One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
10. Clear?


__ADS_3

***


Zayn tersenyum tipis melihat keterkejutan wanita di depannya ini. Jika dilihat lihat, dari tampilannya saja wanita ini terlihat mahal sekali. Dress hitam yang digunakannya mencetak tubuh indahnya dengan sempurna. Bahkan kulitnya yang putih sangat kontras sekali ketika memakai baju berwarna gelap.


Zayn mengulurkan tangannya namun tak kunjung ada uluran balik dari wanita di depannya ini. Sepertinya wanita ini syok berat karena kembali bertemu dengannya. Mungkin untuk Jenna ini adalah pertemuan mereka yang ketiga namun bagi Zayn, ini entah keberapa kalinya ia melihat wanita cantik ini. Yap, Zayn memang selalu mengikuti gerak gerik Jenna.


Adam yang melihat anaknya diam saja langsung menepuk bahunya agar anaknya ini menerima uluran itu. Hanya dengan satu kali tepukan, Jenna pun tersadar. Mau tak mau Jenna pun mengulurkan tangannya.


Dapat Jenna rasakan jika tangan pria di depannya ini sangat besar dan berurat. Entah seperti apa bentuk pergelangan tangannya jika tidak terbaluk kemeja dan jas mahalnya ini. Sudah pasti urat uratnya terlihat. Jenna terperanjat kaget saat mendapatkan rem*san pada genggaman tangan pria ini.


Hei, tangan Jenna ini kecil jika direm*s seperti itu tentu saja sakit.


"Silahkan duduk, tuan Nagendra," ucap Adam.


"Santai saja om, jangan terlalu formal," ucap Zayn.


"Haha, iya Zayn. Duduklah," ucap Adam.


Jenna yang mendengar ucapan papinya memanggil nama pria ini kembali terdiam. Jadi pria di depannya ini bermana Zayn dan bermarga Nagendra?


Malam itu yang ia ingat hanya huruf depannya saja. Gila, dia kembali bertemu dengan pria yang sudah cek in dengannya di kamar club. Ya, si Mr. Z ini. Satu malam panjang ia habiskan untuk berkeringat dengan pria ini. Jujur saja mengingatnya membuat Jenna jijik sendiri pada dirinya.


Ketika mengingatnya, Jenna tidak henti hentinya untuk mengumpati dirinya yang bodoh ini. Memang benar kan Jenna bodoh?


"Om harus ikut meeting sebentar lagi. Kamu tunggu disini dulu bersama anak om ya," ucap Adam membuat Jenna melirik ke arahnya.


"Enggak pi, kan papi bilang Jenay harus ikut papi ke ruang meeting. Kok jadi harus nunggu disini," ucap Jenna. Tentu saja ia tidak terima jika harus berada satu ruangan lagi dengan pria ini. Sedangkan pria itu tersenyum miring namun tipis sehingga Jenna atau pun Adam tidak melihatnya.


"Jenay, dia tamu papi. Papi cuma sebentar meetingnya. Kasihan dia jauh jauh ke kantor papi loh. Gak papa ya?" Tanya Adam.

__ADS_1


"Enggak pi, gak mau." Jenna tetap kekeuh tidak mau menemani pria ini. Yang benar saja. Kenapa takdir harus mempertemukannya lagi dengan pria ini?!


"Gak boleh gitu Jenay. Kamu udah gede, sosialisasi kamu juga harus lebih luas lagi. Udah ya papi tinggal kamu sama Zayn disini. Gak lama," ucap Adam. Ia pun pergi begitu saja meninggalkan Jenna dan Zayn yang berada di ruangannya.


Sedangkan Jenna langsung menundukan kepalanya saat pria di depannya ini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Tatapan pria ini sangat menyelidik. Bahkan Jenna merasa jika tubuhnya sedang ditelanj*ngi oleh tatapan pria ini.


"Berhenti menatap ku," ucap Jenna.


"Ini mata ku, terserah aku kan?" Tanya Zayn.


"Astaga," gumam Jenna. Ternyata pria ini sangat menyebalkan sekali.


