
✊️✊️✊️
***
Jenna mengernyit heran saat mobil yang ditumpangi olehnya dan Zayn berhenti di salah satu mini market. Zayn keluar begitu saja tanpa berbicara dulu pada Jenna. Jenna sendiri hanya diam saja. Ia malas bertanya. Jenna menyandarkan bahunya pada kepala kursi mobil. Kepalanya sedikit pening akibat menangis tadi.
Sial, kenapa ia harus terlihat serapuh itu di depan Zayn. Bisa bisa pria itu menganggap Jenna wanita yang lemah.
Tiba tiba pintu mobil terbuka. Masuk Zayn dengan satu kantong keresek entah apa isinya. Pria itu memberikan Jenna satu es krim cone.
"Biar mood kamu bagus lagi. Kalo kurang masih ada di keresek ini, sama jajanan lain juga. Coklat juga ada," ucap Zayn. Jenna menerima es krim itu dan juga menerima kantong kereseknya. Ia melihat isinya. Banyak sekali coklat dan beberapa es krim juga cemilan dan minuman kesukaan Jenna.
"Om, mau bikin Jenna gendut ya?" Tanya Jenna.
Zayn terkekeh, "Enggak. Mood kamu kan lagi gak bagus, jadi saya belikan itu semua agar mood kamu lebih baik lagi."
"Makasih," ucap Jenna. Wanita itu pun membuka penutup es krim dan mulai memakannya. Sementara Zayn, pria itu kembali melajukan mobilnya menuju ke kantornya. Rencananya ia akan membawa Jenna keliling disana. Sekalian memperkenalkan calonnya pada karyawannya.
Zayn sesekali melirik ke sampingnya. Wanita itu terlihat asik menikmati es krimnya. Jenna terlihat seperti seorang bocah saja saat memakan es krim. Padahal wanita itu sudah pernah menjadi lawannya diatas ranjang. Dan Zayn bersumpah jika hanya wanita itu yang akan menjadi lawannya lagi diatas ranjang.
"Om gak mau?" Tanya Jenna.
"Kamu nawarinnya aja gak mau, bukan 'mau gak'," ucap Zayn.
"Iya salah. Jadi mau gak?" Tanya Jenna.
"Mau, tapi jangan yang cone. Yang di dalem wadah, suapin ya," ucap Zayn.
"Manja," sindir Jenna. Namun wanita itu tetap mengambilkan es krim yang dimaksud Zayn. Jenna menyimpam es krim yang hanya tersisa cone-nya dan memasukan ke dalam kantong keresek untuk sampah.
"Aaa," ucap Jenna. Zayn membuka mulutnya dan memakan es krim itu. Zayn sengaja membawa mobilnya perlahan agar ia bisa lebih lama bersama Jenna.
__ADS_1
Es krim yang dimakan Zayn sudah habis bersamaan dengan itu mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan lobby kantor milik Zayn. Jenna menyimpan sampah sisa makannya dan Zayn ke dalam tong sampah kecil yang ada disana. Wanita itu juga menyimpan jajananya. Tiba tiba ada seseorang yang membukakan pintu. Itu bodyguard yang berjaga di depan kantor.
"Terimakasih," ucap Jenna. Pria itu hanya mengangguk sekilas.
Zayn berjalan dan menggandeng tangan Jenna masuk ke dalam kantor miliknya. Mereka terlihat sangat serasi sekali. Apalagi tampilan Jenna seperti wanita karir ini. Kaos putih crop top yang dipadukan dengan celana bahan pendek yang warnanya senada dengan jas yang digunakannya. Berwarna hitam. Jas itu panjangnya sampai ke lutut Jenna. Sehingga jas itu mampu menutupi pahanya yang sedikit tereskpos.
"Harus gandengan gitu om?" Tanya Jenna saat melihat jari jemarinya yang ditaut dengan posesif oleh Zayn.
"Harus dong. Nanti kamu hilang di gondol om om yang kemarin sama cewek murah itu," ucap Zayn.
"Emang dia beneran karyawan om?" Tanya Jenna.
