Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 236 - Pengen Jadi Ustadz


__ADS_3

Kembali nya Firda ke desa di sambut oleh keluarga mereka dengan ucapan syukur karena selama Firda berada di Jakarta, tiada hari yang mereka lewati tanpa kecemasan akan keselamatan Firda dan putra nya. Namun mereka sangat bersyukur Karena Firda dan yang lain nya kembali dengan selamat.


Sementara di penjara, Edward dan seorang pemimpin geng di penjara itu sedang merencanakan sesuatu yang besar.


Dengan bantuan seorang tukang masak yang memang sudah bekerja dengan para penjahat itu, meraka akan segera meng-eksekusi rencana yang sudah mereka susun beberapa hari ini.


Saat ini, mereka sedang berada di toilet sedangkan jam menunjukkan pukul 3 dini hari.


"Kau yakin semua nya aman? Ingat, kita di awasi setiap detik" kata Edwards untuk memastikan. Karena jika ia tertangkap sedang melakukan percobaan melakukan diri, maka ia pasti akan langsung di tembak mati.


"Tenang saja, aku sudah atur semua nya" kata pria itu "Ini, setidak nya dengan ini kami tidak akan terlalu merasa kesakitan" pria itu menyerahkan tiga bungkus bubuk putih pada Edward dan Edward segera menghisap nya, bahkan hidung nya sampai berdarah. Ia juga di cekoki obat terlarang yang akhir nya membuat dia teler.


"Kau jangan khawatir, aku pastikan kau akan sampai ke tempat tujuan mu. Koki kita bisa di andalkan, dia bisa membawa mu dari sini dengan aman dan tidak akan ada yang curiga. Karena bom itu masih akan selalu terdeteksi di tempat ini.


Setelah itu, Edwards di baringkan di lantai toilet, mulut Edward di sumpal dengan baju nya, kanan Edwards yang di pasang bom di kaitkan ke closet. Dan pria itu mengeluarkan pisau daging yang ia dapatkan dari tukang masak yang bekerja sama dengan nya. Edward sudah sangat teler, fikiran nya sudah kemana, samar samar ia melihat cahaya di depan mata nya yang membuat nya silau dan ia pun langsung memejamkan mata, dan saat itu...


"EEGGGHHH..." teriakan Edward teredam kain yang menyumpal mulut nya ketika pria itu memotong kaki kanan Edward. Darah langsung bercucuran dan kaki itu jatuh ke closet.


Kemudian masuk seorang pria dimana pria itu ternyata juga tak punya kaki, kaki yang ia gunakan adalah kaki pasangan. Kedua pria itu langsung mengambil gelang bom yang ada di potongan kaki Edwards dan melepas kaki palsu pria itu kemudian memasangkan nya. Sementara itu kini masih setengah sadar, karena obat yang di konsumsi nya dan juga karena apa yang telah ia putuskan. Yaitu memotong kaki nya.

__ADS_1


..........


Firda yang sudah lama hanya berada di rumah saja kini memutuskan untuk ikut ke pengajian yang di adakan setiap minggu dan Gabriel pun juga ikut setelah Firda mengajak nya.


Dan saat ini, mereka sedang berada dalam majelis taklim dimana seorang Ustadz yang masih sangat muda menerangkan tafsir Surat Ad-dhuha dan Al Insyirah. Dua surat yang memiliki makna begitu indah dan janji Tuhan yang pasti akan di tepati. Gabriel pun mendengarkan keterangan Ustadz itu dengan seksama apa lagi ketika ia menerangkan tentang kesulitan. Entah kenapa Gabriel merasa dua surat itu seolah berbicara dengan nya, dengan keadaan nya yang selalu di rundung masalah karena identitas diri nya dahulu.


"Ketika Nabi Musa hendak berdakwah pada Firaun, Nabi Musa berdoa, Robbish rohli shodri, ya Rabbi, lapangkan hati ku. Tapi, Kita umat Nabi Muhammad beda. Sebelum masalah datang, Allah sudah berfirman, Alam nasyrah laka sadrak. Bukankah sudah aku lapangkan dada mu? Jadi, kalau ada masalah, jangan mengeluh dulu, jangan putus asa dulu. Tenangkan hati mu, fikiran mu, karena Allah juga berfirman"


"Fainna ma'al usri yusro. Maka sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan. Inna ma'al usri yusro, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Jadi, ketika Allah menurunkan masalah padamu, sesungguhnya Allah menurunkan bersama masalah itu solusi, kemudahan"


Gabriel terdiam dan teringat kembali dengan satu masalah yang membuat nya begitu kalut, yaitu masalah yang di ciptakan maddison yang membuat ia terpaksa membawa Firda ke kamar hotel. Dimana bagi nya itu menjadi masalah besar apa lagi bagi keluarga Firda. Namun siapa sangka, ternyata Firman Tuhan benar, Firda sendiri hadir sebagai lentera nya. Ketika Gabriel merasa ia mendapatkan kesulitan ketika kehilangan Firda, namun ternyata bersamaan dengan itu, satu musuh nya telah beralih menjadi kawan nya.


..........


Sepulang nya dari majelis, Gabriel tampak diam saja dan itu menarik perhatian sang istri.


"Kenapa sih, Bang? Sejak dari pengajian kayak nya banyak diam"


"Sayang, jadi Ustadz enak ya. Aku pengen jadi Ustadz juga" ujar Gabriel kemudian yang membuat Firda tercengang.

__ADS_1


"Memang nya kenapa, Bang? Karena dapat sungkeman?" Gabriel langsung tertawa mendengar pertanyaan istri kecil nya itu.


"Bukan, cuma kalau jadi Ustadz itu enak ya. Dekat sama Tuhan, ngerti banyak tentang agama. Tadi pas dengar Ustadz nya ceramah, hati kayak adem gitu. Ternyata Tuhan itu dekat ya dengan kita, dan Tuhan itu baik banget. Setelah aku ingat ingat, dari aku kecil sampai detik ini, semua yang di terangkan Ustadz tadi itu memang benar semua. Janji Tuhan itu benar benar di tepati bahkan ketika aku tidak tahu Dia berjanji akan seperti itu. Rasa nya aku menyesal baru mengenal Tuhan ku sekarang, kenapa tidak dari dulu aku ketemu kamu nya" tutur Gabriel dengan perasaan kagum yang luar biasa. Firda yang mendengar itu tersenyum simpul, ia mengelus kepala suami nya yang saat ini rebahan menyamping di depan nya.


"Karena Dia Tuhan mu, Bang. Dan kamu hamba Nya, dan Tuhan itu punya Sifat Rahman, maha pengasih. Semua hamba Nya Dia kasihi. Dan sesungguhnya, Bang. Allah itu mencintai orang orang yang bertobat, jadi sebanyak apapun dosa mu, sesering apapun kamu melakukan dosa, terus saja taubat lagi dan lagi. Dan tidak ada kata terlambat mengenal Allah dan bertobat sebelum nyawa ada di kerongkongan"


"Iya, kamu benar juga" gumam Gabriel "Semoga saja, orang orang di luar sana yang hidup nya seperti aku. Juga di kasih di kasih Hidayah sama Allah"


"Allah selalu memberi hidayah, tinggal apakah orang itu mengambil nya atau tidak"


"Aku rasa aku harus benar benar jadi Ustadz"


"Haha..."


"Kok malah ketawa?"


"Ustadz itu title, Bang. Jangan kejar title nya, kejar ilmu nya"


"Hehe, iya, Sayang"

__ADS_1


__ADS_2