
Sejak Firda keluar dari kamar nya, sejak saat itu Mini terus melirik pintu berharap Gio datang, namun setelah tadi apa yang Mini katakan, Gio tak juga datang. Sekarang Mini hanya berdua dengan Gerry, sesekali Mini menghela nafas panjang seolah menenangkan diri yang memang perasaan nya sedang tidak baik baik saja. Ia terngiang ngiang kata Firda, mungkin diri nya memang keterlaluan karena terus mengungkit siapa jati diri Gio apa lagi sampai mengatakan Gio pendosa.
"Aku aja banyak dosa ya" gumam Mini.
"Apa nya, Min?" tanya Gerry yang mendengar gumaman Mini.
"Bukan apa apa" kata Mini "Oh ya, tuan muda mu dimana? Dia pulang ke rumah Firda?"
"Iya"
"Hah?"
"Kenapa terkejut? Tuan muda kan juga butuh istirahat" Mini kembali menghela nafas panjang.
"Kenapa, Min? Sudah kangen ya?" tanya Gerry sambil tersenyum simpul.
"Iya, kangen. Bilang ya, sama tuan muda itu. Aku benar benar kangen" jawab Mini asal karena kesal.
"Kalau bicara sama calon mertua mau, Min?" tanya Gerry tiba tiba yang membuat Mini mengernyit namun ia masih mengira Gerry hanya bercanda.
"Boleh, biar aku kasih tahu sama mertua kalau aku tidak bermaksud menyinggung Tuan muda"
"Nih..." tiba tiba Gerry menyerahkan ponsel nya yang menyala pada Mini, Mini terkejut saat melihat nama Don Eduardo tertera di sana dan panggilan sedang berlangsung sejak tiga menit yang lalu.
"Ah, apa yang kau lakukan?" tanya Mini namun hanya dengan gerakan bibir saja.
"Halo, Mini...." Mini semakin terkejut saat mendengar suara berat sang Don Mafia "Aku sudah dengar apa yang terjadi antara diri mu dan Gio"
"Si tuan muda mengadu?" tanya Mini kemudian yang membuat Eduardo terkekeh.
"Gio bukan tipe orang yang suka mengadu, tapi orang yang ada di samping mu itu adalah telinga dan mata ku. Aku bahkan bisa tahu jika ada lalat yang hinggap di pundak Gio meskipun aku tidak di sana"
"Apa semua keluarga Mafia begitu?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Mini.
"Hem aku rasa mungkin, semua anggota keluarga akan punya mata mata sekaligus bodyguard untuk melindungi. Karena hidup menjadi bagian dari kami itu sulit dan setiap detik nyawa bisa melayang"
"Iya sih, bukti nya Firda. Bukan hanya Firda yang dalam bahaya, bahkan semua yang punya hubungan dengan Firda ada dalam bahaya" kata Mini.
"Jadi apa kau siap menjadi seperti Firda, Min?"
"Hah, maksud nya?"
__ADS_1
"Aku sedang melamar mu untuk Gio"
"Huh????"
...
Sementara itu, Firda sedang menyiapkan makanan untuk para tamu mereka dan memang benar Gio ikut pulang karena Gio sudah kesal dengan Mini yang beberapa kali mengungkit dosa nya.
Saat ini semua orang sudah ada di meja makan, kecuali Firda yang masih berada di dapur untuk mengambil ayam goreng dan Gio yang juga sibuk makan buah. Sementara Gabriel masih mandi karena sudah berapa hari ini ia tidak mandi.
"Kamu kenapa sih murung terus? Minggir dulu..." kata Firda karena Gio bersandar di pintu kulkas dengan wajah yang terlihat murung namun mulut nya sibuk mengunyah buah apel.
"Kamu... Eh maksud ku, apa kamu pernah menghitung dosa Gabriel, Firda?" tanya Gio yang membuat Firda tercengang namun kemudian tergelak.
"Kamu fikir aku malaikat Atid apa" kata Firda masih tertawa.
"Maksud nya?" tanya Gio yang tak mengerti.
"Yang bertugas mencatat amal buruk itu Malaikat Atid, kalau aku sebagai istri ya cuma bertugas melayani suami dengan baik, menjadi Ibu yang baik untuk anak kelak. Urusan dosa itu mah urusan Tuhan, kalau yang bertugas mencatat amal buruk ya Malaikat Atid" kata Firda yang membuat Gio mangut mangut sembari kembali menggigit apel nya.
"Minggir dulu, aku mau ambil selada" kata Firda dan Gio pun menyingkir dari pintu kulkas yang sejak tadi di tempeli nya.
"Terus kalau misal nya ada orang yang mengatakan kita pendosa, terus kita tersinggung, kita harus bagaimana?" tanya Gio lagi.
"Terus kalau kita sadar itu salah tapi kita tidak bisa berhenti, bagaiamana?" tanya Gio lagi masih mengekori Firda seperti anak ayam yang mengekori induk nya.
"Bisa, selama ada kemauan di situ pasti ada jalan. Tinggal kamu niat dan tekad nya aja kuatin, Tuhan pasti kasih jalan" jawab Firda dan ia membawa piring yang tadi yang sudah di isi ayam goreng ke meja makan.
"Terus kalau..."
