
***
Beberapa jam berlalu kondisi Jenna sudah mulai stabil. Ia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Zayn tentunya meminta ruangan vvip. Sengaja karena ia ingin Jenna beristirahat dengan tenang di ruangan ini.
Jenna sudah sadar dari kritisnya dan sudah membuka matanya sejak tiga puluh menit yang lalu. Wanita itu sudah kembali memancarkan senyumnya. Jeni sejak tadi terus berada di samping anaknya. Ia tidak mau meninggalkan Jenna sejengkal pun.
"Mau makan? Kalo mau, maunya makan apa? Biar mami beliin buat Jenna," ucap Jeni.
Jena menggelengkan kepalanya. Ia sedang tidak ingin makan apa apa. Ia hanya ingin diam seperti ini saja. Kejadian tadi masih terekam jelas di ingatannya. Jenna benar benar syok sekali.
"Tapi mami laper, gak ada temennya buat makan. Mau ya makan?" Tawar Jeni.
"Enggak mi, Jenna belum mau makan. Mungkin nanti, sekarang mending mami ke kantin rumah sakit atau ke resto terdekat. Makan dulu nanti kesini lagi, ajak mama Lita juga," ucap Jenna.
"Mami gak mau ninggalin kamu sendirian disini," ucap Jeni.
"Jenna enggak sendirian. Kan ada om Zayn, kalian baru sampai juga kan disini? Gak papa makan dulu dari pada sakit. Nanti siapa yang jaga Jenna kalo mami sakit," ucap Jenna.
"Ya udah, mami tinggal dulu. Zayn, jagain anak tante ya? Tante keluar dulu," ucap Jeni.
"Iya tante. Zayn disini terus kok gak mungkin ninggalin Jenna," ucap Zayn. Jeni mengangguk dan pergi ke luar ruangan rawat Jenna bersama Adam. Di luar ada Lita dan Rendra yang menunggu mereka.
Sepeninggal mami Jeni, Zayn mengambil duduk di kursi yang tadi di duduki oleh mami Jeni. Ia menggenggam tangan Jenna. Pikirannya kembali ke kejadian tadi dimana mamanya bilang kemungkinan ini semua ulah Eliza. Dia yang sejak awal tidak suka pada Jenna apalagi pads hubungan Zayn dan Jenna.
"Kenapa om? Jenna gak papa," ucap Jenna. Ia berusaha menenangkan Zayn.
"Kamu kenapa napa sayang. Itu buktinya tangan kamu di balut perban," ucap Zayn.
"Aku tahu. Ini bekas tembakan tadi, tapi kamu jangan terlalu memikirkan masalah ini sayang. Aku gak mau kamu sakit," ucap Jenna.
__ADS_1
Zayn hanya mengangguk sekilas dan kembali diam. Larut dalam pikirannya. Sedangakn Jenna memegang tangan pria itu. Pandangannya terkejut saat melihat tangan Zayn yang di perban juga.
"Tangan kamu kenapa?" Tanya Jenna.
"Gak papa sayang, cuma luka kecil aja," ucap Zayn.
"Kalo luka kecil gak mungkin pake perban, pasti pake plester. Jangan bilang karena emosi kamu nonjok sesuatu?" Ucap Jenna.
"Maaf sayang, aku gak bisa kontrol emosi aku tadi. Aku bener bener kalut melihat kamu yang bersimbah darah ditambah dengan kondisi kamu yang tadi kritis. Aku benar benar gak bisa nahan emosi aku," ucap Zayn.
Jenna menghela nafasnya dan memegang tangan Zayn yang dibalut oleh perban. "Pasti sakit ya?" Tanyanya.
"Enggak seberapa dibanding sakitnya hati aku melihat kamu yang terluka cukup parah," ucap Zayn.
Jenna terdiam. Ia tidak suka melihat Zayn yang terpukul seperti ini. Entah kenapa hatinya juga ikut ikutan sakit hati.
"Mau kemana? Kamar mandi?" Tanya Zayn.
"Enggak om, bantu duduk aja," ucap Jenna. Zayn pun menurut dan membantu wanita itu untuk duduk. Cukup kesusahan bagi Jenna untuk bangun sendiri karena tangannya sangat terasa sakit sekali.
