
Firda menghentikan mobil nya karena untuk mencapai sungai itu tidak bisa memakai mobil, ia harus jalan kaki dan masuk ke dalam. Saat Firda turun dari mobil, tiba tiba dua orang laki laki datang dan langsung menodongkan senjata nya pada Firda, Firda pun dengan cepat mengangkat kedua tangan nya dan saat pria itu hendak menggeledah tubuh Firda untuk mencari senjata yang Firda temukan, Firda langsung melangkah mundur.
"Aku mendapatkan telfon dari seorang wanita, jadi aku ingin dia yang menggeledah ku. Di dalam agama ku, pria yang bukan mahram ku tidak boleh menyentuh ku" kata Firda namun ia justru mendapatkan tatapan mengejek dan di tertawakan oleh pria itu.
"Kamu fikir kami perduli aturan agama mu?" tanya salah satu dari mereka.
Firda pun dengan cepat mengeluarkan pistol nya dari saku nya, membuka kunci nya dan langsung menodongkan pada dua pria itu. Tindakan Firda itu kembali di tertawakan namun Firda menanggapi nya dengan tenang, ia membungkuk dan melempar pistol nya ke arah pria itu kemudian ia mengambil permen nya dari saku nya. Tindakan Firda itu membuat kedua pria di depan nya tampak bingung.
"Jujur saja aku sedang gugup, dan kita tahu cokelat itu membuat perasaan kita jauh lebih baik" kata Firda. Ia membuka bungkus permen nya memakan isi nya, sementara bungkus nya ia buang ke tanah.
"Ck, dasar aneh" ucap salah satu pria itu dan sekarang ia benar benar menggeledah Firda. Firda hanya menatap tajam pria itu tanpa bisa berbuat apa apa.
"Bukan kah sudah aku lempar senjata ku?" tanya Firda dengan ketus setelah pria itu memeriksa tubuh nya dan tak menemukan senjata yang lain.
"Jalan!!!" perintah nya sembari menodongkan senjata tepat di kepala Firda. Firda pun berjalan masuk ke semak semak, Firda hanya tahu tempat ini karena rumah istri Om Adil nya ada di perbatasan desa.
Sambil berjalan, Firda terus menikmati permen cokelat nya dan meninggalkan bungkus nya. Berharap itu bisa jadi petunjuk bagi keluarga nya yang pasti akan mencari nya.
"Sejak tadi dia terus saja makan permen cokelat, pantas saja badan nya gemuk" ujar salah satu pria itu sementara Firda yang mendengar nya hanya tersenyum samar. Setelah melahirkan badan nya memang masih gemuk dan semua orang justru memuji Firda, Firda tahu bukan karena Firda cocok punya tubuh gemuk melainkan karena mereka tak mau Firda minder dengan keadaan tubuh nya. Memikirkan hal itu Firda kembali sedih, ia takut tak bisa kembali ke keluarga tercinta nya.
__ADS_1
Perjalanan yang mereka tempuh rupa nya tidak sebentar, Firda bahkan beberapa kali terjatuh karena tersandung akar. Hingga akhir nya kini mereka sampai di sebuah sungai dimana ada banyak pohon bambu dan berbagai macam pohon lain nya yang tumbuh liar di sekitar sungai.
Firda melirik ke sekelilingnya namun tak ada siapa siapa di sana, dan ia terus di perintahkan berjalan, melewati sungai dan naik ke tebing. Beberapa kali Firda terjatuh dan membuat gamis putih nya kotor, dan itu membuat Firda teringat pada suami nya. Dimana Firda pernah memarahi Gabriel gara gara membiarkan Jibril guling guling di lantai karena takut baju putih putra nya kotor. Firda bangun dan menahan rasa lelah, letih dan cemas yang bercampur menjadi satu dalam diri nya.
Hingga akhir nya Firda sampai di atas tebing, dan Firda melihat di sana ada ayah mertua nya, seorang wanita dan Gabriel yang di ikat dengat dalam keadaan tak sadarkan diri.
'Gabriel... " teriak Firda dan ia hendak berlari menghampiri suami nya namun di cegah oleh dua pria yang sejak tadi mengawasi nya.