"Gio..." lagi lagi suara Gabriel menggelegar di dapur membuat semua orang menatap nya. Gabriel baru saja selesai mandi dan rambut nya bahkan masih setengah basah.
"Kamu kenapa menempeli istri ku terus?" tanya Gabriel sewot sambil melangkah masuk.
"Aku hanya sedang membicarakan sesuatu yang penting" kata Gio mengacuhkan tatapan kesal Gabriel.
"Bicara pada ku saja, jangan sama istri ku" kata Gabriel ketus.
"Aku tanya hukum, kamu tidak akan mengerti" kata Gio sambil menarik kursi.
"Tanya sama Nenek saja sana, Nenek lebih banyak ilmu nya dari pada Firda" Gio mendengus mendengar ucapan Gabriel yang selalu sangat menyebalkan bagi nya. Sementara Firda dan Kakek Nenek nya hanya bisa terkekeh.
__ADS_1
Beda hal nya dengan Angeline yang terlihat bingung tingkah Gabriel itu, sikap yang tak pernah Angeline lihat sebelum nya.
Gabriel duduk di samping Firda, sementara Micheal duduk di samping Angeline dan Frank yang juga menatap aneh Gabriel.
"Sayang, kamu makan ayam nya yang banyak ya. Biar bayi kita sehat.." kata Gabriel sembari mengambil dada ayam untuk Firda, lagi lagi pemandangan yang membuat hati Angeline mencolos apa lagi selama ia mengandung Micheal, Angeline tidak sedikitpun merasakan perhatian Gabriel. Gabriel juga mengambilkan air untuk Firda, bahkan ia memotongkab dada ayam nya sehingga Firda tinggal makan saja. Angeline yang melihat itu benar benar takjub, tidak menyangka sekaligus cemburu karena ternyata Gabriel benar benar berbeda saat ada di depan istri nya.
"Ayo di tambah, Nak.." seru sang Kakek karena melihat kedua tamu nya hanya diam saja "Jangan sungkan kalau di sini, anggap saja keluarga sendiri" lanjut nya.
'Terima kasih" lirih Angeline tersenyum kaku.
"Oma, tidak mau ini..." rengek Micheal menunjuk kulit ayam yang ada di piring nya.
"Sini, biar Oma yang makan" kata Nenek kemudian mengambil kulit ayam yang secuil itu.
"Oma, daging nya mau lagi..." seru Micheal lagi yang membuat pupil mata Angeline langsung melebar.
"Mickey, jangan begitu" ucap Angeline setengah berbisik namun tentu orang orang di samping nya masih mendengar nya.
"Tidak apa apa, Nak. Nama nya juga cucu, pasti mau manja sama Oma nya" kata Nenek yang sekali lagi membuat Angeline hanya bisa tersenyum kaku. Ia dan Frank saling pandang, keluarga yang pernah mereka anggap tidak baik ternyata sangat jauh dari ekspekstasi mereka.
"Oma, mau di suapi saja..." kembali Micheal merengek manja dan memang di depan nya sudah sangat berantakan, nasi Micheal sudah ada dimana mana dan memang begitu lah kalau dia makan sendiri.
"Sama Mommy saja, Mickey" kata Angeline dengan cepat. Ia merasa malu sendiri karena Micheal benar benar manja pada keluarga Ibu tiri nya itu.
"Lagian dari tadi mau Mommy suapi kamu tidak mau" gerutu Angeline.
"Dia harus belajar mandiri, Angel. Usia nya sudah lima tahun..." tegas Gabriel dan Angelin tak lagi menanggapi nya.
Mereka pun kembali melanjutkan makan sampai selesai, di tengah makan sesekali Micheal berulah, minta ini itu entah sama Oma nya, Opa nya atau sama Ibu tiri nya. Namun mereka semua tampak sabar menghadapi Micheal.
Setelah makan, Angeline dan Frank pun berpamitan pada semua keluarga Firda karena mereka sudah harus pergi tentu dengan membawa Micheal. Dan karena Gabriel masih tidak benar benar sehat, Gabriel menyuruh orang nya untuk mengantar Angeline.
Sebelum pergi, Micheal memeluk Firda dengan erat seolah ia enggan berpisah dengan Ibu tiri nya itu. Namun Firda menjelaskan kalau Micheal bisa ke desa kapan pun Micheal mau dan hal itu bisa sedikit menghibur putra suami nya itu.
Saat dalam mobil, Micheal terus menoleh melihat keluarga Ibu tiri nya yang masih memperhatikan mobil mereka. Begitu juga dengan Angeline dan Frank.
"Bukankah itu keluarga yang baik?" kata Frank sambil terkekeh pelan.
"Hem, sebuah keluarga impian. Tidak heran Micheal betah di sana"
"Apa menurut mu mereka memang tulus atau sandiwara?"
__ADS_1
"Entahlah, tapi jujur saja sebenar nya aku merasa nyaman ada di antara mereka. Satu satu nya yang mengganjal hanya rasa cemburu" lirih Angelin dan Frank langsung mengusap pundak Kakak perempuan nya itu.
"Kamu juga akan menemukan pengganti nya nanti" ia menghibur sang kakak dan Angeline menanggapi nya dengan senyum.