"Beneran Jenna. Tuh orangnya," ucap Zayn. Pria itu ternyata bukanlah karyawan kelas atas melainkan seorang office boy. Jenna menganga, ternyata memang benar benar selera Yura sangat rendahan.
"D-dia ob?" Tanya Jenna.
"Iya."
Zayn tersenyum, "Makanya jangan tertipu sama tampilan aja. Gak semua yang tampilan rapi itu indah."
"Iya iya."
Zayn terus menggenggam tangan Jenna masuk ke ruangannya. Tangan mereka tidak terlepas. Bahkan sejak tadi mereka menjadi pusat perhatian. Karyawan karyawan wanita yang ada di kantor Zayn menatap sinis ke arah Jenna namun Jenna tidak peduli. Ia menghiraukan tatapan tatapan sinis itu. Toh mereka tidak akan bertemu lagi dengan Jenna kan?
"Ini ruangan saya," ucap Zayn.
Ruangan ini sangat besar. Di dominasi warna hitam dan abu abu tua. Jenna duduk di sofa yang ada disana. Ruangan Zayn sama persis dengan ruangannya. Hampir semua ruangan ini dikelilingi kaca.
Baru saja mereka duduk, tiba tiba pintu ruangannya diketuk. Masuklah seorang wanita dengan tampilan yang sangat sangat tidak Jenna sukai. Bagaimana tidak, wanita itu memakai blouse ketat berwarna merah menyala yang dipadukan dengan rok span berwarna hitam. Tubuhnya benar benar tercetak, sampai sampai bagian dadanya menyembul sehingga sedikit terlihat. Jangan lupakan tampilan make up yang tebal. Bahkan merah bibirnya hampir sama seperti warna bajunya.
"Tuan, ada berkas yang harus anda tanda tangani," ucapnya manja. Tatapan wanita itu beralih pada Jenna. Menatap sinis seolah tidak suka.
__ADS_1
Sedangkan Jenna, ia tidak mengalihkan pandangannya. Melirik ke arah wanita itu. Jenna menatapnya dari atas sampai bawah kemudian tertawa remeh.
Zayn pun dengan cepat menandatangani berkas itu dan segera memberikannya. Namun bukannya cepat pergi, wanita itu malah diam saja.
"Tuan, jika anda bosan dengan wanita itu. Saya bisa menemani anda," ucapnya.
"Aku tidak akan pernah bosan dengan wanita ku. Dan ya, segera ajukan surat mutasi pekerjaan mu. Aku menunggunya besok," ucap Zayn membuat wanita itu membulatkan matanya.
"Tuan, kenapa-,"
"Tidak ada alasan. Terserah pada ku bukan? Aku pemilik perusahaan ini. Kalau kamu tidak mau mutasi, ya tinggal resign saja," ucap Zayn cuek.
Wanita itu kembali melayangkan tatapan tajam ke arah Jenna dan balik di tatap tajam oleh Jenna. Jenna tidak akan kalah jika hanya ditatap seperti itu. Jenna akan segera menatap tajam balik wanita itu. Sampai membuat wanita itu kalah dengan sendirinya.
Tak ada ucapan apapun, wanita itu keluar begitu saja dari ruangan Zayn dengan kesal. Jenna tahu karena wanita itu menghentak hentakan kakinya.
"Apa harus om mutasi dia?" Tanya Jenna.
"Itu memang sudah direncanakan sejak lama. Hanya saja wanita itu sangat sulit menandatangi surat mutasinya. Jadi ya ini peringatan terakhir, jika tidak mungkin aku akan segera menindaknya," ucap Zayn.
"Baguslah. Wanita itu sungguh membuat ku malu. Apa tidak ada baju lain yang bisa ia gunakan untuk bekerja disini?" Tanya Jenna.
"Sepertinya tidak ada. Wanita itu sering menggunakan baju seperti itu. Bahkan ada yang lebih parah, wanita itu pernah memakai baju transparan," ucap Zayn.
"Bagus, jadi om cuci mata ya?" Tanya Jenna membuat Zayn gelagapan.
"Enggak Jen, enggak," ucap Zayn.
"Enggak salah lagi pasti," ucap Jenna.
"Enggak Jen, serius," ucap Zayn.
__ADS_1
Tbc.