One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
197. Ancaman Lagi


__ADS_3

***


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di area bassement parkiran. Zayn keluar bersama dengan Jenna saat pintu mobil dibuka oleh sopir yang membawa mereka dari rumah sakit menuju ke apartement.


Sebelum berjalan masuk, Zayn lebih dulu menarik tangan Jenna lalu berjalan bersama. Keduanya sama sama tersenyum bahagia. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, sebab saat mereka berjalan tiba tiba mereka mendengar suara tembakan sebanyak dua kali.


Duar... duar..


Bukan hanya Jenna dan Zayn yang terlonjak kaget, beberapa bodyguard yang menjaga mereka juga sama sama terkejut. Kelima bodyguard itu langsung mengepung Jenna dam Zayn untuk melindungi tuan dan nyonya mereka.


"Mas," ucap Jenna. Pria itu langsung memeluk Jenna. Memberikan ketenangan pada wanitanya. Tentu saja Jenna terkejut karena tiba tiba ada suara tembakan api.


"Its okay sayang, kamu aman sama aku," ucap Zayn.


Zayn memerintahkan dua bodyguardnya untuk mengecek keadaan di sekitar. Tidak ada siapa pun disini. Lalu dari mana asalnya tembakan api itu?


"Tidak ada apapun disini dan siapa pun tuan, bahkan kami tidak melihat ada orang selain kita semua," ucap salah satu bodyguard.


"Lebih baik tuan dan nyonya masuk ke dalam dulu, biarkan kami yang berjaga dan kami akan mengecek cctv juga," ucap yang lainnya.


Zayn mengangguk dan membawa Jenna masuk ke dalam lift untuk sampai ke unit mereka yang berada di lantai paling atas. Zayn akan membawanya ke unit milik Jenna, bukan miliknya. Karena Zayn yakin Jenna akan aman berada disana.


Jenna tidak banyak bicara lagi. Dia hanya diam, entah karena syok atau karena apa. Namun Zayn tetap memeluknya. Zayn tahu wanitanya ketakutan, sekuat dan setangguh apapun Jenna ketika menghadapi klien, dia akan tetap ketakutan jika berada di situasi seperti ini.


"Jangan terus diingat, mungkin itu hanya suara tembakan di tempat lain namun suaranya sangat keras sampai kita bisa mendengarnya," ucap Zayn.


"Aku bukan anak kecil mas," ucap Jenna.


"Iya sayang, mas tahu. Tapi jangan kamu pikirkan hal itu, mas gak mau kamu sakit lagi gara gara stress," ucap Zayn.


"Kamu gak ke kantor kan? Aku takut mas," ucap Jenna.

__ADS_1


"No, aku gak akan ke kantor. Aku nemenin kamu disini," ucap Zayn.


Jenna bernafas lega, setidaknya Zayn mau menemaninya disini. Entah kenapa masalah dan kejadian datang silih berganti. Jenna sebenarnya sudah lelah dengan semua ini. Tapi mau bagaimana lagi, sejak awal dia sudah memutuskan untuk bersama dengan Zayn. Mau bahagia atau pun bersedih, dia tetap harus bersama dengan Zayn. Karena sejak awal dia sudah memilih hal tersebut.


Zayn terus merangkul tubuh Jenna dan membawanya masuk ke dalam unit milik Jenna. Zayn tidak banyak bicara lagi, dia hanya membawa Jenna masuk ke dalam kamar mereka.


"Tidur dan istirahat ya? Biar kondisi kamu cepat pulih," ucap Zayn.


"Tapi kamu nemenin aku disini kan?" Tanya Jenna.


"Tentu sayang," ucap Zayn tersenyum. Pria itu membawa Jenna naik ke atas kasurnya dan menidurkannya. Jenna meluruskan kakinya dan menarik selimutnya untuk menutupi tubuh keduanya.


"Rasanya aku ingin sekali meniduri kamu sayang," ucap Zayn.


"Mass.."


Zayn terkekeh dan mengecup pelan bibir Jenna. "Tidurlah, aku akan menemani kamu. Aku hanya becanda sayang."


