
Acara di tutup dengan pembacaan doa dari sang kakek yg dengan serempak di aminkan oleh jemaat nya Firda itu.
"Ya Allah, jagalah keturunan kami yg sedang tumbuh dalam rahim Firda"
"Aamiin..."
"Semoga ia terlahir sehat dan sempurna ke dunia ini..."
"Aamiin..."
"Semoga ia tumbuh menjadi anak yg sholeh sholehah, taat pada agama dan berbakti kepada orang tua"
"Aamiin..."
"Semoga ia menjadi penyemangat kedua orang tua nya, semoga menjadi obat dari segala rasa sakit kedua orang tua nya"
"Aamiin..."
Gio termenung dan ia melirik semua orang yg kini tengah menengadahkan tangan nya dengan mata yg tertutup, mereka tampak berdoa dengan begitu khusyuk dan itu membuat hati Gio malah berdebar.
Setelah acara selesai, kini waktunya mereka makan bersama. Sekali lagi para pelayan merasa aneh karena kini tuan besar mereka dan keluarga nya malah ikutan makan di lantai bersama mereka.
Gabriel dan Gio tanpa sadar menikmati kehangatan itu, dimana mereka lupa dengan masalah yg sedang mereka alami, lupa dengan beban mereka dan merasa begitu bebas.
Apa lagi saat melihat keceriaan di wajah Firda saat berada di tengah keluarga nya, canda tawa nya membuat Gabriel dan Gio sama sama tak bisa menyembunyikan senyum di bibir mereka.
"Fir, kata nya kamu mau BBQ an, kok malah pesan makanan?" tanya Ummi Aisyah pada anak nya yg masih menikmati hidangan nya itu. Selain makanan pokok, Firda juga memesan beberapa cemilan untuk mereka makan bersama.
"Besok malam saja, Ummi" jawab Firda.
Gabriel kini berpindah posisi duduk, ia duduk di samping istri nya itu dan ia mengelap sudut bibir Firda saat ia melihat ada sisa nasi di sudut bibir nya.
__ADS_1
"Tapi besok siang kami sudah pulang, Fir" sambung ayah nya yg membuat Firda langsung melotot terkejut.
"Hah? Kenapa cepat nya?" pekik Firda dan kemudian ia memasang wajah cemberut nya, yg kesal dan juga sedih.
"Pulang nya nanti saja ya, Bi. Firda masih kangen" kata Firda merengek manja.
"Iya, Bi. Lagian kan semenjak Firda tinggal di sini, kalian tidak pernah ke sini" sela Gabriel.
"Nanti aku bicara lagi sama Abi ya, Fir. Kamu jangan cemberut, nanti anak mu lahir nya cemberut" goda Abi nya yg membuat Firda malah memanyunkan bibir nya.
"Aaa, Abi... Pokok Firda mau Abi Ummi sama kakek nenek di sini" rengek Firda seperti bayi yg meminta mainan baru.
"Iya iya" sambung nenek nya yg membuat Firda memekik senang.
Setelah semua nya selesei berikut acara makan makan nya, kini Firda dan Gabriel langsung masuk ke kamar mereka karena Firda harus beristirahat. Begitu juga dengan anggota keluarga yg lain.
Sementara para pelayan membersihkan ruangan itu yg kotor, mereka melakukan nya sambil sesekali membicarakan sosok sang Nyonya muda yg penuh dengan kejutan itu.
"Iya, benar bener tidak menyangka. Mereka begitu rendah hati juga"
"Mereka juga sangat baik dan tidak memandang orang lain dari pekerjaan nya, aku tidak menyangka tadi bisa duduk berdampingan dan makan bersama dengan Nyonya Firda dan mama juga nenek nya"
"Iya, orang baik seperti Nyonya Firda pasti selalu bahagia ya"
"Iya, dan pasti semua orang mencintai nya. Tidak mungkin orang sebaik Nyonya Firda tidak di cintai"
Dan masih banyak yg mereka bicarakan tentang Firda, hal itu juga di dengar oleh Gio.
Lagi lagi hati nya berdebar dan seolah sedang tergerak. Ia juga memikirkan hal yg sama.
Jika Gio berhasil membunuh Firda, apa yg akan terjadi pada keluarga Firda yg begitu baik dan rendah hati? Fikir nya, apa lagi Gio melihat kalau keluarga Firda itu sangat mencintai Firda.
__ADS_1
Gio bergegas ke kamar nya untuk menenangkan fikiran nya yg semakin kacau, antara balas dendam dan sebuah kebaikan yg sulit ia tolak.
.........
Keesokan pagi nya, Gio bangun pagi pagi sekali seperti biasa.
Sementara keluarga Firda yg memang Sudah bangun sejak subuh untuk melaksanakan sholat, kini sudah keluar dari kamar nya masing masing dan duduk di sofa yg ada di ruang keluarga.
"Gio..." panggil Kakek Firda saat ia melihat Gia yg hendak masuk ke kamar nya.
"Ya Tuan?" Gio langsung mendatangi kakek Firda dan menyunggingkan senyum ramah nya.
"Apa kamu sedang sibuk?" tanya sang kakek.
"Tidak, Tuan" jawab Gio.
"Berhenti memanggil ku Tuan, Gio. Ayo, duduk lah bersama kami dan ayo mengobrol. Karena setelah ini aku tidak tahu apakah bisa melihat mu lagi atau tidak" kata Sang kakek yg membuat Gio tersenyum samar kemudian ia duduk di sofa yg ada di depan kakek nya itu.
"Aku dengar dari Firda, kata nya kamu tidak pernah pergi ke desa. Apa itu benar?" tanya nya dan Gio mengangguk masih mempertahankan senyum samar nya.
"Aku ingin sekali mengajak mu ke desa, tapi kamu pasti sangat sibuk ya" tukas sang lagi.
"Iya, Tuan. Aku bertugas menjaga Nyonya Firda" jawab Gio.
"Gio, berhenti memanggil ku, Tuan. Kenapa kamu memanggil ku tuan dan tuan lagi. Aku sudah terlalu tua dan lemah, panggil saja aku kakek" ujar sang kakek. Bersamaan dengan itu Firda juga datang bersama Gabriel.
"Selamat pagi semua nya" sapa Firda girang karena ia melihat keluarga nya kembali, semua orang menjawab sapaan Firda begitu juga dengan yg lain.
"Hari ini hari libur keluarga, jadi kita semua di rumah saja ya, kumpul kumpul" ajak Firda.
"Iya, Sayang" jawab Gabriel dengan senang hati.
__ADS_1
Alhasil, mereka memang menghabiskan waktu bersama selama seharian, hal itu sangat di sukai Gio dan Gabriel yg merasakan indahnya kebersamaan dan hangat nya sebuah keluarga.