One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
185. Sycho


__ADS_3

***


Jenna terusik dalam tidurnya saat mendengar bunyi bel apartement. Wanita itu perlahan membuka matanya. Di sampingnya tertidur sosok Zayn. Keduanya sama sama tertidur. Tubuh atas Jenna sudah tidak tertutup karena ulah Zayn, tadi dia sudah bisa menahan Zayn untuk tidak kembali melakukan penyatuan. Namun diganti dengan membantu milik pria ini keluar dengan tangannya. Untungnya dia sudah lihai sekali. Setelah permainan tadi, Zayn langsung mandi lagi sedangkan Jenna hanya mencuci tangannya dan kembali tidur nyenyak.


Jenna menggeser tubuhnya setelah memindahkan tangan Zayn dari atas tubuhnya. Namun ternyata pria ini sangat sensitif dengan gerakan, alhasil saat Jenna bergerak bukannya lepas malah kembali dipeluk erat.


Jenna sudah terbiasa. Zayn memang sangat sensitif dengan gerakan. Gerakan sekecil apapun akan dirasakan olehnya, makanya Jenna selalu berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari dalam pelukan pria ini. Namun kali ini, sepertinya dia tidak bisa keluar. Zayn memeluknya erat, bahkan kedua tangan pria itu melingkar di pinggang dan perutnya.


"Mas, ada yang tekan bel," ucap Jenna. Pipi wanita itu menempel dengan hidung Zayn. Ketika Zayn bergerak, maka pipi Jenna akan menempel dengan bibir pria ini.


"Biarin aja. Aku masih ngantuk, pengen peluk kamu. Sayangnya aku," ucap Zayn pelan bahkan terkesan berbisik, Jenna sedikit merinding mendengarnya. Karena Zayn berbisik tepat di telinganya. Bahkan pria itu mengecup pelan telinganya.


"Gak boleh gitu dong mas, kalo itu salah satu orang tua kita gimana?" Tanya Jenna.


Benar juga, jika itu mama Lita, sudah pasti Zayn akan mendapatkan masalah. Lagi pula, kenapa mamanya harus datang kesini? Bukannya Zayn tidak pernah memberitahu alamat apartement ini pada mamanya? Lalu dia tahu dari mana? Awas saja jika itu bukan mamanya atau orang tua Jenna, Zayn pasti akan memarahinya. Dia sangat mengganggu kegiatan nyamannya memeluk Jenna.


Zayn mengurai pelukannya dan menggeliat, sedangkan Jenna sudah bangun dan sedang mengucek matanya. Ia membereskan rambutnya dan berdiri kemudian menarik tangan Zayn dan berjalan bersama ke depan.


Sesampainya di depan pintu, Jenna hendak membukanya namun Zayn menahannya.


"Kenapa mas?" Tanya Jenna.


"Jangan dibuka dulu, kita lihat lewat monitor ini siapa yang datang. Takutnya bukan kedua orang tua kita. Mengingat mama dan papa tidak tahu apartement ku yang ini," ucap Zayn.

__ADS_1


"Lalu siapa yang tahu?" Tanya Jenna.


"Hanya kamu dan aku. Apartement ini jarang aku datangi, palingan sesekali. Dan sekarang aku datang bersama kamu. Kemungkinan itu Math, tapi jika bukan Math, aku tidak tahu. Bisa saja dia penguntit. Tunggu sebentar, kita harus lebih hati hati," ucap Zayn.


Jenna jadi parno sendiri, wanita itu pun memeluk lengan Zayn. Namun Zayn melepaskannya dan merangkul Jenna, sedangkan Jenna langsung memeluk tubuh Zayn. Zayn terkekeh melihat tingkah menggemaskan Jenna. Hanya karena dia mengatakan hal itu saja mampu membuat wanitanya takut? Yang benar saja.


Zayn pun menekan beberapa tombol monitor kecil yang ada di samping pintu keluar. Tak berselang lama, munculah gambar seorang wanita. Wanita itu terus menggedor gedor pintu. Bahkan terlihat berteriak. Namun baik Zayn atau pun Jenna tidak mendengarnya. Wajar saja karena apartement Zayn sangat kedap suara. Jika ingin mendengar teriakan wanita itu, maka Zayn harus menekan tombol pembunyi suara.


