One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
72. Belanja


__ADS_3

🥹👍👍


***


Jenna nampak berpikir pikir mengenai tawaran Zayn. Camping? Memang cukup mengasikan. Ia bisa berada di alam bebas untuk merefresh otaknya lagi.


"Camp dimana?" Tanya Jenna.


"Maunya dimana?" Tanya Zayn.


"Di Bandung kayaknya banyak tempat camp deh. Nanti aku cari cari referensinya. Boleh aja mami sama papi? Ajak tante sama om juga," ucap Jenna membuat Zayn terdiam.


Ya salam. Zayn niatnya ingin modus dengan mengajak Jenna camp agar bisa bermesraan dengan wanita itu. Tapi ternyata wanita itu malah ingin mengajak kedua orang tua mereka. Bisa bisa rencananya gagal total kalau begini.


"Boleh, kamu hubungin mama aja. Nomornya ada kan?" Tanya Zayn. Ingat, belajar dari masa lalu. Zayn tidak boleh egois, bagaimana pun Jenna juga punya kemauan, biarkan dia memilih apa yang ia mau. Ingat juga, dia masih PMS. Mode macannya akan keluar sewaktu waktu.


"Enggak ada. Kamu berhentiin dulu mobilnya terus hubungin mama kamu, aku hubungin mami. Oke?" Tanya Jenna.


"Boleh," ucap Zayn. Ia menepikan mobilnya dan menghubungi mamanya sedangkan Jenna menghubungi maminya. Tak butuh waktu lama, kedua orang tua menyetujui kemauan anak anak mereka.


Setelah selesai menelepon, Jenna meminta Zayn untuk pergi ke supermarket. Rencananya mereka akan berangkat sore ini juga. Jenna dan Zayn tidak akan kembali ke kantor. Selain karena pekerjaan sudah selesai, mereka juga berniat belanja bahan makanan dan perlengkapan lain.


Tak butuh waktu lama, Jenna dan Zayn pun sudah sampai di area parkiran supermarket. Mereka keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam supermarket dengan tangan Zayn yang merangkuk pinggang Jenna posesif.


"Kemana dulu?" Tanya Zayn.


"Cari sayuran dulu yuk, nanti pengen barbeque-an. Kan enak kalo ada sayuran kayak seladah, biar gak seret," ucap Jenna.


"Oke," ucap Zayn. Pria itu mendorong troli. Ia meminta Jenna untuk menggandeng tangannya. Jenna pun menurutinya. Mereka berjalan ke stand sayuran. Jenna hanya mengambil selada, bawang bombay, dan beberapa sayuran lain sebagai lalapan teman barbeque-nya.


Tak jauh dari stand sayuran, Jenna mengambil beberapa potong daging dan ikan. Ia juga membeli beberapa jenis sosis.


"Yang, gedean ini atau punya aku?" Tanya Zayn. Tangannya mengangkat sebuah sosis berkuruan besar. Bahkan jari jari tangan Zayn tidak bisa menyatu saat memegangnya.

__ADS_1


"Ish, ngomongnya mulai ngawur. Gedean sosis lah, punya kamu kecil," gerutu Jenna kesal. Ia sedikit melempar sosis masuk ke troli belanjanya.


Zayn terkekeh dan mendekat ke arah Jenna sembari memasukan sosis itu ke dalam keranjang.


"Yakin kecil? Kamu suka teriak teriak loh, terus kamu juga suka minta ampun kalo aku tekan milik aku lebih dalam," bisik Zayn.


"Aaaa, udah deh jangan mesum. Kita lagi belanja," erang Jenna. Tentu saja ia tidak suka karena bisikan Zayn seperti bisikan setan. Menyesatkan.


"Ini ngapain dimasukin? Ini non halal om," ucap Jenna. Ia menyimpan kembali sosis itu ke tempatnya.


"Iya kah? Aku gak tahu," ucap Zayn.


"Makanya pikirannya jangan mesum mulu. Tulisan segede gaban gitu gak keliatan sama kamu?" Tanya Jenna. Tangannya terangkat untuk menunjuk sebuah banner berukuran sedang dengan tulisan 'non halal'.


"Hehe, enggak sayang. Udah yuk beli wine sama minuman soda," ucap Zayn.


