
Gabriel membeli semua barang barang yg di butuhkan oleh Firda dan Mickey, termasuk pakaian ganti mereka berdua. Dan yg terpenting adalah makanan, juga amunisi untuk Gabriel.
Setelah membeli semua nya, Gabriel singgah di loket telpon umum untuk menghubungi ibu mertua nya dan ibu nya Michael.
"Pantas saja seharian ini telpon Firda engga aktif"
"Iya, Ummi. Kami sedang jalan jalan di puncak dan di sini sudah sinyal, kami akan menghubungi Ummi dan Abi setelah kami pulang" Gabriel berkata dengan lirih, ini bukan pertama kali nya ia berbohong, tapi entah kenapa ia merasa begitu berdosa karena kebohongan nya pada mertua nya itu. Hanya ini yg bisa Gabriel lakukan untuk membuat mereka tidak khawatir.
"Memang nya kalian mau berapa hari di sana? Dan Firda itu kan sedang hamil, memang nya boleh berada di puncak?"
"Hanya sebentar, Firda dan kandungan nya baik baik saja. Aku sengaja membawa nya ke puncak supaya dia refreshing, bagus juga untuk ketenangan nya yg akan berpengaruh pada kehamilan nya.
" Hem, begitu ya? Baiklah, tolong jagain Firda ya, Gabriel. Dia masih kekanak kanakan kadang, Ummi khawatir dia tidak tahu cara merawat diri dan janin nya. Biasa nya dia nakal sekali dan suka makan yg sembarangan, yg tidak sehat"
"Ummi jangan khawatir, sekarang Firda kan sudah menjadi calon ibu, dia sangat tahu yg mana yg baik untuk anak kami" Gabriel berkata dengan begitu tulus, seandainya Gabriel tak mengenal Firda sebelum menikah, mungkin Gabriel takkan percaya apa yg di katakan ibu mertua nya, karena sikap Firda sekarang yg berbanding terbalik dengan dulu. Gabriel tahu, betapa kekanak kanakan nya Firda, tapi sekarang?
"Iya sih, Ummi tahu. Semua wanita akan bersikap keibuan saat akan menjadi ibu..."
Gabriel menoleh ke kanan ke kiri, ia harus segera pergi sebelum ada yg menemukan nya atau mencium jejak nya.
"Ummi, aku akan segera menghubungi Ummi kembali nanti..."
"Baiklah, Nak. Jaga diri ya, jangan lupa sholat" seru Ibu mertua nya yg membuat Gabriel mengulum senyum samar.
"Iya, Ummi. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Sekarang Gabriel mencoba menghubungi Angeline, ia melakukan itu karena masih perduli dengan perasaan Angeline sebagai ibu Michael, meskipun selama ini Angeline tidak pernah perduli dengan perasaan Gabriel sebagai ayah Micheal. Meskipun jika boleh jujur, Gabriel perduli karena Firda pasti perduli.
..........
__ADS_1
Angeline yg masih menangisi putra nya mendapatkan telpon dari nomor yg tidak di kenal, ia pun langsung menjawab nya dengan harapan itu adalah Gabriel dan benar saja, itu memang dia...
"Angeline..."
"Dimana putra ku, sialan?" teriak Angeline antara marah dan takut.
"Angeline, aku tidak menculik Michael. Aku hanya mengamankan nya" terdengar ucapan Gabriel yg penuh penekanan.
"Membawa nya tanpa izin ku dan menodongkan senjata pada pelayan, baby sitter dan juga pada security, itu bukan penculikan, huh? Kamu memegang pistol di depan putra ku, sialan" Angeline berteriak frustasi.
"Itu karena aku tidak percaya siapapun di sekitar mu, Angel. Apa kamu tahu? Di kamar Michael ada kamera tersembunyi?"
Angelina langsung mengernyit mendengar apa yg di katakan Gabriel, karena bagi nya itu tidak mungkin.
"Apa mak...."
"Michael akan baik baik saja, aku hanya ingin memberi tahu itu"
"Gabriel, sialan..." pekik Angeline marah dan ia melempar ponsel nya.
..........
Michael terbangun dari tidur nya dan ia langsung menangis, membuat Firda cemas dan merasa kasihan, apa lagi saat Micheal memanggil Mommy nya.
"Mickey, Sayang..." Firda mencoba menenangkan nya namun Micheal masih menangis dan ia bahkan tidak mau di sentuh oleh Firda. Apa lagi lampu yg masih dalam keadaan mati, membuat Micheal menangis takut.
"Mau pulang, hua.... Mommy... Mommy..." Micheal bahkan menendang nendangkan kaki nya.
"Huaaa... Takut gelap, Mommy" teriak nya lagi.
Firda merasa takut, ia takut untuk menyalakan lampu, namun ia juga tidak tahu cara menenangkan Micheal.
__ADS_1
"Micheal, Tante akan nyalakan lampu nya, asal Micheal berhenti menangis ya..." bujuk Firda bernegosiasi, namun tangis Micheal justru semakin menjadi.
"Hua... Mommy...huaaaaa..."
"Sayang, adik nya sedih kalau abang Mickey menangis" ucap Firda sembari mengerang lirih karena ia merasakan kram di bagian bawah perut nya dan rupa nya itu berhasil membuat Micheal terdiam.
Dan beberapa saat kemudian, lampu menyala dan Gabriel muncul di hadapan mereka. Firda bernafas lega karena akhir nya suami nya datang juga.
"Ada apa, Nak?" tanya Gabriel lembut pada Micheal yg masih berlinang air mata.
"Mau.... Hiks... Pulang... Mommy..." ujar Micheal dengan suara terbata bata.
Sementara Firda memegang perut nya yg semakin terasa kram, ia meringis sakit dan Gabriel tentu langsung panik saat melihat Firda yg tampak kesakitan.
"Sayang, Firda..." Gabriel langsung membaringkan Firda di ranjang, sementara Micheal terdiam takut saat melihat Firda yg meringis kesakitan.
"Sayang, kita ke Dokter..." ujar Gabriel namun Firda menggeleng.
"Air..." bisik nya, Firda memang sangat haus sejak tadi, ia juga lapar, belum lagi kecemasan yg menekan nya karena apa yang terjadi dan kemungkinan apa yg akan terjadi.
Gabriel langsung mengambil air yg ia beli, membuka tutup nya dan memberikan nya pada Firda.
"Kamu lapar?" tanya Gabriel dan Firda mengangguk lemah. Air mata bahkan menetes tanpa sengaja dari sudut mata nya, entah kenapa ia ingin menangis sekarang.
Gabriel yg melihat air mata Firda mengalir di pipi nya langsung menghapus nya dengan lembut.
"Jangan menangis, Sayang. Kita akan segera pulang" kata Gabriel menghibur, Firda hanya mengulum senyum samar.
"Michael mau ikut masak? Untuk Tante cantik dan adik bayi..." ajak Gabriel agar Micheal juga terhibur, dan ia berharap dengan mengajak ya beraktifitas Micheal tidak akan terlalu memikirkan ibu nya.
Michael hanya mengangguk lemah, sementara pipi nya masih basah karena air mata. Gabriel juga menghapus air mata itu dengan sangat lembut. Kemudian ia mengangkat Micheal kedalam gendongan nya.
__ADS_1
"Istirahat lah, Sayang. Aku sudah menghubungi Ummi dan Angelina" ujar Gabriel pada Firda yg membuat Firda sedikit merasa lega.