"Peluk," ucap Jenna. Ia merentangkan sebelah tangannya ke arah Jenna. Zayn tersenyum dan memeluk Jenna. Ia mendaratkan kecupan di kepala wanita itu.
"Makasih karena udah khawatir sama aku, aku sayang sama kamu," ucap Jenna.
Zayn tersenyum mendengar ucapan Jenna. "Sama sama sayang. Sudah seharusnya aku melakukan hal itu. Kamu kekasih ku, kamu wanita ku, kamu calon istri ku. Sudah seharusnya aku menjaga dan mengkhawatirkan kamu."
"Kiss me," titah Jenna. Ia mengadahkan kepalanya. Zayn kembali tersenyum dan mengecup cukup lama bibir Jenna. Hanya mengecup, tidak lebih. Meskipun sebenarnya Zayn sangat ingin memagut bibir itu. Namun ia menahannya.
"Jenna mau bobo lagi. Temenin ya? Jangan pergi pokoknya, harus disini terus," pinta Jenna.
__ADS_1
"As your wish my love," ucap Zayn. Jenna tersenyum dan kembali tiduran kemudian memejamkan matanya. Sebelah tangannya yang kanan memegang tangan Zayn. Ia sangat takut jika Zayn pergi meninggalkannya.
***
Zayn sudah bernegosiasi dengan dokter jika Jenna akan dibawa pulang ke Jakarta saat ini juga. Tadi ia mendapatkan laporan jika Eliza ada di Bali juga. Dugaan mamanya tentang pelaku penembakan ini atas suruhan Eliza sepertinya benar adanya. Namun Zayn tidak memiliki bukti untuk menjebloskan wanita itu ke penjara.
Ia sudah mengatakan pada kedua belah pihak orang tua jika Jenna akan dibawa pulang ke Jakarta saat ini juga. Ia beralasan jika di Jakarta Jenna akan lebih aman. Mereka tentu saja setuju. Apapun itu untuk kebaikan Jenna mereka akan menyetujuinya.
Zayn sudah meminta Math menyiapkan jet miliknya. Dan tak lama setelah Zayn memintanya, jet miliknya sudah siap. Jenna di pangku oleh Zayn keluar dari dalam ruangannya. Mereka akan segera menuju ke Jakarta. Zayn juga sudah menghubungi Ryan jika mereka akan kembali ke Jakarta hari ini.
Zayn dan Jenna juga semua keluarganya langsung melaju menuju ke bandara. Jenna dengan tidak nyaman terus bergerak mencari kenyamanan. Tangannya benar benar pegal sekali.
"Tahan ya sayang, setelah di dalam pesawat nanti kamu bisa tiduran lagi agar tangan kamu tidak pegal," ucap Zayn.
"Kenapa kita harus kembali ke Jakarta secepat ini? Jenna baru aja bangun beberapa jam yang lalu," ucap Jenna.
"Disini ada Eliza sayang. Mama mencurigai Eliza dalang dibalik semua peristiwa ini. Aku baru tahu jika Eliza ada disini dari Math. Math melihat Eliza berada di resort sebelah resort yang kita tempati. Aku ingin menjebloskan dia ke penjara, tapi aku tidak memiliki bukti apapun," ucap Zayn.
"Kayaknya dia obses banget sama kamu deh. Dia bahkan sampai nekat kayak gini kalo beneran ini ulah dia," ucap Jenna.
"Dia depresi, mungkin sudah gila. Seharusnya dia berkeliaran di taman rumah sakit jiwa bukan di luaran seperti itu. Aku benar benar kecolongan sama dia," ucap Zayn.
"Ya udah lah om biarin aja. Toh kita mau ke Jakarta hari ini juga," ucap Jenna.
"Kamu benar sayang," ucap Zayn.
Mobil yang mereka tunggangi pun sampai di bandara. Zayn keluar lebih dulu kemudian menggendong Jenna naik ke atas pesawat pribadi miliknya. Padahal kaki Jenna tidak apa apa, tapi Zayn memaksanya agar ia mau di gendong oleh pria itu. Jenna hanya bisa menurut saja.
Tbc.
__ADS_1