
***
Jenna sepertinya harus berterimakasih pada mimpi itu. Karena mimpi itu, Jenna jadi tahu masa lalu Zayn dari mulut pria ini. Sejak tadi wanita itu terus tersenyum. Zayn terus memeluknya seolah takut jika wanita ini akan pergi. Padahal Jenna tidak akan pernah pergi, toh kegundahan hatinya sudah terjawab oleh pria tampan ini.
"Kamu gak akan ninggalin aku kan?" Tanya Zayn.
"Mmm, gimana ya?" Ucap Jenna seperti sedang berpikir.
"Sayang," erang Zayn. Ia melepas pelukannya dan beralih jadi dia yang memeluk perut Jenna setelah pria itu mendorong tubuh Jenna agar terlentang.
"Aku hamilin kamu aja gimana? Biar kamu gak punya pikiran buat tinggalin aku," ucap Zayn dengan wajah polosnya.
Tolong, siapa pun jangan percaya dengan wajah so polos itu. Itu hanya akal akalannya saja. Wajah asli Zayn lebih mengerikan dari pada ini. Apalagi ketika Zayn berada diatas ranjang dan mengukung tubuh Jenna. Pria itu berubah seperti menjadi seorang singa yang sedang menyantap mangsanya.
"Dih, laporin om Rendra sama tante Lita habis ya kamu sama mereka," ucap Jenna.
"Justru kalo aku laporin mereka, mereka bakalan langsung nikahin kita saat itu juga," ucap Zayn.
"Enggak ya om, aku kan udah bilang gak ada lagi s*x diantara kita sebelum kita benar benar menikah. Dan, jangan pernah memaksa Jenna untuk cepat cepat menikah. Karena bagi Jenna dan mau Jenna, menikah hanya satu kali seumur hidup. Sehidup semati dengan seseorang yang Jenna percaya bisa menjari patner terbaik untuk menemani Jenna di sisa umur Jenna," ucap Jenna.
"Ah, sayang. Pokoknya jangan pernah berpikiran untuk tidak menikah dengan ku. Hanya aku yang akan menikah dengan kamu begitu sebaliknya. Paham?!" Ucap Zayn kesal.
"Iya iya om, astaga. Udah tua juga masih marah. Bangun dulu, Jenna mau lanjut tidur," ucap Jenna.
"Ikut," ucap Zayn.
"Gak. Kan udah janji malam ini gak tidur bareng lagi," ucao Jenna.
__ADS_1
"Ya udah, berarti aku enggak akan bangun. Biarin aja tidur kayak gini," ucap Zayn acuh.
Astaga, tolong lah Jenna saat ini. Kenapa setelah hubungan mereka membaik Zayn semakin manja seperti ini padanya?
"Ya udah iya, ayo tidur bareng. Tapi janji dulu enggak ngapa ngapain selain tidur," ucap Jenna.
"Iya janji. Kalo enggak khilaf," ucap Zayn membuat mata Jenna membulat. Pria itu pun bangun dari tidurannya dan mengekori Jenna masuk ke dalam kamar wanita itu.
Jenna naik ke tempat tidur begitu juga dengan Zayn. Jenna hendak tidur membelakangi Zayn namun dengan cepat pria itu membalikan tubuhnya agar berhadapan dengannya. Jenna hanya menghela nafasnya dan mengikuti kemauan Zayn. Wanita itu tidur berhadapan dengan Zayn dan memeluk Zayn. Begitu pun sebaliknya.
"Nice dream Ny. Nagendra," ucap Zayn.
"Belum resmi om," ucap Jenna pelan.
"Akan segera resmi. Hanya kamu satu satunya wanita yang pantas menyandang nama Nagendra dibelakang nama kamu, setelah mama," ucap Zayn.
"Jennaira Adam Aracelli Nagendra. Nama yang sangat indah," sambung Zayn. Jenna tersenyum dan mengecup bibir pria itu.
Sebelumnya Zayn sudah overthinking jika Jenna akan meninggalkannya setelah tahu yang sebenarnya. Tapi ternyata tidak. Jenna justru menerimanya. Zayn harus banyak bersyukur karena tuhan dengan baik memberikan wanita seperti Jenna ke dalam hidupnya. Semoga saja ke depannya hubungan mereka semakin baik. Namun Zayn harus waspada dengan Eliza. Wanita itu bisa sewaktu waktu kembali menghancurkan hubungannya lagi dengan Jenna.
