
Gabriel di bawa kerumah sakit untuk mendapatkan pengobatan atas luka-lukanya.
"Bagaiamana keadaan Tuan Gabriel, Dok?" tanya John, tangan kanan Gabriel.
"Luka nya cukup dalam, tapi dia akan baik baik saja" jawab Dokter itu "Untuk saat ini, biarkan dia beristirahat dan setelah dia sadar kami akan memeriksa nya kembali"
Dan John hanya mengangguk mengerti tanpa sedikitpun berinisiatif untuk berterima kasih.
Di depan kamar rawat Gabriel, empat orang pria bertubuh kekar berjaga dengan begitu waspada. Mereka bahkan di lengkapi dengan senjata.
"Jaga Tuan Gabriel, jangan biarkan siapapun masuk selain Dokter yg tadi" tukas John "Aku akan pergi dan mencari tahu siapa dalang di balik semua ini"
..........
6 bukan kemudian....
"Apa maksud mu bersembunyi?" tanya Gabriel dengan tatapan angkuh nya kepada John "Seorang Don Gabriel Emerson harus bersembunyi?" tukas nya lagi.
"Hanya untuk sementara, Tuan. Sampai kami tahu siapa musuh dalam selimut yg sebenarnya" jawab John bersikeras.
"Aku tidak mau, kau fikir aku takut mati?" geram Gabriel lagi shambil memukul meja di depan nya, menatap penuh intimidasi namun sayang nya John tak terintimidasi sedikitpun.
"Saya tahu anda tidak takut mati, tapi setidak nya fikirkan tentang Ibu anda. Bukan kah anda masih ingin mencari nya? dan fikirkan juga bisnis dan kekayaan yg sudah di bangun dengan susah payah oleh ayah anda. Dan juga, bagaimana dengan putra anda?" papar John yg juga mulai emosi. Gabriel melirik John sekilas, seandainya bukan karena John yg terus menjaga nya, Gabriel pasti sudah mati ribuan kali.
John yg begitu setia menjaga Gabriel dan sekali mengutamakan keselamatan Gabriel atas perintah ibu Gabriel 18 tahun yg lalu, sebelum sang ibu memilih pergi.
"Baiklah, kemana aku harus pergi? Swedia? Polandia? Israel? Jerman atau kemana?"
"Bukan ke luar negeri, tapi ke sebuah desa"
"DESA?????"
.........
__ADS_1
"Whoaammm..."
Firda menguap sambil menggeliat malas. Bibir nya mengembangkan senyum lebar sementara rambut nya sudah seperti singa yg mengaum "Indahnya mimpi Firda.... Auu...." baru saja ia merasa senang mengingat mimpi nya, sekarang ia harus meringis dan cemberut saat merasakan pukulan dari sebuah bantal yg mendarat punggung nya.
"Kenyataan lebih indah karena itu sebuah fakta, dan fakta nya adalah kamu harus pergi ke pesantren dua minggu lagi. Jadi belajar lah bangun pagi, Zeda Firdaus!" seru sang ibu sambil membuka horden jendela sehingga seketika matahari menyeruak masuk dan menyinari kamar bernuansa pink dan biru itu.
"Firda sudah bangun tadi jam setengah 4, Ummi. Terus sholat tahajud terus tidur lagi, terus bangun lagi terus sholat subuh, terus tidur lagi terus..."
"Terus nanti Ummi cekokin kopi seliter biar melek terus" ujar ibu nya lagi dengen jengkel. Sementara Firda hanya cengengesan sambil garuk garuk kepala yg membuat rambut nya sudah seperti mbak kunti saja "Berapa rakaat tadi tahajud nya?" tanya ibu nya lagi sambil menarik turun Firda dari ranjang nya dan ia pun membersihkan ranjang putri semata wayang nya itu.
"Dua..." jawab Firda enteng.
"Cuma dua?" seru sang ibu sambil geleng geleng kepala "Pelit sekali kamu ini, Fir. Berdoa pengen dapat jodoh yg romantis seperti Nabi Muhammad Saw, yg dermawan seperti Sayyidina Abu bakar, yg tegas seperti Umar, yg lemah lembut seperti Ustman, yg cerdas dan pemberani seperti Ali, terus pengen masuk surga Firdaus bersama mereka. Tapi tahajud nya cuma dua rakaat, ngaji cuma satu lembar, malu sama doa doa yg kamu tulis itu" hadik sang ibu lagi yg lagi dan lagi membuat Firda hanya cengengesan.