"Om, lepasin Gabriel, Om. Aku mohon..." rengek Firda dengan begitu cemas namun Edward hanya tersenyum miring, ia duduk santai di sebuah batu besar dan kemudian meletakkan kaki nya di atas dada Gabriel yang masih tak sadarkan diri dan terbaring di bawah nya. Air mata Firda menetes melihat perlakuan ayah mertua nya itu.
"Kamu puas kan? Membuat hidup ku jungkir balik seperti sekarang?"
Edward tak mau mendengarkan kata Firda, ia memberi isyarat pada salah satu pria itu dan kemudian pria itu mengambil botol yang berisi air dan menyiram kan nya ke wajah Gabriel dan seketika hal itu membuat Gabriel sadar dari pingsan nya.
"Firda..." lirih nya dan ia hendak bangun namun Edward langsung menginjak dada nya membuat Gabriel menggeram marah.
Dua pria tadi mengikat tangan Firda ke belakang menggunakan tali dan Gabriel ingin menangis rasa nya karena ia tak bisa apa apa.
"Kalian memburu ku, membuat aku kesulitan bahkan untuk sekedar bernafas. Dan sekarang aku ingin kalian merasakan apa yang aku rasakan, di buru" tegas Edward dengan amarah yang begitu memuncak.
__ADS_1
Sementara wanita yang bernama Raisa itu kini berdiri dan mendekati Firda dengan membawa pistol di tangan nya.
"Apa kau ingat dengan Vicky Agarwal?" tanya Raisa yang kini menatap Gabriel namun ia mengacungkan senjata nya ke kepala Firda. Gabriel terdiam dan mencoba mengingat nama itu yang terdengar tak asing bagi nya. Jika orang lain sampai lupa salah satu nama teman nya saking banyak nya teman nya, Gabriel lupa siapa saja musuh nya saking banyak nya musuh nya.
"Vicky Agarwal, yang kau tembak mati di pertemuan saat pertukaran barang yang kau pesan, 3 tahun yang lalu" tegas Raisa dan seketika Gabriel langsung menatap ayah nya kemudian ia menatap mata Raisya dengan sendu.
"Aku memang membunuh nya" kata Gabriel kemudian "Karena dia menipu ku saat itu, seharus nya dia memberikan seluruh barang dengan murni tapi setengah nya ia campur dengan tepung. Aku paling benci di khianati saat itu, aku minta maaf" lirih nya dan Raisa terlihat semakin marah. Ia langsung menarik pelatuk nya dan melepaskan tembakan tepat di paha Firda membuat Firda berteriak kesakitan dan ia langsung jatuh berlutut.
"Firda..." Gabriel pun berteriak antara sedih dan marah. Darah mulai mengucur dari paha Firda namun Firda berusaha tak mengucurkan air mata nya.
"Kamu tahu bagaimana rasa nya kehilangan pasangan?" tanya Raisa sembari berjalan mengitari Firda yang meringis menahan sakit.
"Kamu pasti belum tahu, tenang saja aku akan membuat mu tahu" ucap nya sambil berseringai.
"Dan kamu tidak pernah tahu bagaimana rasa nya di buru?" kini Edward yang bertanya, ia turun dari tempat duduk nya dan kemudian menarik kerah baju Gabriel.
"Aku juga akan membuat mu merasakan Bagaiamana rasa nya di buru, akan aku buat kalian berteriak ingin mati saja" desis nya tajam dan kemudian ia juga melepaskan tembakan di paha Gabriel membuat Gabriel mengerang sakit. Edward menarik kerah baju Gabriel dan melempar nya ke Firda.
"Sayang,..." Gabriel menatap istri nya itu dengan begitu sayu, Firda bisa melihat kemarahan, kesedihan dan rasa bersalah di mata sang suami namun Firda membalas nya dengan senyuman. Tangan kedua nya sama sama di ikat ke belakang tubuh mereka, paha kedua nya sama sama terkena tembakan dan sudah pasti mereka tak akan bisa lari.
__ADS_1
Namun lari, bersembunyi, main kucing kucingan adalah apa yang di inginkan Edward sekarang yang ingin membuat Gabriel dan Firda menderita.