"Aku tidak menyangka jika kita akan bertemu lagi. Dan parahnya lagi ternyata kamu anak dari om Adam. Ternyata dunia sekecil itu ya?" Ucap Zayn.


"Bahkan gue berharap gak ketemu lagi sama pria kayak dia," gumam Jenna yang masih bisa didengar jelas oleh Zayn.


"Stopp!!" ucapab Zayn terpotong karena Jenna lebih dulu menyelanya.


"Gak usah munafik ya om. Anda juga memanfaatkan saya ketika saya sedang mabuk. Saya juga kehilangan kesucian saya karena anda," ucap Jenna.


"Memanfaatkan? Bukannya kamu yang menggoda saya?" Tanya Zayn.


Damn it.


Pria di depannya ini benar benar membuat Jenna emosi sekali. Jenna bahkan tidak mengingat kejadian malam itu seperti apa. Yang ia ingat, ia bangun dalam keadaan yang tidak baik baik saja.


"Salah sendiri kenapa anda tergoda dengan saya? Padahal di club itu masih banyak wanita lain," ucap Jenna tidak mau kalah.

__ADS_1


"Karena memang aku hanya menginginkan kamu, Jennaira," ucap Zayn membuat Jenna menaikan wajahnya. Pria ini mengetahui namanya?


"Tuh kan, seharusnya saya yang meminta pertanggung jawaban dari anda," ucap Jenna. Ia bahkan menunjuk Zayn menggunakan jari telunjuknya. Zayn yang ditatap seperti itu pun berdiri dan duduk di dekat Jenna.


"A-anda m-mau a-apa?" Tanya Jenna saat Zayn mendekat ke arahnya. Zayn bahkan menggenggam telunjuk Jenna dengan telapak tangannya yang besar.


"Bukananya kamu meminta pertanggung jawaban dari saya? Saya akan bertanggung jawab, Jenna. Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk memberitahu papi kamu," ucap Zayn.


What?!!!


Omongan pria ini sangat enteng sekali. Bahkan Jenna saja belum berpikiran sejauh itu. Ia mengatakan ini semua hanya omong kosong saja. Kenapa pria di depannya ini sangat percaya diri sekali jika Jenna akan menerimanya?


"Enggak gitu maksudnya om, astaga. Gini deh, om kan bilang kalo om masih perjaka dan belum melakukan itu. Nah sama juga kayak saya, saya masih di segel. Tapi malam itu om paksa ambil segel saya. Kita impas aja deh, gak usah bawa bawa tanggung jawab. Ngeri," ucap Jenna. Ia menggeser duduknya agar sedikit menjauh dari pria ini. Bukan apa apa, jika dari jarak sedekat ini Jenna bisa dengan jelas melihat wajah tampannya.


Eh..


"Kenapa begitu? Bukannya seharusnya kamu senang karena saya mau tanggung jawab? Memangnya kamu tidak mau bersama saya?" Tanya Zayn.


"Enggak dulu om. Saya baru aja beres pacaran. Mau nikmatin kebebasan saya dulu, masalah ini kita anggap clear aja ya? Meskipun saya tahu nantinya mungkin gak ada cowok yang mau sama saya soalnya saya udah gak virgin. Tapi gak papa. Toh malam itu juga semua terjadi karena kebodohan saya. Please, jangan kasih tahu papi ya?" Pinta Jenna.


Apa yang dikatakan Jenna saat ini memang benar adanya. Ia tidak mau pacaran dulu setelah kemarin ia dikecewakan dengan sebegitunya oleh Mario. Bukan trauma, hanya saja Jenna masih enggan untuk memberikan hatinya pada pria lain.


Sedangkan Zayn, pria itu melihat Jenna dengan tatapan mendalam.


"Bagaimana kalau kamu hamil? Malam itu saya tidak memakai pengaman. Kita beberapa kali melakukannya di malam itu dan saya juga berkali kali mengeluarkannya di dalam," ucap Zayn.


Deg.


__ADS_1


Baju yg dipake jejenn yaa


Tbc.


__ADS_2