"Ngapain sih mantan kamu datang kesini? Lagian dia tahu dari mana apartement kamu ini?" Tanya Jenna.


"Gak tahu, kayaknya dia ngikutin kita deh yang," ucap Zayn.


Entah apa maunya wanita itu. Dia terus saja mengganggu ketenangan Jenna dan Zayn. Jenna saja sudah jengah dengan wanita itu, kenapa harus dia datang ke apartement ini?


"Apa jangan jangan kamu sama dia pernah kesini? Pernah mesra mesraan?" Tuduh Jenna.


"Iya lah, harus gitu. Kamu milik aku, makanya jangan coba coba buat main gila di belakang aku kalo kamu gak mau milik kamu ini aku potong dadu," ucap Jenna seraya merem*s kejantanan prianya.


"Shhhh, sayang," ucap Zayn meringis. Tentu saja ngilu, miliknya yant sedang tidur nyenyak di rem*s begitu saja. Ini sakit hei.


Jenna mendengus kesal mendengar ringisan Zayn. Ia pun kembali mengalihkan tatapannya ke arah monitor. Jenna menatap monitor itu dengan seksama. Ia memperhatikan gerak gerik Eliza. Wanita itu terlihat marah. Sudah pasti, karena tunangan Jenna dan Zayn sudah dilangsungkan tanpa adanya drama. Acaranya berjalan lancar, karena semuanya sudah diatur dengan matang matang.


"Mas, dia bawa pisau?" Tanya Jenna.

__ADS_1


Zayn yang sejak tadi memperhatikan mimik wajah Jenna pun mengalihkan atensinya saat mendengar ucapan dari wanitanya.


"Pisau?" Tanya Zayn. Pria itu menajamkan penglihatannya, benar saja. Eliza membawa pisau. Wanita gila, sepertinya dia memang gangguan jiwa.


"Untung aku tahan kamu buat gak buka pintu yang. Gak kebayang dia akan senekat apa. Dia aja sampe bawa pisau gitu," ucap Zayn.


"Takut. Dia jadi sycho. Kalo tiba tiba dia ada di hadapan aku waktu gak ada kamu gimana mas?" Tanya Jenna. Tentu saja dia takut jika urusannya sudah dengan psikopat. Ternyata selain gila kebiasaan Eliza juga merangkap jadi psikopat.


"Enggak akan. Aku akan semakin perketat penjagaan. Dia gak akan bisa nyentuh kamu," ucap Zayn.


"Jangan dibuka aja ya mas? Biar dia beranggapan gak ada kamu disini," ucap Jenna.


"Iya sayang. Aku emang gak berniat untuk membuka pintu ini. Karena aku malas berhadapan dengan wanita itu," ucap Zayn.


Jenna mengangguk dia semakin mengeratkan pelukannya pada Zayn. Kenapa harus dia berhadapan dengan mantan kekasih dari Zayn. Dia benar benar tidak tahu malu sepertinya. Sudah jadi mantan bertahun tahun, dan kini dia kembali lagi. Anehnya dia seperti tidak memiliki urat malu. Jika saja dia punya malu, mungkin dia tidak akan seperti itu.


"Kamu kepelet apa sampe sampe punya mantan kayak dia?" Tanya Jenna.


"Gak tahu, kayaknya dulu aku terlalu buta sayang. Aku aja heran kenapa punya mantan kayak dia," ucap Zayn.


Memang sampai saat ini Zayn masih tidak habis pikir, kenapa dia sampai memiliki mantan seperti Eliza. Bahkan dulu pertemanannya dengan Ryan dan Ghani akan bubar gara gara keegoisan Zayn. Untungnya dia cepat sadar dan fakta cepat terbuka sehingga dia bisa dengan cepat keluar dari jeratan Eliza. Wanita penghibur yang sialnya selalu lihai dalam mengelabui Zayn.


"Aku capek, dia terus ganggu hidup kita," ucap Jenna.

__ADS_1


Zayn semakin mengeratkan pelukannya. Mereka berdua masih menatap monitor sampai Eliza pergi.


Tbc.


__ADS_2