
Farhan dan Aisyah mendatangi Firda di kamar nya, mereka hanya bisa meringis melihat kondisi Firda yg masih sama. Dengan sangat hati hati, Aisyah dan Farhan memberitahukan kedatangan Gabriel yg datang untuk bertanggung jawab. Namun hal itu tidak mendapatkan respon positif sedikitpun dari Firda, meskipun Farhan sudah memberi tahu nya bahwa yg terjadi adalah di luar kemauan Gabriel dan itu semua kecelakaan.
"Bagaiamana bisa Abi percaya pada nya?" tanya Firda marah "Aku engga akan pernah percaya pada pria itu, engga akan pernah. Aku juga engga akan pernah memaafkan nya dan aku engga sudi menikah dengan nya" tegas Firda penuh amarah.
"Tapi, Sayang. Dia benar benar mau bertanggung jawab, dan kita bisa membuat surat perjanjian bahwa dia tidak akan menyakiti mu sedikitpun. Semua ini demi kebaikan mu, Fir. Demi kebaikan keluarga kita semua, bagaimana jika... Jika kamu hamil?" Farhan bertanya dengan suara lirih di akhir kalimat, bahkan ia menunduk dalam. Tak sanggup membayangkan jika itu benar benar terjadi pada putrinya.
Sementara Firda yg mendengar itu langsung terdiam seribu bahasa, air mata kembali mengalir deras di pipi nya.
Benar, bagaimana jika ia sampai ketahuan hamil nanti? Apa yg akan orang katakan tentang keluarga besarnya? Mereka takkan mau tahu cerita di balik kehamilan itu, yg mereka lihat hanyalah fakta kehamilan tanpa Suami itu.
"Sayang..." Aisyah mengelus kepala Firda "Ummi tahu ini berat buat kamu, menikah dengan pria yg sudah melukai jiwa mu dengan begitu dalam memang mungkin bukan hal yg benar. Bahkan tidak seharusnya itu terjadi, dan seandainya Gabriel memang benar benar memperkosa mu, kami tidak akan sudi memberikan mu pada nya. Tapi jika ini memang benar kecelakaan dan dia mau bertanggung jawab, lalu kenapa tidak? Ada begitu banyak yg di pertaruhkan jika sampai terjadi sesuatu dengan mu, Fir. Bukan hanya nama baik keluarga kita, tapi yg terpenting adalah perasaan keluarga besar kita"
Firda menatap mata Ummi nya dengan berderai air mata, keputusan ini sangat sulit "Tapi kami tidak memaksa mu, Nak" ujar Aisyah lagi lembut "Karena yg paling penting dari semua nya adalah diri mu, permata kami" tukas nya sembari tersenyum. Firda menjatuhkan diri nya di pelukan sang ibu, sementara Farhan hanya bisa mengelus kepala anaknya.
"Fikirkan itu, Sayang"
"Apa yg Ummi fikirkan tentang pria itu?" tanya Firda lirih.
"Entahlah, Sayang. Dia membawa saksi dan bukti bahwa dia memang dalam pengaruh obat yg di berikan wanita itu, Ummi tidak tahu apakah itu bisa di percaya atau tidak"
__ADS_1
Firda hanya bisa menarik nafas panjang mendengar jawaban Ummi nya, karena jauh dalam hati nya ia tak percaya Gabriel bisa sejahat itu pada nya. Tapi fakta dan ingatan ia terbangun di ranjang yg sama dalam keadaan tanpa sehelai benang pun membuat jiwa nya benar benar di kuasai amarah dan benci pada Gabriel. Bahkan ingin rasanya ia membunuh Gabriel dengan tangannya sendiri.
.........
Gabriel tinggal di rumah Pak Mansur sendirian, sementara Maddy dan kedua orang tua nya sudah di kirim kembali ke Jakarta. Gabriel terus memikirkan Firda dan bahkan ia berdoa agar Firda mau menerima maaf dari nya. Berdoa dan terus berdoa, hanya itu yg bisa ia lakukan sekarang.
Gabriel berbaring menyamping di ranjang nya dengan memeluk kucing nya sendiri.
"Apa yg membuat ku sangat ingin menikahi mu, Fir? Apa benar hanya untuk bertanggung jawab? Atau kah karena yg lain? Apakah aku mencintai mu?" pertanyaan itu muncul begitu sajak dalam benak Gabriel.
"Oh Tuhan, berikan petunjuk Mu. Aku berjanji akan memperbaiki diri untuk Firda"
.........
Haruskah dia menerima Gabriel menjadi suaminya?
Memikirkan nama Gabriel saja sudah membuat hati nya begitu sakit seperti teriris silet yg tajam. Lalu bagaimana jika Gabriel menjadi suaminya?
"Oh Tuhan, berikan aku petunjuk Mu. Demi nama dan perasaan keluarga besar ku, apakah di benarkan jika aku menerima Gabriel? Tapi... Tapi bagaimana jika aku beneran hamil nanti?" Firda menggumam sembari mengusap perut nya yg semakin hari semakin tipis saja "Bagaiamana perasaan kakek dan nenek jika cucu gadis nya hamil di luar nikah?" nafas Firda tercekat di tenggorokan nya, membayangkan ia hamil sungguh menghancurkan perasaan nya. Lalu bagaimana jika ia sungguh hamil nanti? Apa lagi Gabriel saat itu di bawah pengaruh obat, yg sudah pasti Gabriel benar-benar melakukan nya sampai hasrat nya terpuaskan yg arti nya tak mungkin cukup sekali. Gabriel juga tidak menggunakan pengaman, kemungkinan nya sangat besar ia bisa hamil.
__ADS_1
"Agghh..." Firda menggeram kesal sembari menarik rambut nya sendiri, matanya me merah dan nafas nya terasa berat.
Firda melompat turun dari ranjang, menarik pashimina yg ada di belakang pintu kemudian ia keluar kamar sembari mengenakan pashimina nya.
Firda pergi menemui orang tua nya di kamar mereka.
"Ada apa, Nak? Kamu mau makan? Masih demam?" tanya Aisyah khawatir. Firda menggeleng dan ia berjalan masuk "Lalu kenapa?" tanya Aisyah lembut sembari menarik Firda dan membawa nya duduk di ranjang.
"Firda mau menikah dengan Gabriel" ucap Firda lirih yg membuat Aisyah terbelalak terkejut dengan perasaan yg tak menentu. Tak tahu haruskah ia senang karena setidaknya jika Firda hamil, sudah ada Gabriel sebagai suami nya. Atau harus kah Aisyah sedih karena hanya demi keluarga nya Firda harus menikahi pria yg paling ia benci, pria yg sudah menorehkan luka begitu dalam.
"Kamu yakin, Fir?" tanya Aisyah dan ia tak bisa membendung air matanya.
"Iya, Ummi" jawab Firda dengan suara gemetar.
"Tapi, Sayang... Kamu sangat membenci Gabriel, dia sudah menghancurkan hidup mu"
"Setiap tuan putri harus berkorban demi keluarga kerajaan nya, Ummi. Bahkan terkadang sang tuan putri harus menikahi pangeran yg sudah menyerang kerajaan nya demi kebaikan keluarga nya"
Air mata Aisyah semakin deras mendengar jawaban Firda, ia langsung memeluk Firda dengan erat dan kedua nya menangis tersedu sedu.
__ADS_1
Farhan masuk dan sempat mendengarkan pembicaraan mereka, ia merengkuh dua wanita paling berarti dalam hidup nya itu.
"Semoga Allah memberikan mu kekuatan dan kebahagiaan, Putri ku. Kamu tidak diuji kecuali untuk menaikan derajat mu"