Dan jangan tanya dari mana ibu nya tahu doa dan harapan Firda, karena Firda menulis doa doa itu dan menempelkan nya di dinding kamar nya. Dan masih ada banyak lagi kertas lain yg tertempel yg berisi doa, harapan, kata kata penyemangat dan yg lain nya. Bahkan hampir setiap hari Firda kembali membuat sebuah note dan menempelkan nya di dinding.
"Kan tadi Firda ngantuk, Ummi..."
"Ya juga..." gumam Firda.
"Jangan lupa dhuha habis ini. ingat, jangan pelit sama ibadah!" seru ibu nya kemudian ia berlalu keluar dari kamar Firda setelah selesai membereskan ranjang Firda.
Setelah ibu nya keluar, Firda mengambil kertas memo dan pulpen. Kemudian ia menulis kan apa yg baru saja di ajari ibu nya 'Ingat! jangan pelit sama ibadah, biar pahala nya full dan dapat surga yg terbaik dengan segala isi nya yg sempurna. Biar engga iri sama yg lain!'
Setelah itu Firda menempelkan kertas itu di dinding dan kemudian ia bergegas ke kamar mandi.
.........
"Ini desa nya?" tanya Gabriel sambil memperhatikan setiap jalan yg ia lewati. Ia melirik arloji nya yg menunjukan pukul 9 pagi.
Mereka terbang dari Jakarta tengah malam Dan tak ada siapapun yg tahu.
"Iya, selama ini di sini sebaiknya Tuan jangan menggunakan ponsel, jangan membuka email, pokok nya jauhi Internet. Tidak ada yg tahu anda di sini selain saya..."
__ADS_1
"Bagaiamana jika aku memerlukan sesuatu? Bagaimana jika aku ingin makan steak? Atau bagaimana jika aku ingin masakan Perancis favorit ku?"
John terkekeh mendengar pertanyaan konyol Gabriel "Jika anda masih hidup, anda masih bisa menikmati semua itu nanti. Dan saya tidak yakin di sini ada masakan Perancis, kecuali anda membuat nya sendiri begitu juga dengan steak"
"Lalu bagaimana dengan perusahaan?"
"Saya dan Emely akan mengurus nya, anda jangan khawatir. Dan ini..." John menyerahkan sebuah ponsel jadul pada Gabriel "Jadikan ponsel ini satu satu nya alat komunikasi, ini tidak akan bisa di lacak dan jangan berikan nomor ponsel ini pada siapapun" tutur John dengan sangat serius.
"Kau seperti kakek kakek sekarat yg sedang berwasiat" tukas Gabriel datar yg membuat John hanya geleng geleng kepala.
Kemudian mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana, ada seorang wanita yg menunggu mereka di sana.
John dan Gabriel turun dan wanita itu segera menyambut nya.
"Tuan John... " sapa wanita itu.
"Bawakan barang barang nya!" titah John dan wanita itu pun menuruti perintah nya.
"Dimana kamar ku?" tanya Gabriel sambil berjalan masuk dan memperhatikan rumah mungil itu.
"Di sini..." seru wanita itu menggiring Gabriel ke sebuah kamar.
"Kecil sekali..." ujar Gabriel tak suka.
"Setidak nya bisa di tempati" ujar John.
Gabriel berjalan masuk, kamar itu bagi nya kecil, sangat kecil. Gabriel berjalan ke arah jendela, membuka jendela itu lebar lebar sehingga seketika angin menyeruak masuk dan membelai wajah Gabriel dengan begitu lembut, seolah menyambut kedatangan Gabriel.
Gabriel merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelum nya, perasaan nyaman dan aman. Apa lagi cuaca desa yg begitu segar, tak ada polusi berlebih, angin nya juga begitu sejuk.
"Baiklah, aku suka di sini" ucap Gabriel sambil memandang ke luar, dimana masih ada begitu banyak pepohonan dan rumput yg hijau. Masih begitu alami, bumi yg alami "Sangat menenangkan"
Tbc...
__ADS_1