
Firda terus memikirkan keadaan nya sekarang dan pilihan apa yg harus ia ambil, ikut suami atau tetap memilih apa yg di inginkan nya?
Setelah berfikir cukup lama, Firda memutuskan untuk ikut dengan suaminya. Namun sebelum itu Firda harus kepesantren untuk berpamitan pada pengurus pesantren dan teman teman nya. Gabriel pun tentu mengizinkan dan ia berjanji, jika memang Firda masih sangat ingin melanjutkan pendidikan islami nya maka Gabriel akan mencarikan sekolah islami yg bagus di Jakarta.
Dan setelah membicarakan semua itu dengan keluarga besar Firda, akhir nya Farhan pun mau tak mau harus setuju dengan keputusan Firda. Farhan, Aisyah dan juga Kakek mengantar Firda ke pesantren nya untuk berpamitan dan mereka jujur bahwa Firda berhenti karena Firda dinikahkan, walaupun kabar itu sangat mengejutkan dan hampir tidak bisa di percaya mengingat Firda baru setengah tahun di pesantren. Namun Firda memberikan alasan bahwa pernikahan nya tidak akan menghentikan nya untuk menempuh pendidikan melainkan hanya berpindah tempat pendidikan saja. Firda juga berpamitan pada teman teman nya dan tentu mereka sangat sedih karena kehilangan teman yg asyik dan baik seperti Firda.
Setelah mengurus pesantren dan lain nya, akhir nya Firda benar benar harus ikut suami nya pulang ke kota nya.
..........
Firda menyusun beberapa lembar pakaian nya dan ia membawa banyak sekali buku dan kitab kitab, bahkan koper nya penuh karena barang barang itu.
Firda menutup koper nya yg sudah penuh, kemudian ia terdiam merenung memikirkan masa depan nya dan Gabriel. Akan jadi seperti apa pernikahan nya dan Gabriel? Dan bayi dalam rahim nya?
Firda memegang perut nya dan saat itu Gabriel masuk ke kamar nya.
"Dia akan baik baik saja" seru Gabriel. Semenjak Firda menyatakan diri nya hamil Firda menjadi lebih pendiam bahkan ia jarang marah marah pada Gabriel, tentu hal itu membuat Gabriel senang apa lagi Firda tak pernah lagi protes saat Gabriel tidur di ranjang bersama nya. Firda juga masih selalu membantu Gabriel agar bisa beribadah dengan benar walaupun terkadang Firda memelototi nya saat Gabriel sulit di bangunkan untuk sholat subuh.
"Aku mau menemui kakek dan nenek" seru Firda kemudian dan Gabriel mengangguk mengiyakan.
Gabriel mencoba menarik koper Firda dan ia terkejut karena koper Firda sangat berat.
__ADS_1
"Apa saja yg dia bawa?" gumam Gabriel dan ingin sekali ia memeriksa koper Firda karena merasa sangat penasaran, namun Gabriel menahan rasa penasaran nya karena ia tak ingin kena marah lagi.
Sementara Firda kini sudah berada di kamar kakek nenek nya.
"Ada apa? Sudah siap siap belum? Jemputan nya mungkin sebentar lagi datang" seru sang nenek.
"Sudah" jawab Firda dan ia pun duduk di tepi ranjang sang nenek sembari melihat nenek nya yg memasukan beberapa pakaian kedalam lemari. Sementara sang kakek masih menyelesaikan bacaan kitab nya.
"Ada apa, Nak?" tanya sang kakek kemudian mengembalikan kitab nya ke atas meja.
"Mau pamitan"
"Oh begitu, sudah siap pulang ya, Nak. Suami mu dimana?" tanya sang kekek dan ia pun menghampiri Firda.
"Hem begitu, kamu hati hati di sana ya, Nak. Nanti Abi akan menyuruh Tante mu untuk mengurus pendaftaran mu di pesantren mertua nya. Kamu tidak perlu menginap di pesantren seperti santri yg lain, cukup sekolah biasa saja. Setidak nya biar kamu memiliki ilmu tambahan dan ilmu yg sudah kamu punya bisa di asah lagi" tukas sang kekek dan Firda menggangguk mengerti.