***
Pagi hari yang cerah menyapa. Jenna terbangun sekitar pukul delapan pagi. Ia melirik ke arah sampingnya. Sudah ada Zayn yang sedang tersenyum menatap ke arahnya. Pria itu sudah siap dengan tampilan casulanya. Kemeja panjang berwarna putih dan rompi berwarna hitam. Kemeja itu terlihat mencetak bentuk otot bahu dan bisep pria ini. Sangat tampan sekali.
"Ih, om. Kok ngeliatin. Jenna ileran ya?" Tanya Jenna. Ia menarik selimut untuk menutupi wajahnya.
"Enggak. Kamu cantik bahkan ketika bangun tidur," ucap Zayn. Pria itu menarik selimut yang dipakai oleh Jenna. Kepala wanita itu menyembul dari balik selimut.
__ADS_1
"Kapan bangun?" Tanya Jenna.
"Jam tujuh tadi," ucap Zayn.
"Oh, ya udah sana keluar. Jenna mau mandi terus siap siap dulu," ucap Jenna..
"Mau di mandiin?" Tawar Zayn bermaksud menggoda.
"Enggak. Makasih," ucap Jenna. Wanita itu bangun dari tidurannya. Jenna memakai baju tidur yang terdapat kancing di depannya. Dan dua kancing teratasnya terbuka. Membuat salah satu squishy Jenna terlihat oleh mata telanjang Zayn. Pria itu meneguk ludahnya kasar. Sepertinya wanita itu tidak menyadari hal itu.
"Y-ya u-ud-ah. Kamu mandi, aku nunggu di bawah," ucap Zayn. Pria itu buru buru bangun dan pergi dari sana. Jenna sedikit aneh namun hanya menggidikan bahunya acuh. Wanita itu pun berjalan ke kamar mandi untuk mandi.
Menghabiskan waktu sepuluh menit untuk mandi, Jenna pun keluar dari dalam kamar mandi. Ia duduk di depan meja rias dan mengeringkan rambutnya yang basah. Setelah selesai, ia mulai memoleskan skincare dan make up tipis. Wajahnya sudah selesai di poles dan rambutnya juga sudah setengah mengering. Jenna pun berjalan menuju ke lemari. Memilih salah satu dress yang akan ia gunakan hari ini.
Pilihannya jatuh pada sebuah jump suit hitam dengan tali spaghetti yang akan ia padukan dengan jas berwana putih yang panjang bawahnya sampai ke atas lutut. Jadi jas itu bisa menutupi pahanya yang sedikit terekspos.
Setelah siap, Jenna pun turun. Di ruang makan, Zayn sudah menunggunya. Pria itu sedang menatap ipad di tangannya di temani secangkir kopi.
"Pagi pagi udah ngopi. Nyusu dong," celetuk Jenna. Fokus Zayn teralih saat mendengar suara Jenna. Pria itu tersenyum dan menarik pinggang wanita itu, kemudian ia dudukan diatas pangkuannya. Jenna duduk menyamping.
"Nyusu? Boleh aja, tapi mau langsung dari sumbernya," ucap Zayn. Matanya menatap ke arah bagian dada milik Jenna yang tertutup baju jas.
"Mesum," ucap Jenna. Zayn hanya tersenyum kemudian memajukan bibirnya. Kode jika dia ingin di kecup. Jenna yang sangat peka pun mengecupnya.
"Kita makan pagi dulu dan kamu ikut aku ke kantor. Ada beberapa hal yang harus aku urus sebelum kita pergi ke Bali," ucap Zayn.
"Kantor kamu?" Tanya Jenna.
__ADS_1
Zayn menganggukan kepalanya, "Iya. Ada beberapa berkas yang harus aku tanda tangani dulu serta aku periksa. Aku membutuhkan bantuan mu juga nanti disana. Makanya aku ingin kamu ikut. Om Adam juga sudah tahu jika kita ada perjalanan bisnis."
Tbc.