Zayn mengangkat tangannya dan di diamkan diatas squishy Jenna. Jenna meliriknya, pria ini mau apa?


"Sudah lama aku tidak bermain disini sayang," ucap Zayn. Pria itu membuat gerakan gambar abstrak diatas squishy Jenna. Jenna terdiam namun dadanya terus berdetak kencang sejak tadi. Bahkan dia merasakan jika hawa di sekitarnya kini sudah memanas.


"Mas," panggil Jenna. Pria itu menahan tangan Zayn yang hendak merem*s squishy Jenna.


"Jujur saja, jangan menutupinya. Aku tahu kamu menginginkannya," ucap Zayn.


"Aku gak mau hamil sekarang," ucap Jenna pelan.


"Aku punya banyak stok pengaman sayang, kamu juga pasang kontrasepsi bukan? Apa yang perlu ditakutkan?" Tanya Zayn.


"Tapi-,"

__ADS_1


"Tidak ada tapi tapian sayang, aku menginginkannya," ucap Zayn.


Pria itu tidak bisa menahan hasratnya lagi. Dia pun langsung menyerang bibir Jenna dengan nafsunya. Jenna pun sama halnya, dia juga mengikuti alur permainan Zayn. Keduanya sama sama sudah diliputi nafsu.


Beberapa hari ini, rasanya masalah datang silih berganti. Keduanya terus saling menguatkan satu sama lain. Baik Jenna atau pun Zayn juga sebenarnya sama kelelahan. Jenna lelah dengan masalah yang terus datang sedangkan Zayn lelah dengan sikap masa lalunya yang terus mengganggunya tidak henti. Kejadian saat ini juga dia menganggap jika semuanya terjadi karena ulah Eliza. Perempuan ular itu harus dilenyapkan.


***


Tiga jam berlalu, Jenna sudah tertidur lelap diatas pelukan Zayn. Sedangkan Zayn masih terjaga. Dia tidak mengantuk. Zayn mengelus pelan bahu tangan Jenna yang terekspos. Beberapa jam yang lalu dia benar benar menggempur Jenna. Dia sangat menyukai gempurannya saat ini dengan Jenna. Sebab dia mencoba gaya lain.


Luka di punggung Jenna ternyata sudah mengering. Tapi itu pasti akan membekas, Zayn harus mencari obat agar bekas luka itu hilang dan punggung Jenna kembali mulus. Mungkin dia harus meminta hal itu pada Ghani.


Zayn mengecup pelan bibir Jenna juga mengecup keningnya. Ia pun dengan perlahan melepaskan pelukan Jenna dari tubuhnya. Dia harus keluar kamar untuk menemui Mathew, pria itu membawa sebuah berita tentang kejadian tadi.


Zayn memakai boxer dan jubah kemudian keluar dari dalam kamarnya. Perlahan dan tidak menimbulkan suara, sebab dia tidak mau Jenna terbangun akibat bunyi yang dia timbulkan.


"Ini tuan," ucap Math, pria itu memberikan sebuah ipad yang menampilkan seseorang yang sedang berdiri tak jauh dari sana dan menembakan senjata api.


"Siapa dia?" Tanya Zayn.


"Seorang pria yang pernah jadi karyawan tuan Rendra. Dia melakukan penggelapan dana sehingga dia dipecat dan dipenjara. Namun entah bagaimana dia bisa keluar dari penjara. Orang orang anda sudah menemukannya dan mengurungnya di markas," ucap Mathew.


"Jangan lepaskan dia dulu sebelum aku bertemu dengannya. Secepatnya aku akan kesana. Oh iya, bagaimana pergerakan Eliza? Apa dia kembali berulah?" Tanya Zayn.


"Dia hanya terus melayani kliennya di club tuan, sejauh ini dia tidak membuat kecurigaan apapun," ucap Math.


Zayn mengangguk, "Terus pantau dia. Jangan sampai lengah. Kau bisa pergi."


"Permisi tuan," ucap Mathew.


Zayn terdiam diatas sofa yang dia duduki, memikirkan semua masalah yang sejak tadi terus datang.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2