One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
74. Kalasenja


__ADS_3

***


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam empat puluh menit, rombongan dua keluarga pun sampai di area parkiran sebuah tempat di Bandung. Jeni dan Lita keluar. Mata kedua wanita itu langsung menelisik sekitar area ini. Jadi ini tempat camp mereka?



Jeni kira mereka akan camp di area hutan belantara dengan tenda sebagai tempat mereka diam. Tapi ternyata Jenna membawa mereka ke sebuah tempat yang seperti bukan tempat camp, lalu kenapa anak itu bilang jika ia ingin camp?


Saat Jenna turun, ia langsung disambut oleh satu orang pria. Zayn mengernyit dan langsung mendekat ke arah Jenna.


"Selamat datang Jennaira Adam, nice to meet you," ucapnya.


"Terimakasih Jian, senang bertemu dengan anda lagi," ucap Jenna. Mereka saling menjabat tangan. Namun tak lama karena Zayn berdehem.


"Santai saja Nn. Adam, silahkan masuk. Biarkan barang barang anda dan keluarga anda dibawa oleh pelayan," ucap Jian.


Jenna mengangguk sekilas dan masuk mengikuti Jian, pengelola tempat ini. Jenna sudah menyadari tatapan tidak suka Zayn untuk Jian. Untuk itu Jenna menarik tangan Zayn dan menggandengnya. Bukan apa apa, ini hanya caranya agar Zayn tidak ngambek dan menghukumnya. Jenna sudah malas dengan hukuman ranjang dari Zayn.


"Ini empat kamar yang anda pesan nona. Jika anda memerlukan sesuatu, anda bisa menghubungi petugas untuk memintanya. Selamat malam dan selamat menikmati kegiatan anda disini. Saya permisi dulu," ucap Jian.


"Terimakasih," ucap Jenna. Jian pun pergi dari sana. Menyisakan Jena, Zayn dan kedua orang tua mereka.


"Mami sama papi kamar ini, tante sama om kamar sebelahnya," ucap Jenna.


"Jadi ini tempat yang kamu maksud? Mami kira kita camp di hutan," ucap Jeni.


"Jenna tahu mami kayak gimana, dari pada uring uringan gak jelas, ya Jenna milih tempat ini juga. Ini camp, tapi lebih ke gaya modern. Pengunjung enggak perlu pasang tenda atau apapun. Semuanya udah disediakan pihak pengelola," ucap Jenna.


"Iya, ini terlihat seperti resort saja. Namun bentuk bangunannya menyerupai tenda camp. Tante suka Jenna, makasih ya," ucap Lita.



"Sama sama. Makan malam bersama atau mau diantar ke kamar kalian masing masing?" Tanya Jenna.

__ADS_1


"Antar ke kamar aja Jenn, mami udah males keluar lagi. Cape, ngantuk juga," ucap Jeni.


"Oke, nanti Jenna hubungin pelayannya buat anterin makan ke kamar mami sama papi, tante sama om juga," ucap Jenna.


"Oke kalo begitu, kita besok ketemu lagi. Jenna sama Zayn satu kamar?" Tanya Adam.


"Enggak lah pi, kita beda kamar. Kamar om Zayn di sebelah kamar papa mamanya. Sedangkan kamar Jenna tepat di depan kalian," ucap Jenna.


"Padahal mamu ngira kalian sekamar," ucap Jeni yang diangguki Lita.


"Jangan lah mi, mereka belum nikah," ucap Adam.


"Iya. Zayn tidak boleh satu kamar dengan Jenna," ucap Rendra.


"Loh kenapa? Dulu waktu pacaran kan papi ajak mami stay cation. Rendra sama Lita juga. Malahan kita double date," ucap Jeni.


"Ssstt, gak gitu sayang. Udah ah ayo masuk kamar," ucap Adam. Ia menarik istrinya masuk ke dalam kamar inap mereka begitu juga dengan Rendra dan Lita.


"Nahkan kebongkar juga," ucap Zayn.


"Sayang, pengen sekamar," ucap Zayn. Bibirnya melengkung ke bawah.


"Enggak bisa. Udah ah, besok juga ketemu. Bye om," ucap Jenna. Ia pun meninggalkan Zayn disana dan berjalan menuju ke kamar resort miliknya.


