pria itu terkekeh.
"Wanita..." kata pria itu masih sambil terkekeh "Ada banyak kerajaan yang hancur karena wanita, tapi ada pula banyak raja yang gila karena wanita"
Gio hanya menanggapi nya dengan senyum tertahan dan ia kembali menyeruput kopi nya.
.........
"Kayak nya kamu saja yang kasih tahu, Bang" kata Firda sembari menyusui putra nya. Saat ini ia dan Gabriel sedang bersama di kamar, sedangkan Micheal sedang di luar bersama Opa nya. Gabriel merebahkan diri samping Lora Jibril sembari memainkan tangan Lora Jibril yang begitu kecik, mungil nan lembut.
"Kamu saja lah, Sayang. Soalnya Micheal itu orang nya banyak tanya, aku sampai bingung mau jawab apa nanti" rengek Gabrie yang membuat Firda tertawa geli.
"Ya Allah, Bang. Masa kalah sama anak anak..." ejek Firda.
"Bukan nya kalah, Sayang. Cuma aku tidak tahu harus menjawab pertanyaan Micheal yang bertubi tubi begitu, muter muter lagi. Di jawab ini, nanya itu"
__ADS_1
Firda hanya menganggapi Gabriel dengan senyum yang ia tahan di bibir nya, tangan Firda menepuk nepuk paha Lora Jibril yang mulai kembali tertidur, perlahan Firda menarik sumber kehidupan sang bayi yang masih setia di sedot dari mulut nya setelah memastikan Lora Jibril sudah nyenyak
Sementara Gabriel hanya bisa memandangi hal itu sambil menggigit bibir nya dengan tatapan yang sayu, rasa nya begitu lama ia sudah tak mendapatkan belaian dari sangat istri. Rasa nya Gabriel sudah sangat merindukan masa masa dimana ia tak harus berbagi ranjang dengan Jibril apa lagi Micheal. Dimana ia di manjakan dan memanjakan sang istri dengan sentuhan tangan mau pun bibir nya.
"Kenapa, Bang?" tanya Firda karena Gabriel menatap nya dengan begitu sendu.
"Belum boleh di apa apain ya, Sayang?" tanya Gabriel kemudian yang membuat Firda mengernyitkan kening nya.
"Apa nya?" tanya Firda bingung sembari manaikan resleting daster nya.
"Kamu nya, sudah kangen..." Gabriel merengek yang membuat Firda merasa gemas.
Ia pun menarik baju Gabriel dan langsung mendaratkan bibir nya di bibir sang suami yang tentu saja membuat Gabriel senang dan langsung melahap bibir manis sang istri.
Gabriel memperdalam ciuman nya yang begitu menuntut itu, ia mencium seolah tak ada lagi hari esok. Ia mencium bibir sang istri seolah itu adalah sumber kehidupan nya.
Kedua nya sama sama memejamkan mata dan menggerakkan kepala nya ke kanan dan ke kiri, suara penyatuan bibir mereka juga terdengar di kamar itu dan tangan Gabriel sudah menjelajahi leher jenjang sang istri yang sudah lama tak ia tandai dengan ciuman nya.
Ciuman Gabriel turun ke dagu sang istri, beralih ke pipi nya dan terus turun menjelajahi garis rahang nya hingga bibir itu kini menyentuh kulit leher nya. Gabriel tak hanya mencium, ia mengecup, menghisap bahkan menggigit nya dengan gemas membuat sang istri tak bisa menahan lenguhan lirih nya sembari menarik rambut sang suami dan menekan kepala nya hingga Gabriel semakin tenggelam di leher sang istri. Bahkan tangan Gabriel sudah membuka resleting daster Firda dan menurunkan nya, gerakan bibir nya mengikuti gerakan tangan nya yang semakin turun dan...
"Daddy..."
__ADS_1
"Mommy...."