
Firda terbangun dengan perasaan yg terasa lebih baik, kenapa? Ia sendiri tidak tahu.
Ia terbangun di ranjang nya seperti biasa, ia menggeliat malas namun kali ini ada yg berbeda dan tiba tiba...
"AAHHHH...." teriak nya
Firda yg melihat Gabriel yg tidur di samping nya langsung berteriak histeris bahkan ia sampai menendang Gabriel hingga terjatuh ke lantai dan suaminya itu langsung mengerang lirih sembari berusaha berdiri.
"Aduh, Firda...."
"Kamu ngapain di sini?" teriak Firda dan ia sendiri melompat turun dari ranjang.
"Tidur, semalaman aku sudah tidak tidur masak iya sekarang aku juga tidak tidur" jawab Gabriel dan ia kembali naik ke ranjang, menarik selimut dan juga guling.
Firda langsung menarik selimut Gabriel dengan kesal dan seperti nya itu juga membuat Gabriel kesal.
"Bukan nya sudah aku bilang, jangan mendekati ranjang ku" tegas Firda.
"Bukan nya kamu juga sudah bilang, kalau aku mengantuk aku bisa tidur dimana pun termasuk di ranjang" Gabriel kembali menjawab dengan tegas juga yg membuat Firda menggeram kesal.
"Tapi jangan tidur sama aku...." Firda kembali berteriak kesal.
"Aduh, Firda. Aku benar benar mengantuk sekarang, jadi tolong diamlah" seru Gabriel yg membuat Firda menganga lebar. Gabriel hendak kembali menarik selimut nya lagi namun Firda bergerak lebih cepat dan ia melempar selimut nya jauh dari ranjang.
"Bangun, sudah waktu nya sholat. Jangan tidur terus" teriak Firda lagi kemudian ia bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Gabriel menggeram kesal, karena seumur hidup baru sekarang ia terus terusan di teriaki dan tidak di biarkan tidur dengan tenang.
Saat Gabriel hendak menarik guling, tiba tiba Firda kembali meneriaki nya.
"Sholat Woy, sholat... Ashsholatu khoirum minannauum" teriak nya yg membuat Gabriel menganga karena seperti nya Firda memarahi nya dalam bahasa yg berbeda.
"Jangan memarahi ku dalam bahasa yg tidak aku mengerti. Itu tidak adil" seru Gabriel dan ia pun melorot turun dari ranjang.
"Aku bukan nya marah, tadi itu arti nya sholat itu lebih baik dari pada tidur. Lagian ya, kamu itu engga bisa sholat, malas sholat, mau jadi apa kamu di akhirat nanti" gerutu Firda sembari mengambil mukena nya dan juga sejadah untuk dirinya dan juga Gabriel. Sementara Gabriel malah menggeliat dan menguap, ia tampak malas untuk mengambil wudhu.
__ADS_1
"Cepetan....!!!" teriak Firda yg reflek membuat Gabriel langsung berlari ke kamar mandi.
.........
Angeline mendatangi Frank yg saat ini sedang sarapan di meja makan, Angelin tidak berbicara namun ia tampak menyimpan pertanyaan untuk Frank.
"Ada apa?" tanya Frank kemudian.
"Apa kau tau sesuatu tentang Gabriel?" tanya Angeline setengah berbisik, Frank yg mendengar pertanyaan kakak nya itu menaikan sebelah alis nya dan ia tampak heran kenapa kakak nya itu tiba tiba bertanya demikian.
"Kenapa? Merindukan nya?" tanya Frank kemudian mengelap mulut nya dengan gerakan anggun.
"Bukan begitu, hanya saja... Bukan apa apa, lupakan saja" seru Angeline kemudian ia pergi meninggalkan adik nya itu.
Angeline bertanya tanya kenapa Gabriel tiba tiba mengirim kan surat cerai setelah sekian lama mereka berpisah dan menggantungkan hubungan pernikahan mereka?
"Apa dia sudah menemukan pengganti ku?" ia bertanya tanya dengan hati yg bersedih "Bukankah itu lebih baik? Mungkin dia juga sudah melupakan ku"
.........
Gabriel sedang menemani kakek mertua nya jalan jalan di sekitar area sekolah, sang kakek membicarakan banyak hal tentang keluarga nya terutama tentang Firda. Sikap konyol nya, polos nya, dan juga kebaikan nya. Firda tak akan berfikir dua kali untuk menolong orang yg terlihat memang membutuhkan pertolongan, dan Firda tak pernah berburuk sangka pada orang lain. Ia gampang percaya dan itulah yg membuat keluarga nya khawatir, karena Firda terlalu naif. Ia berfikir semua orang baik, bisa di percaya namun sang kakek mengatakan bahwa pemikiran Firda itu akan terpatahkan saat kepercayaan nya di hancurkan.
"Kenapa kau diam saja, Gabriel?" tanya sang kakek dengan suara serak nya.
"Ti... Tidak, tidak apa apa" jawab Gabriel kemudian.
"Firda itu gadis yg sangat baik, aku titip dia pada mu ya, Nak. Tolong jaga dia" pinta kakek sembari terus melangkah dengan langkah yg sudah sedikit tertatih.
"Aku... Aku akan memberikan yg terbaik untuk Firda" ujar Gabriel
"Insya Allah..." seru sang kakek.
"Apa?" Gabriel malah bertanya dengan bingung.
"Ucapkan lah Insya Allah saat kamu mengatakan sesuatu yg tidak bisa kamu pastikan apakah benar benar iya atau tidak" seru sang kakek dan Gabriel mengangguk mengerti.
__ADS_1
Saat mereka kembali mengobrol, ponsel Gabriel berdering untuk yg kesekian kalinya.
"Angkat saja, mungkin penting" seru sang kakek dan Gabriel pun menjawab panggilan itu yg tak lain dari tangan kanan nya yaitu John.
"Ya?"
"...."
"Apa?" pekik Gabriel saat mendengar kabar yg seperti nya bukan kabar baik itu.
"Okey, aku akan kembali secepatnya" ucap Gabriel kemudian ia menutup telpon nya.
"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya kakek.
"Ya, ada masalah serius yg harus aku tangani. Aku harus kembali secepatnya" ujar Gabriel.
"Bisa di mengerti, kau seorang pengusaha dan tentu usaha mu itu tidak bisa kau tinggalkan terlalu lama seperti ini..."
.........
"Apa? Ikut dengan mu?" pekik Firda nyaring yg bahkan membuat Gabriel harus menutup telinga nya atau gendang telinga nya itu akan pecah karena suara Firda yg tak kalah seperti petasan.
Masih menutup telinga, Gabriel mengangguk berkali kali.
"Ogah" seru Firda yg membuat Gabriel mengerutkan kening nya dalam.
"Kenapa ogah?" tanya Gabriel.
"Ya karena engga mau"
"Terus kenapa engga mau?"
"Eggh..." Firda menggeram kesal "Aku mau kembali ke pesantren, kamu pulang aja sendiri"
"Tapi, Fir...."
__ADS_1
"Engga ada tapi tapi, ini keputusan aku" tegas Firda.
"Okey, kalau begitu aku akan pulang dan kamu silahkan kembali ke pesantren" ujar Gabriel kemudian.