
***
Pagi harinya, Zayn masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk bersiap. Semalam ia sangat senang sekali karena bisa tidur memeluk guling hidup. Rasanya Zayn ingin segera menjadikan Jenna istrinya. Namun wanita itu sangat sulit sekali untuk ditaklukan.
Sementara di dalam kamar yang ditempati Jenna, wanita itu baru selesai mandi dan sedang bersiap. Dress cocktail berwarna putih pilihannya. Dress itu sangat pas di tubuh ideal Jenna. Tingginya diatas lutut. Jenna hanya menggunakan make up tipis dan mencepol rambutnya agar tidak berantakan. Apalagi hari ini ia akan ke lapangan.
Setelah siap, Jenna mengambil hells dan tas selempangnya. Ia juga mengambil jas untuk menutupi bentuk tubuhnya yang tercetak oleh dress itu. Setelah selesai ia pun keluar dari dalam kamarnya.
Di depan kamar hotel, Zayn ternyata sudah menunggunya. Saat keluar kamar, mata tajam Zayn menatap ke arah baju yang digunakan oleh Jenna.
"Harus pake baju kayak gitu hm?" Tanya Zayn.
"Gak usah komen. Jenna pake yang Jenna suka," ucap Jenna cuek. Ia pun berjalan menuju ke lift namun Zayn menarik tangannya sehingga wajahnya menubruk dada Zayn.
"Kenapa sih?" Tanya Jenna kesal.
"Apa kamu tidak sadar dengan kamu menggunakan baju ini aura kamu semakin keluar dan semakin cantik," ucap Zayn rendah. Ia menarik tekuk Jenna dan menyatukan bibir mereka. Namun Jenna melipat bibirnya ke dalam sehingga Zayn tidak bisa menciumnya.
Zayn tentu tidak kehabisan akal, pria itu mendorong tubuh Jenna agar menempel pada dinding yang ada didekatnya. Benturan tubuh Jenna dengan tembok membuat wanita itu memekik terkejut dan membuka mulutnya. Zayn tidak menyia nyiakan kesempatan itu. Pria itu kembali menyatukan bibir mereka. Mencium bahkan sedikit melum*tnya.
Jenna yang sudah terbiasa pun mau tak mau membalas ciuman pria ini. Entah kenapa semenjak kenal dengan Zayn, Jenna berubah drastis. Ia bahkan tidak risih saat pria itu menciumnya. Namun Jenna hanya seperti itu dengan Zayn.
Zayn melepaskan ciumannya dan tersenyum. Ia sedikit mengelap noda lipstik yang keluar garis bibir wanitanya. Dan memeluk pinggang Jenna posesif.
"Sebentar lagi dan aku akan terus bersabar menunggunya," ucap Zayn. Pria itu masih tersenyum.
"Maksud om?" Tanya Jenna.
"Tidak. Kita berangkat sekarang, sekalian kita makan pagi dulu di restoran yang ada di hotel ini. Baru kita ke lapangan," ucap Zayn.
"Iya."
Mereka pun turun ke lantai satu menuju restoran yang dimaksud oleh Zayn. Sejak mereka turun dari lift, Zayn sama sekali tidak melepaskan rangkulan tangannya pada pinggang ramping Jenna. Merangkul posesif seolah Jenna hanya miliknya.
"Selamat pagi tuan muda dan nona Adam. Mari, makanan untuk anda sudah terhidang," ucap manager hotel.
__ADS_1
"Terimakasih tuan Heri. Saya akan makan berdua dengan kekasih saya," ucap Zayn.
"Baik, silahkan tuan muda," ucapnya.
Jenna sudah kebal dengan sebutan kekasih oleh Zayn. Bahkan dia sudah merasa biasa saja saat Zayn mengklaim dirinya adalah pacarnya. Menolak juga percuma, yang ada mereka malah akan terus berdebat.
Zayn menarik kursi untuk Jenna duduk baru setelahnya dia yang duduk. Mereka makan pagi bersama hari ini. Entah kenapa sejak Zayn merasa bahagia. Niatnya meminta Jenna ikut serta pada om Adam tidak sia sia. Dengan begini seharian penuh ia akan bisa terus bersama Jenna.
Jika terus bersama dan Zayn terus mendekati Jenna, tidak menutup kemungkinan jika Jenna akan mulai menyukainya kan?