Koper milik Jenna sudah ada disana. Wanita itu melepas blazer oversize miliknya. Ia mengambil air putih untuk meredakan tenggorokannya yang kering. Jenna mengambil telepon yang ada disana. Menghubungi pihak pelayan resort mengenai makan malam untuk keluarganya juga keluarga Zayn. Sedangkan ia sendiri ingin makan di depan kamar miliknya. Kebetulan disana ada area untuk bersantai.


Jenna mengenakan sweater sebagai penghalau rasa dingin yang akan menerpa kulitnya. Tak berselang lama setelah Jenna menelepon petugas resort untuk mengantarkan makan malam, mereka pun sudah tiba disana. Ternyata disana juga ada Zayn yang sudah duduk anteng sambil menyeruput kopi.


"Makan disini?" Tanya Jenna. Wanita itu mengambil duduk di dekat Zayn. Karena memang hanya itu space yang ada.


"Iya. Gak enak makan sendirian. Kayak jomblo aja," ucap Zayn.


Jenna tidak menjawab ucapan Zayn dan kembali fokus pada makanannya. Ia makan dengan tenang. Perutnya terasa perih karena belum diisi lagi. Wajar saja, ia hanya makan sedikit tadi di rumah.

__ADS_1


"Kenapa kamu milih tempat ini?" Tanya Zayn.


"Sebenarnya, tempat ini sudah masuk ke dalam bucket-list ku sejak lama. Namun baru aku kunjungi sekarang," ucap Jenna.


"Lalu kemana lagi bucket list mu itu?" Tanya Zayn.


"Swiss, maybe," ucap Jenna.


Zayn hanya mengangguk sekilas dan kembali memakan nasi goreng miliknya. Sedangkan Jenna memesan nasi bakar.


Tiga puluh menit berlalu, mereka pun selesai makan dan nyemil. Jenna meminta Zayn untuk segera ke kamarnya karena Jenna sudah mengantuk juga. Perjalanan tadi lumayan membuatnya lelah. Namun Zayn belum pergi juga, mau tak mau Jenna harus diam dulu disana. Tidak sopan jika Jenna pergi begitu saja.


"Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan," ucap Zayn.


"Bicaralah," ucap Jenna.


"Aku serius dengan hubungan ini, apa kamu juga serius?" Tanya Zayn.


Jenna terdiam. Kenapa Zayn tiba tiba menanyakan hal ini? Biasanya pria itu tidak pernah menyinggung hal seperti ini. Oh, apa karena Jenna melihat Mario di mall tadi?


"Jika ditanya seperti itu, mungkin iya aku serius. Kenapa om tiba tiba menanyakan hal ini?" Tanya Jenna.


"Sepertinya kamu belum selesai dengan masa lalu kamu. Selama ini kamu hanya menganggap jika dengan bersama ku, kamu akan melupakan dia. Benar kan?" Tanya Zayn.


"I-iya. Tapi om-,"


"Baguslah, akhirnya aku mendengarnya sendiri malam ini. Aku tidak perlu berpikir lagi tentang hal itu," ucap Zayn.


"Om, kenapa tiba tiba kayak gini? Apa om marah karena Jenna menjadikan om sebagai pelampiasan?" Tanya Jenna.


"Tidak sayang. Itu kan hak kamu," ucap Zayn tersenyum. Pria itu mendekat ke arah Jenna dan mengecup bibirnya pelan.


"Sudah malam, besok kita bahas lagi soal ini. Selamat malam," ucap Zayn. Pria itu pun pergi tanpa mau mendengar lagi ucapan Jenna. Sedangkan Jenna terdiam. Ia akui ia memang menjadikan Zayn sebagai pelampiasan dari Mario. Jenna memang jahat, namun Jenna sudah memperingatkan hal ini sebelumnya pada Zayn. Jenna sudah mencoba berusaha untuk tidak goyah lagi dengan Mario, namun entahlah. Perasannya tidak bisa ia bohongi. Ia nyaman bersama dengan Zayn namun hatinya masih menyebut nama Mario.

__ADS_1


Tbc.


Ramein.


__ADS_2