
"Maafkan aku, Firda. Kamu benar, bagiku hal seperti itu adalah hal biasa, bagi ku, yg seorang Don Mafia, kekerasan dan menghadapi kematian adalah hal yg biasa"
Firda tercengang mendengar penuturan lirih suami nya itu, Firda terdiam beberapa saat dan mencoba mencerna apa yg di katakan Gabriel yg bagi nya tak masuk akal dan sulit di percaya. Sementara Gabriel menunggu respon Firda atas pengakuan nya dengan dada yg berdebar, namun tiba tiba Firda malah tertawa. Meskipun tawa itu terasa hambar namun Gabriel di buat tercengang oleh nya.
"Don Mafia..." ucap Firda masih tertawa
"Kamu pasti bercanda kan?" tanya nya namun tatapan dan ekspresi Gabriel menyiratkan sebalik nya, membuat bibir Firda langsung bungkam dan seketika raut wajah nya menyiratkan kebingungan. Ia sungguh tak percaya dengan apa yg sudah di katakan Gabriel.
"Bicara yg jelas, ku mohon...!!!" tegas Firda sambil menatap tepat di kedua mata sang suami yg saat ini menatap nya dengan begitu sendu.
"Aku sudah berbicara dengan sangat jelas, Firda" Gabriel tak kalah tegas nya dalam menjawab Firda.
"Aku adalah Gabriel Emerson, dan Emerson adalah keluarga berlatar belakang Mafia bahkan dari mendiang kakek ku adalah seorang mafia" tukas Gabriel yg membuat Firda kembali tercengang dan ia menatap Gabriel masih dengan tatapan bingung dan tak percaya nya.
"Itu lah aku yg sebenarnya, Firda" Gabriel berkata dengan lirih kemudian.
"Aku bukan pria yg baik, aku adalah seorang kriminal. Kekerasan dan kejahatan adalah yg biasa bagi ku, pertarungan yg mempertaruhkan nyawa juga hal yg biasa"
Firda masih setia bungkam, isi kepala nya seperti jaring laba laba sekarang, mumet, bingung, terkejut, takut, dan semua hal lain nya Firda rasakan dan fikirkan sekarang.
Suami nya seorang mafia, pelaku kriminal kelas atas. Melakukan semua tindak kejahatan, bahkan dengan mudah membunuh orang. Dan berapa orang yg mati di tangan suami nya itu? Kata nya, Gabriel memang berasal dari keluarga mafia, itu artinya Gabriel sudah terlahir sebagai penjahat dan sudah melakukan kejahatan bahkan sejak kecil.
Benarkah?
Memikirkan semua fakta fakta itu membuat kepala Firda terasa sakit dan mata nya berkunang kunang.
__ADS_1
Gabriel yg melihat raut wajah Firda yg tampak shock dan seperti orang linglung hanya bisa menunduk pasrah kemudian, Firda tidak bisa menerima apa yg sudah Gabriel akui.
Gabriel sudah mengatakan kebenaran tentang diri nya, dan sekarang ia harus menghadapi kebenaran bahwa Firda pasti akan meninggalkan nya sama seperti Angeline.
"Aku tahu, aku tidak pantas untuk mu, aku tidak pantas bersanding di sisi wanita penuh cinta seperti mu karena aku adalah seorang kriminal yang terbiasa dengan kejahatan dan kekerasan" tukas Gabriel lagi.
Firda masih bungkam dan ia masih menatap Gabriel yg saat ini menundukkan kepala nya, menutup wajah nya dengan kedua tangan nya.
"Jika kamu tidak bisa menerima ku..." ujar Gabriel kemudian dan ia mengangkat kepala nya dan menegakan duduk nya.
"Kamu bisa meninggalkan ku, Firda. Aku tidak akan memaksa mu untuk tetap berada di sisi ku, tapi sebelum kamu pergi aku ingin mengatakan bahwa aku sudah meninggalkan dunia itu. Aku sudah tidak lagi menjadi bagian dari Black Swan dan aku lakukan itu demi dirimu" tukas Gabriel dengan susah payah dan ia mencoba menguatkan hati nya untuk melepaskan Firda.
"Apakah musuh mu akan meninggalkan mu juga saat kamu meninggalkan dunia itu?" tanya Firda akhir nya dan Gabriel tentu hanya bisa menggeleng lemah.
"Masa lalu kelam ku akan selalu menghantui masa depan ku, Firda. Aku tahu itu..." lirih Gabriel.
Firda masih terdiam dengan berbagai pertanyaan dan asumsi dalam benak nya.
Namun saat ia tak sanggup menerima sebuah pengakuan suami nya itu, perlahan ia mendorong kursi ke belakang dan ia beranjak berdiri dari kursi nya. Gabriel hanya bisa menatap nanar sang istri yg kini berjalan menuju pintu dan akhirnya ia menghilang di balik pintu.
Hati Gabriel terasa remuk seketika, ia tahu ini bisa saja terjadi, Gabriel bahkan sudah mempersiapkan hati nya untuk moment ini tapi ternyata persiapan nya sia sia.
Hati nya terasa begitu sakit dan perih, bahkan tanpa sadar air mata Gabriel menetes begitu saja dari sudut mata nya.
Ingin rasanya Gabriel berlari mengejar Firda dan memohon agar ia tidak di tinggalkan, namun Gabriel tahu semua itu akan percuma. Sama seperti permohonan nya yg sia sia pada Angeline.
__ADS_1
"Selamat tinggal, Firda..." gumam Gabriel dengan suara tercekat dan dengan perlahan ia juga bangkit dari kursi nya, berjalan pelan menuju ranjang. Rasa sakit di tubuh nya tak ada apa apa nya di bandingkan rasa sakit di hati nya sekarang.
John benar, seharusnya Gabriel tidak menarik Firda kedalam hidup nya sejak awal.
Seharusnya Gabriel meninggalkan Firda sejak dulu.
Seharusnya Gabriel menjauhi Firda semenjak di desa dulu.
Seharusnya Gabriel tidak mengajak Firda ke dalam saku hotel di hari itu.
John sudah memperingatkan hal itu tapi Gabriel terus mengabaikan nya, dan sekarang Gabriel merasakan rasa sakit yg jauh lebih sakit dari yg ia bayangkan dan pernah ia rasa kan.
Gabriel meringkuk di tepi ranjang, dan air mata kini mengalir deras dari sudut mata nya hingga memabasahi bantal di bawah nya bahkan hidung nya mulai tersumbat. Gabriel meletakkan tangan kiri nya di bawah kepala nya dan menyelipkan tangan kanan nya di antara paha nya sementara ia menekuk kedua lutut nya. Ia meringkuk seperti orang kedinginan dan kesepian.
"Hati ku sakit sekali rasanya, kenapa sesakit ini? Aku seperti sekarat..."
"Seandainya aku mati saja tadi malam, itu pasti jauh lebih baik dari pada menahan rasa sakit di hati ini"
"Aku tahu ini akan terjadi, aku sudah mempersiapkan hati ku untuk kemungkinan terburuk nya"
"Tapi kenapa semua itu sia sia?"
"Aku tidak sanggup, tidak akan sanggup tanpa nya"
"Apa yg harus aku lakukan, Ya Tuhan?"
__ADS_1
"Jika dia pergi, ambil saja nyawa ku..."