Jenna makan makannya dengan tenang. Ia tidak peduli dengan tatapan Zayn yang sejak tadi menatapnya. Zayn memang sejak tadi menatap wanita cantik yang duduk di depannya. Rasanya tidak bosan melihat wajah Jenna. Cantiknya tetap natural, meskipun memakai make up tipis.
Selesai makan, mereka berdua langsung berangkat menuju ke lapangan. Tempat dimana berdirinya pondasi bangunan hotel yang akan dibangun. Minggu lalu dia sudah meeting dengan Zayn. Ia kira hotel yang ia datangi saat ini adalah projek hotelnya, ternyata bukan. Ini projek Zayn dan papinya.
"Kenapa muka kamu ditekuk gitu? Panas ya?" Tanya Zayn saat mereka keluar dari dalam mobil.
"Enggak," ucap Jenna.
"Kamu bad mood?" Tanya Zayn.
"Pengen susu," ucap Jenna pelan.
"Susu?"
"Iya. Cariin om," ucap Jenna. Ia memang selalu meminum susu kotak. Dan bodohnya ia lupa membelinya kemarin.
Sejak dulu, Jenna memang sering mengkonsumsi susu kotak. Tidak sering memang, tapi Jenna selalu mengkonsumsinya.
"Kita baru sampe sini Jenn, nanti kita beli pas udah beres disini gimana?" Tawar Zayn.
"Serah om aja," ucap Jenna. Ia pun mengikuti langkah kaki Zayn.
Dua jam berlalu, Jenna benar benar mati kebosanan. Bagaimana tidak, ia hanya duduk menunggu Zayn yang sedang meeting dengan orang yang tidak ia kenali. Tadi memang Jenna sempat mengerjakan beberapa berkas dan bertemu klien tapi melalui zoom. Namun setelah selesai, ia tidak melakukan apa apa lagi.
Zayn bersalaman dengan kliennya dan pertemuan pun selesai. Di samping pembangunan hotel, ada sebuah restoran. Sejak tadi Zayn dan Jenna disana, mereka berada di ruangan privat.
__ADS_1
"Susu kamu bentar lagi sampai," ucap Zayn. Ia tahu jika Jenna saat ini sedang kebosanan. Ia memang sengaja menarik Jenna kesini untuk menemaninya.
"Lama," keluh Jenna.
"Sabar dong. Sini peluk," ucap Zayn.
"Gak mau. Nanti di cium," ucap Jenna. Ia menelungkupkan wajahnya pada meja di depannya.
Zayn mendekatkan kursinya ke dekat Jenna. Ia pun mengelus pelan kepala wanita itu dengan sayang.
"Bosen ya? Maaf deh, nanti sore kita ke pantai mau?" Tanya Zayn.
"Boleh. Tapi susunya mana?" Tanya Jenna.
Astaga, wanita ini benar benar. Zayn hanya menghela nafasnya dan kembali menelepon orang suruhannya untuk cepat membawakan susu kotak yang ia pesan. Selang lima menit berlalu, susu kotak pun sudah dihisap oleh Jenna melalui pipetnya. Mood wanita itu lama lama mulai berangsur baik.
"Enak ya?" Tanya Zayn.
Jenna menganggukan kepalanya, "Enak. Emang om gak pernah nyoba?"
"Enggak. Saya pernahnya nyoba punya kamu tapi gak ada airnya," ucap Zayn dengan polosnya.
Uhuk.. uhuk...
"Becanda Jennai. Gitu aja kaget," ucap Zayn tersenyum geli. Pria itu pun menarik tubuh Jenna agar duduk diatas pangkuannya.
"Jenna murahan gak sih main mau aja duduk di pangkuan om?" Tanya Jenna.
"Enggak, kamu mahal. Buktinya saya sulit dapetin kamu sampai saat ini," ucap Zayn.
Jenna menggerakan tubuhnya mencari posisi yang nyaman. Ia mengalungkan sebelah tangannya pada leher Zayn dan sebelahnya lagi meminum susu kotak tadi.
"Minta," ucap Zayn.
Jenna mengarahkan susu kotak pada Zayn, namun Zayn menggelengkan kepalanya tanda tidak mau.
__ADS_1
Tbc.