
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Bilal yang melihat istri nya memasang jilbabnya. Padahal jam sudah menunjukan pukul setengah 10 malam dan istrinya tidak pernah tidur memakai Jilbab.
"Aku kangen sama Abi, Bi. Jadinya malam ini aku tidur sama Ummi ya" kata Asma yang membuat suaminya itu menghela nafas panjang namun kemudian ia mengangguk mengizinkan.
"Ya sudah, Ummi juga pasti masih butuh teman" kata nya.
"Iya, Abi tidur saja" kata Asma sebelum akhirnya ia menghilang di balik pintu.
Asma pergi ke kamar orang tua nya, kamar yang selalu sama dan tak akan pernah di rubah dari semenjak kedua orang tuanya itu menikah.
Asma mengetuk pintu "Ummi, ini Asma..." kata Asma.
"Masuk, tidak di kunci" terdengar suara parau sang Ibu dari dalam. Asma pun masuk ke dalam dan ia mendapati Ibu nya itu yang sedang meletakkan Al Qur'an ke atas meja.
"Ummi baru selesai ngaji?" kata Asma sembari menutup pintu pelan pelan.
"Iya, tadi Ummi sedih, mikirin Abi. Jadi Ummi ngaji saja, biar tenang" jawab sang Ibu yang membuat Asma tersenyum "Oh ya, kamu kenapa malam malam kesini? Ada perlu apa, Asma?"
"Asma kangen Abi..." lirih Asma "Jadi, malam ini Asma tidur sama Ummi ya" pinta nya.
"Ada ada saja kamu ini, sudah tua masak masih tidur sama Ummi" katanya padahal nyatanya ia merasa senang, setelah beberapa tidur sendirian tanpa sang suami, rasanya akan mengobati rindu jika ada sang buah hati yang mendampingi.
__ADS_1
"Namanya juga kangen, Ummi" jawab Asma.
Kedua nya pun ke atas ranjang dan tidur di sisi ranjang masing masing.
"Masih ada aroma Abi ya, Ummi" lirih Asma kemudian dengan suara tercekat.
"Iya, Nak. Setiap saat Ummi juga bisa mencium aroma Abi" kata sang Ummi kemudian ia memiringkan badannya dan menatap Asma "Asma, Ummi mau minta maaf ya..." lirih nya yang membuat Asma terkejut dan ia pun langsung menatap Ummi nya itu.
"Minta maaf untuk apa, Ummi?" tanya Asma bingung.
"Ummi sama Abi mau minta maaf karena pernah menyakiti mu, Nak. Kami pernah sangat menyakiti mu dan bahkan tidak menghargai mu saat kami memutuskan siapa yang akan jadi imam mu. Selama ini, Abi dan Ummi masih terus merasa bersalah meskipun kami tahu kamu dan Bilal sudah bahagia. Tapi kami tidak bisa melupakan air mata mu, kekecewaan mu dan kemarahan mu dulu. Abi sering mengatakan, bahwa Abi sangat merasa bersalah dan ingin meminta maaf tapi Abi malu, Nak" Asma terenyuh mendengar penuturan Ummi nya itu
"Ummi..." seru Asma kemudian duduk, ia menarik tangan Ummi nya dan menggenggam nya "Asma justru sangat berterima kasih atas Imam pilihan Abi dan Ummi. Asma mendapatkan suami dan mertua yang sangat baik, dan bahkan anak anak yang juga baik. Asma tahu, Ummi dan Abi memilih Bilal untuk masa depan Asma. Bukan karena hasrat semata, tolong jangan meminta maaf, Ummi. Asma jadi merasa malu" kata Asma kemudian ia mengecup tangan Ummi nya yang mulai keriput itu.
"Tentu saja, Ummi. Jika Asma tidak bahagia, mana mungkin ada Faz sama Unyil" jawab Asma sambil terkekeh.
"Alhamdulillah, memang hanya itu yang Abi dan Ummi harapkan, Nak" kata Ummi nya sambil tersenyum lega.
...
Sementara di kamar lain, Amar dan Maryam pun juga sedang mengobrol santai sebelum tidur. Jika biasanya mereka membicarakan masa depan anak anak dan hubungan mereka, kini mereka justru membicarakan Jibril yang menurut mereka mimiliki karakter paling berbeda di antara anak anak keluarga mereka yang lain.
__ADS_1
"Tapi sebenarnya itu bukan hal aneh sih ya, Dad. Kan Ayahnya saja keturunan Mafia, biasanya memang tipe orang yang dingin, berani, tidak takut apapun dan selalu mampu terlihat tenang dalam segala situasi" kata Maryam.
"Bener juga, dan Alhamdulillah nya dia ada di lingkungan yang benar. Karena faktor lingkungan untuk karakter seseorang itu jauh lebih besar pengaruhnya dari pada faktor genetik" kata Amar.
...... ...
Di kamar yang lain, Faraz dan Afsana pun sedang mengobrol santai. Yang mereka bicarakan saat ini adalah anak anak mereka yang ngotot tetap mau disana mumpung liburan panjang.
"Kita izinkan saja kali ya, Bi" kata Afsana.
"Nanti kita fikir fikir lagi, soalnya sih Al kadang suka jahil" kata Faraz.
"Dia mengkem kalau berhadapan sama Jibril"
"Mingkem darimana nya? Tadi saja Jibril di ejek gara gara di sidang sama Daddu Mommy nya" kata Faraz.
"kok Abi tahu?"
"Di kasih tahu sama Ezra"
"Ya sudah, namanya juga anak anak. Jarang jarang juga kan mereka liburan lama di sini, kasihan juga Nenek. Nanti kalau kita pulang, dia kesepian. Jadi kita pulang nya bergilir aja" saran Afsana.
__ADS_1
"Iya, itu ide bagus" jawab Faraz kemudian ia mengecup pipi istri nya itu.
"Pinter benar istri ku ini" ucap nya gemas sementara Afsana hanya terkekeh