Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 259 - Zachary Glatzel


__ADS_3

"Micheal, kenapa kamu tidak ganti baju? kamu pasti belum mandi ya?" tanya Firda sembari menyajikan makanan untuk anak anak nya itu.


"Belum, tadi pas sampai rumah aku langsung samperin Aira, Mom" jawab Micheal.


Hari ini ia dan Jibril memang baru pulang dari pondok pesantren nya, setelah menunggu lama akhir nya liburan yang ia tunggu datang juga dan setiap kali pulang liburan, Micheal akan pulang ke rumah Firda terlebih dahulu.


"Mandi dulu dong, Micheal. Biar engga nempel kuman ya" ujar Gabriel "lihat tuh Jibril, dia sudah mandi dan gant baju"


"Aku tadi engga sabar mau ketemu Aira, Dad. Aku penasaran apa dia sudah bisa berkuda dan memanah" jawab Micheal membela diri.


"Sudah bisa adik mu itu" jawab Gabriel, sementara Aira hanya tersenyum mendengarkan obrolan Abi dan Kakak nya itu. Jika biasa nya anak lain melihat perdebatan Ibu dan Ayah mereka, maka hal itu tidak berlaku di keluarga Firda karena Yang sering berada argumen di sana adalah Gabriel dan Mikail.


"Oh ya, Dad. Aku minta uang ya" ujar Micheal di sela ia menikmati makan siang nya.


"Uang untuk apa?" tanya Firda


"Mau membelikan hadiah untuk Aira" jawab Micheal sembari mengedipkan mata nya pada adik nya itu sementara Aira hanya menahan senyum.


"Hadiah apa lagi?" tanya Ummi Aisyah.


"Kuda putih yang perempuan" jawab Micheal yang membuat Firda dan Gabriel langsung menyoroti Aira yang sedang makan dengan tenang.


"Kuda? Aira sudah punya tiga kuda, untuk apa lagi beli kuda?" tanya Firda setengah menahan kesal.


"Kan semua kuda nya laki laki, Mom. Tidak baik Aira menunggangi kuda laki-laki, bukan mahram" jawab Micheal yang membuat semua orang yang ada di meja makan itu tertawa.


"Mahram cuma berlaku untuk manusia, Micheal. Kamu sudah tiga tahun di pondok pesantren masak tidak tahu" tukas Gabriel.


"Ah ya, Dad. Ngomong ngomong soal pesantren, aku mau berhenti saja" ungkap Micheal yang membuat semua orang langsung menatap nya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Firda.


"Pengen nikah saja, Mom. Sama Aini, nanti keburu di ambil orang dia" ungkapan Micheal itu kembali membuat semua orang tertawa.


"Micheal, perdalam dulu ilmu agama mu. Jangan seperti daddy, buta agama. Kamu itu calon imam, Micheal" tukas Gabriel dengan sangat serius yang membuat Micheal tertawa. Sebenar nya ia bukan nya benar benar ingin menikah, namun ia memang malas belajar pondok pesantren yang liburan nya hanya dua kali setahun.


"Tapi kalau kamu memang kamu mau menikah, ya tidak apa apa" ujar Firda kemudian "Dari pada terjadi zina, memang nya sudah izin sama Mommy Angel?"


"Hehe, cuma bercanda, Mom. Aku cuma malas karena liburan nya cuma sebentar, malah cuma dua kali setahun" gerutu Micheal. Sementara Jibril sejak tadi hanya menyimak dalam diam dan makan dengan tenang.


"Kamu ini, nanti kalau sudah lulus dari pesantren, pasti kamu kangen masa masa di pesantren. Pengen mengulang waktu.." sambung Abi Farhan yang membuat Micheal cengengesan.


"Oh ya, bagaimana dengan mu, Jibril? Kamu betah di sana?" tanya Gabriel. Baru setahun ini Jibril belajar di pondok pesantren yang sama dengan Micheal.


"Betah, Dad" jawab Jibril singkat.


"Kenapa bicara begitu?" tanya Ummi Aisyah.


"Sikap nya dingin seperti es batu, kalau bicara irit. Bisa bisa mati berdiri istri nya nanti" ungkap Micheal sementara Jibril hanya menanggapi nya dengan senyum simpul.


"Jangan salah, sikap ayah mu juga sama seperti Jibril" Firda menimpali "Dia juga dingin seperti es batu, bicara nya irit, tapi tetap dapat jodoh kan?"


"Iya sih, jodoh nya wanita sebaik Mommy lagi"


Obrolan mereka terus berlanjut sampai makan siang mereka usai, dan setelah makan siang, Aira pulang ke rumah nya sendirian.


Dan sesampainya di sana, Aiara membuka laptop nya dan kembali membaca sebuah artikel yang memuat lomba pacuan kuda. Aira ingin sekali ikut namun ia tak berani mengatakan keinginan nya itu pada orang tua nya karena ia masih di bawah umur.


"Padahal pasti seru kalau bisa ikut" gumam Aira.

__ADS_1


"Ikut apa?" Aira terperanjat mendengar suara Kakak kedua nya itu.


"Bukan apa apa, Kak Jay" jawab Aira dengan cepat ia menutup laptop nya.


"Lomba pacuan kuda?" tanya Jibril dengan tenang yang membuat Aira tercengang, dari mana kakak nya tahu?


"Kamu benar benar ingin ikut?" tanya Jibril lagi.


"Tapi pasti tidak di bolehin" lirih Aira.


"Sekalipun Daddy sama Mommy ngizinin, pasti kamu tidak di terima. Kamu masih di bawah umur" tukas Jibril kemudian ia duduk di tepi ranjang adik nya itu.


"Tapi ingin sekali ikut, Kak. Apa lagi setelah lulus SMP sudah harus pergi ke pesantren" lirih Aira sedih. Jibril terdiam sejenak, ada rasa kasihan jika keinginan adik nya tidak terpenuhi.


"Kamu tenang saja, kakak akan membuat kamu berpartisipasi dalam lomba itu" tukas Jibril yang membuat Aira langsung memekik senang.


...


"Apa? ikut lomba pacuan kuda? Dia masih di bawah umur" pekik seorang pria remaja yang saat ini sedang berbicara di telfon.


"Zach, kamu bisa memalsukan identitas nya. Aira memakai cadar, jadi tidak akan kelihatan apakah dia sudah tua atau masih muda. Selain itu postur tubuh Aira juga tinggi"


"Resiko nya besar, Jay. Tapi akan aku coba membuat identitas palsu untuk tuan putri mu itu"


"Baiklah, sudah dulu"


Dan sambungan telfon pun terputus, membuat Zach meringis.


"Kenapa anak satu ini benar benar to the point orang nya? Tidak basa basi nya sedikit pun" gerutu nya

__ADS_1


__ADS_2