"Kamu masih tampak sangat sedih, Fir. Berhentilah bersedih, Nak. Karena mau bagaimana pun yg terjadi sudah terjadi dan waktu tidak bisa di putar kembali" tutur sang kakek lagi yg membuat Firda sedikit merasa heran dengan maksud dari omongan kakek nya.
"Kakek dengar, Gabriel tidak begitu memahami ilmu agama" tukas sang kekek lagi.
"Apa Abi yg memberi tahu nya?" tanya Firda karena Firda sudah meminta Abi dan Ummi nya agar tidak memberitahukan hal itu pada siapapun. Karena bagaimana pun juga bukan hal yg baik jika Firda memberitahukan kekurangan suami nya pada siapapun.
__ADS_1
"Bukan, Gabriel sendiri yg mengatakan itu pada Kakek. Kakek minta kamu harus sabar dalam mengajari nya, Fir. Ajari dia dengan hikmah, kelemah lembutan. Nabi Musa saja masih berdakwah dengan lemah lembut kepada Firaun, masak ia kamu tidak lemah lembut pada suami mu sendiri. Seburuk apapun dia atau sebanyak apapun kekurangan nya, dia kan masih tidak separah Firaun" tukas sang kakek yg membuat Firda hanya bisa cengengesan sementara sang nenek malah tertawa geli.
"Iya, Kek. Asal dia mau di ajari dan tidak menyebalkan" ujar Firda kemudian.
"Jangan seperti itu, sesedikit apapun ilmu nya, status nya adalah imam mu dan kamu harus menghormati nya, Firda" seru sang kakek dan ia tidak terkejut Karena Firda masih menjawab nasehat bijak nya, itulah alasan nya ia selalu mengatakan Firda adalah cucu nakal nya.
"Iya, Kek. Tapi kadang kadang kalau kesal, Firda suka lupa status"
Nah, Firda menjawab lagi dan sang kakek hanya bisa menghela nafas panjang. Sementara nenek nya masih tertawa geli.
Pintu kamar terbuka dan Aisyah muncul dengan wajah yg tampak sedih. Farhan pun juga menyusul dari belakang nya.
"Abi, Ummi..." seru Firda dan ia pun memeluk kedua orang tua nya itu "Sedih deh pisah lagi sama Abi Ummi" ujar Firda sedih dengan wajah masam nya.
"Kamu jangan nakal di sana ya, Fir. Harus tetap belajar dan harus bisa jaga diri" ucap Aisyah dan Firda mengangguk.
Gabriel juga datang dan memberi tahu kalau jemputan nya sudah datang. Koper Firda dan tas nya juga sudah di bawa ke dalam mobil.
Mereka pun mengantar Firda dan Gabriel sampai ke depan, sekali lagi Firda berpamitan dan memeluk semua anggota keluarga nya satu persatu.
"Fir..." Aisyah berbisik di telinga Firda saat Firda memeluk nya "Tetap jaga diri ya, Nak. Jika ada yg melukai mu, menyakiti mu, atau ada yg mencurigakan dari Gabriel. Kamu langsung lapor sama Abi dan Ummi. Dan jangan mudah percaya pada siapapun, ya..." bisik Aisyah dan Firda mengangguk mengerti.
__ADS_1
Karena Firda tahu, dengan meminta Firda tidak mudah percaya pada siapapun bukan berarti Aisyah meminta Firda berburuk sangka, melainkan Aisyah meminta Firda agar berhati hati dan jangan terlalu naif. Dunia itu kejam, hanya karena seorang baik pada orang lain bukan berarti orang lain juga akan baik pada nya. Itu terbukti dengan apa yg terjadi pada Firda sehingga mengharuskan ia terikat pernikahan dengan Gabriel seperti sekarang.