
***
Mental cupu.
Mungkin itu yang sejak tadi Eliza katakan. Eliza tahu Jenna dan Zayn ada di dalam kamar apartement itu, namun mereka tidak keluar. Untungnya sebelum itu Eliza sudah menyusun rencana. Rencana yang akan membuat Jenna semakin ketakutan. Dan ternyata benar benar berhasil. Meskipun dia tidak berhasil menusukan pisau di tubuh Jenna, namun ia yakin ia sudah melukai tubuh wanita itu. Kamar apartement Zayn memang berada di lantai paling atas, namun Eliza tidak kehabisan akal. Dia menyelinap diam diam ke kamar apartement yang berada di bawah kamar apartement Zayn. Berbeda satu lantai.
Dia bisa dengan mudah karena kamar apartement itu milik temannya. Dia bisa melihat Jenna dari bawah. Tidak jelas namun ia yakin itu Jenna. Eliza bisa sampai melempar batu itu dengan bantuan tangga. Tangga yang cukup tinggi. Dengan penuh tenaga dan penuh perhitungan, akhirnya batu itu bisa mengenai kaca jendela kamar apartement Zayn.
Eliza tidak peduli jika nantinya dia akan kena sanksi karena sudah pasti apa yang dia lakukan terekam di cctv. Eliza punya banyak keberanian, tidak seperti Jenna yang memiliki mental cupu.
Tindakannya kali ini memang terkesan ceroboh dam gegabah. Zayn pasti tidak akan tinggal diam. Namun Eliza sudah merencakan semuanya. Sudah pasti harus terlaksana hari itu juga. Jenna harus terluka karenanya.
"Hahaha, tunggu rencana lain yang lebih indah. Gue yakin semakin hari lo gak akan tahan dan memutuskan untuk bunuh diri. Gue gak perlu kotori tangan gue," ucap Eliza. Dia sedang menatap foto Jenna yang sudah ia coret coret dengan tinta merah, bahkan sudah ia sayat beberapa bagian foto itu. Sayatan itu berada di bibir dan pipi Jenna pada fotonya. Foto Jenna juga sejak tadi dilempari paku tajam yang langsung menancap.
"Salah lo yang udah berani rebut Zayn dari gue. Gue yang berhak atas Zayn. Bahkan gue yang berhak untuk menguras semua harta pria itu. Lo, lo gak ada hak anj-," umpat Eliza kesal.
Dia pun pergi dari sana dan duduk di sofa lain yang ada di apartementnya. Dia masih di gedung ini, dia tidak peduli jika nanti akan ada orang orang bodoh suruhan Zayn. Toh mereka tidak akan bisa menangkapnya.
Eliza sepertinya sudah dibutakan oleh dendam. Padahal konteksnya Zayn bukan lagi kekasihnya saat bersama dengan Jenna. Dia dan Zayn sudah berpisah selama bertahun tahun. Jenna bukanlah pelaor, justru yang jadi pelakor adalah Eliza.
__ADS_1
Dibutakan dengan harta yang dimiliki oleh Zayn, Eliza tentu saja menginginkannya. Harta Zayn yang begitu banyak, Eliza tentu harus mendapatkannya. Dengan bermodal mantan pacar yang sekarang mencoba mendekati Zayn lagi, namun sialnya Zayn sangat sulit untuk dibuat tunduk seperti dulu. Bahkan dulu saja pria itu sangat mudah sekali menuruti kemauannya, tapi kini sangat sulit. Semua gara gara kehadiran Jenna.
"Tunggu kejutan kejutan lainnya Jennaira Adam, lo gak berhak buat bahagia bersama dengan Zayn," ucap Eliza tersenyum licik.
***
Sementara itu setelah kedatangan Math dan beberapa bodyguard yang diminta untuk membereskan kekacauan di kamar apartement Zayn, pria itu langsung membawa Jenna pergi dari sana. Jenna meminta pulang ke rumah orang tuanya, tentu saja Zayn langsung mengiyakannya. Di perjalanan, Jenna tertidur. Mungkin dia kelelahan akibat rasa takut yang berlebih. Tangan Zayn juga sejak tadi terus memeluknya.
Namun ia sedikit merasa aneh saat merasakan dress bagian belakang Jenna yang basah. Kenapa bisa basah? Apa ini karena keringat? Keringat yang keluar akibat rasa takut tadi?
Zayn pun semakin merabanya. Namun basah itu hanya ada di beberapa titik saja. Tidak sampai ke atas punggung Jenna. Zayn menarik tangannya. Matanya membola melihat tangannya yang berwarna merah. Baunya juga amis, ini darah.
Zayn terlambat, dia tidak menyadarinya. Dia benar benar bodoh. Jenna sudah pasti akan terluka, dia berdiri tepat di dekat jendela dan sangat menempel. Pecahan kaca itu mengenai tubuh wanitanya.
"Putar arah ke rumah sakit Math, cepat," ucap Zayn pelan.
"Baik tuan," ucap Mathew. Meskipun sedikit aneh karena tuannya tiba tiba memintanya ke rumah sakit, namun Math tetap menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit. Sebagai bawahan Zayn yang sudah sangat lama mengabdi pada Zayn, dia tentunya merasa lalai dengan tidak memberitahukan hal ini pada tuannya. Namun Math juga tidak tahu jika semalam mereka menginap di apartement tersebut.
Satu jam berlalu, Zayn sampai di rumah sakit. Dengkuran halus Jenna masih terdengar. Wanita ini nampak masih tertidur. Zayn sengaja tidak membangunkannya. Bahkan dia menggendong tubuh Jenna masuk ke dalam rumah sakit. Dia tidak peduli kemeja putihnya berubah jadi merah akibat darah dari tubuh Jenna. Yang jelas sekarang dua harus menyelamatkan calon istrinya lebih dulu.
__ADS_1
"Silahkan tidurkan pasien," ucap seorang suster.
"Aku ingin bertemu dokter Magda. Sekarang!" Ucap Zayn.
"Tapi pertolongan pertama pada pasien lebih penting," ucap suster tersebut. Zayn terdiam dengan tatapan tajamnya menatap ke arah suster tersebut. Suster tersebut seketika menciut dan langsung pergi memanggil dokter Magda.
Tentu saja Zayn akan mementingan pertolongan pertama untuk Jenna. Hanya saja jika Jenna ditidurkan maka wanita ini akan bangun dan akan kesakitan.
"Ada apa Zayn?" Tanya seorang dokter wanita, dokter itu seumuran dengan mama Lita dan memiliki wajah yang terlihat mirip. Iya, karena mereka kakak adik.
"Tante, calon istri Zayn terkena pecahan kaca pecahan itu ada di punggungnya. Jika Zayn menidurkan dia di brankar ini, dia akan bangun dan kesakitan. Biarkan Zayn ikut masuk untuk menopang tubuhnya," ucap Zayn.
Magda tersenyum mendengarnya. Zayn memang sangat tulus mencintai gadis ini. Dia mengangguk dan mengijinkan Zayn masuk juga ke ruangan.
Jenna di dudukan diatas brankar. Wanita itu sedikit terusik namun dengan cepat Zayn mengelus keningnya sampai dia tertidur lagi. Dokter Magda membuka resleting dress Jenna. Nafasnya tercekat melihat luka luka itu. Namun ia tidak banyak bertanya dan langsung melakukan tindakan. Jenna di suntik bius terlebih dahulu agar wanita ini tidak kesakitan saat dokter Magda mengeluarkan beberapa serpihan kaca yang menempel di punggung gadis ini.
"Sepertinya kondisi Jenna kritis," ucap Dokter Magda.
Tbc.
__ADS_1