"Aaaa-aduh, sakit sayang. Kok nyubit sih," ucap Zayn kesakitan. Ia mengusap usap pinggangnya yang jadi sasaran empuk jari Jenna untuk mencubitnya.


"Masa beli wine sih?! Kita kesana sama mami papi sama kedua orang tua kamu loh," ucap Jenna.


"Pinter," ucap Jenna. Ia kembali merangkul bahu tangan Zayn yang besar dan berotot itu dan berjalan menuju ke lemari pendingin yang banyak minuman disana. Jenna tidak hanya mengambil minuman soda saja, ia juga mengambil beberapa kotak susu sttawberry dan minuman lainnya. Ia juga mengambil beberapa snack kesukaannya.


"Udah?" Tanya Zayn.


"Kayak ada yang kurang, apa ya?" Tanya Jenna. Ia kembali melihat isi trolinya.


"Ah, iya. Paprika om, kita belum beli paprika," ucap Jenna.


"Ya udah balik ke tempat pertama tadi yang," ucap Zayn.


Mereka pun kembali kesana untuk mengambil paprika. Namun setelah disana, Jenna juga mengambil brokoli dan berjalan mengambil udang dan cumi cumi. Setelah selesai, mereka pun menuju kasir untuk membayarnya. Di jalan menuju ke kasir. Tangan Jenna masih mengambil beberapa makanan yang ia mau. Ia juga mengambil beberapa jenis saus dan kecap juga. Ia juga mengambil bumbu instan untuk salad sayur.


"Gak papa kan?" Tanya Jenna.

__ADS_1


"Enggak sayang. Ini bahkan kurang banyak menurut aku," ucap Zayn.


"Dih, ya udah beli aja sama supermarketnya," ucap Jenna.


"Ide bagus. Aku telepon Math dulu buat urus semuanya," ucap Zayn. Ia mengeluarkan ponselnya dan hendak menelepon Math, asistennya. Namun Jenna lebih dulu merebutnya dan memasukannya ke dalam tas selempangnya.


"Jangan ngadi ngadi deh. Iya aku tahu kamu banyak uang dan mampu beli ini semua, tapi gak gitu juga om," ucap Jenna.


"Kan aku cuma mau turutin mau kamu itu apa sayang," ucap Zayn.


Jenna tersenyum terpaksa, "Enggak gitu konsepnya om ganteng yang banyak duitnya. Jenna punya cara sendiri buat porotin uang kamu."


"Nikah yuk, bebas deh kamu habisin uang aku juga. Gak usah kerja di kantor papi kamu juga, kamu kerja di kantor aku aja sebagai sekretaris pribadi. Tugasnya, melayani nafsu aku setiap hari," ucap Zayn.


"Aku bukan pemuas s*x kamu ya. Lagian aneh, ngajak nikah kayak ngajak makan di warteg," ucap Jenna. Ia mengeluarkan belanjaannya untuk di scan kemudian di bayar.


"Ya udah, aku masih nunggu kamu siap sampe kapan pun," ucap Zayn. Jujur saja sejak tadi ia menyunggingkan bibirnya untuk tersenyum meskipun hanya tipis. Ia senang karena Jenna banyak memangil 'kamu' untuknya.


"Total belanjanya menjadi satu juta lima puluh ribu kak. Mau debit atau cash?" Tanya kasir.


"Debit mbak," ucap Jenna. Ia hendak mengeluarkan kartu dari tasnya namun Zayn lebih dulu menyodorkan kartu hitam miliknya.


"Pake ini istri," ucap Zayn sengaja menggoda Jenna.


Jenna mengambilnya dengan ketus dan memberikan kartu itu pada kasir. Selesai membayar, Zayn mendorong trolinya untuk disimpan di tempatnya kemudian mengambil belanjaannya. Tidak banyak, hanya tiga kantong saja.


Saat sampai di parkiran, Jenna membuka bagasi mobil dan Zayn memasukan belanjaannya. Mereka berdua bersama sama menutup bagasi mobil. Tak sengaja Jenna melihat ke belakang Zayn. Ada seorang pria yang sepertinya ia kenal.


"Mario?" Ucap Jenna.


Zayn mengernyit dan mengikuti arah pandang Jenna. Disana ada seorang pria memakai baju OB.


"Mantan kamu kerja disini yang?" Tanya Zayn.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2