
***
Jenna dan Zayn berjalan jalan di sekitaran jalanan yang berada banyak sekali orang disana. Rata rata, mereka berpasangan. Banyak yang jajan di angkringan atau jajanan kaki lima lainnya. Sejak tadi tidak ada makanan yang menarik perhatian Jenna. Ia masih bingung memilih jajanan mana yang akan ia beli untuk dimakan. Semuanya enak namun tidak menarik dan tidak menggugah seleranya untuk membeli jajanan itu.
Sudah berkeliling dengan berjalan kaki, bahkan mereka sudah lama berada disana namun tidak ada yang menarik. Akhirnya Jenna memutuskan untuk pergi ke restoran saja. Zayn tentu saja menuruti kemauan Jenna. Mereka pun berjalan kembali menuju mobil untuk bisa cepat sampai ke restoran yang diinginkan oleh Jenna. Jenna sangat ingin sekali makan ramen pedas. Ditambah denga chicken katsu dan udah tempura. Belum lagi Jenna menginginkan sushi dan juga makanan lainnya. Jangan lupakan minumnya matcha late ice. Sungguh perpaduan yang sangat nikmat.
Perjalanan menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit. Zayn dan Jenna keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk ke restoran yang menyajikan banyak makanan Korea. Dua orang pelayan menyambut mereka di depan pintu masuk. Zayn memesan ruangan privat, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memberikan kenyamanan pada wanitanya. Setahu Zayn, Jenna memang suka kesunyian.
"Harus banget privat?" Tanya Jenna.
"Harus, aku harus memberikan kenyamanan untuk calon istri ku," ucap Zayn tersenyum. Entah kenapa hati Jenna terasa menghangat mendengar penuturan dari Zayn. Semoga saja mereka selalu akur seperti ini. Zayn dan Jenna masuk ke salah satu ruangan privasi yang hanya ada tiga meja sana di dalam satu ruangan itu. Disana tersisa dua meja yang kosong, satunya sudah terisi.
"Jenna." Yang memiliki nama langsung celingukan mencari orang yang memanggil namanya.
"Ale," ucap Jenna. Wanita itu pun melepaskan tautan tangannya pada lengan Zayn dan berjalan mendekat ke arah Ale saat Ale berjalan ke arahnya juga. Kedua wanita itu berpelukan. Jenna merasa biasa saja, berbeda dengan Ale yang memeluknya sangat erat. Jenna menyernyit heran, kenapa Ale seperti ini? Apa dugaannya benar?
"Lo kenapa?" Tanya Jenna pelan.
"Gue udah enggak perawan lagi," ucap Ale pelan. Jenna hampir saja mengumpat karena terkejut, namun untungnya ia cepat menetralkan ekspresinya.
"Kita perlu bicara?" Tanya Jenna.
Ale menganggukan kepalanya. "Ma, pa, om, tante, maaf Ale ingin bicara dulu dengan Jenna sebentar. Zayn, kamu gabung aja sama mereka," ucap Ale. Wanita itu menarik lengan Jenna untuk keluar dari dalam ruangan privat itu dan membawanya ke depan ruangan. Tiba tiba Ale kembali memeluknya. Ia benar benar membutuhkan sosok sahabat seperti Jenna saat dia sedang down seperti ini. Ia butuh sosok penguat disaat kedua orang tuanya tidak bisa menjadi sosok seperti yang ia mau.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa?" Tanya Jenna.
"Gue udah gak virgin, Ryan nanem benihnya di rahim gue dan malam ini dia mempertemukan keluarga untuk membahas hubungan kami," ucap Ale purau.
"Lo percaya aja dengan benih yang diberikan oleh Ryan? Itu belum tentu terjadi Ale, lo jangan mau di kibulin. Tunggu beberapa waktu dulu sampe lo bener bener hamil anak dia," ucap Jenna. Untungnya disana tidak ada siapapun, hanya ada Ale dan Jenna saja.
"Ini maunya gue ketemu dan bicara sama lo, otak gue bener bener buntu banget. Gue gak bisa mikir secara terbuka," ucap Ale.
"Saran gue sebagai sahabat cuma itu aja. Coba perlahan jangan terburu buru Le, lo harus bisa yakinin diri lo dan Ryan. Lo tahu sendiri Ryan kayak apa kan? Gue cuma gak mau aja suatu saat nanti terjadi sesuatu sama hubungan kalian, karena gue tahu lo suka sama Ryan," ucap Jenna.
Ale menghela nafasnya dan mengangguk. Setidaknya dia sudah memiliki pencerahan dari sahabatnya. Tadi saat sedang berbicara dengan keluarga Ryan, mama dari pria itu terus mendesaknya untuk segera menentukan tanggal pernikahan. Ale sama sekali belum memberikan jawaban sebab dia masih ragu dengan Ryan.
"Gue dukung apapun yang lo mau," ucap Jenna. Ale mengangguk lalu memeluk Jenna erat.
"Sama sama. Gunanya sahabat kan emang gitu," ucap Jenna. Ale mengangguk. Mereka pun memutuskan untuk segera masuk lagi ke dalam ruangan tadi. Tidak lama, mereka hanya menghabiskan waktu sekitar tujuh menit saja.
Di dalam, mama Ale langsung berdiri dan memeluk Jenna. Jenna memang sudah sangat dekat dengan kedua orang tua Ale.
"Jenna gabung aja disini sama pacarnya," ucap mama Ale.
"Enggak tante mama, Jenna mau di meja Jenna aja. Lagian ini lagi pertemuan keluarga, gak afdol rasanya kalo Jenna sama mas Zayn tiba tiba gabung," ucap Jenna tersenyum.
"Ya sudah, nanti main ke rumah ya? Udah lama kita gak ngobrol bareng," ucap mama Ale.
__ADS_1
"Iya tanma, Jenna usahakan ada waktu dan akan bermain ke rumah," ucap Jenna. Tanma adalah singkatan dari tante mama. Jenna memang sudah dianggap seperti anaknya sendiri oleh kedua orang tua Ale.
"Baik, tante sama om tunggu," ucap papa Ale.
"Iya ompa. Kalo gitu Jenna sama mas Zayn permisi dulu," ucap Jenna. Semua orang yang berada di meja itu mengangguk sekilas sebagai jawabannya. Jenna lantas menarik tangan Zayn menuju ke meja mereka karena tadi Jenna sudah mengatakan makanan yang dia pesan.
Tak lama setelah Jenna dan Zayn duduk, makanan yang mereka pesan pun tiba. Ramen, toppoki, corn dog, sushi, nasi goreng kimchi, americano late ice, matcha late ice, dan makanan lainnya. Jenna sepertinya kalap.
"Mas, nanti kapan kapan kita ke all you can it ya? Jenna udah lama gak kesana," ucap Jenna.
"As your wish my fiance," ucap Zayn tersenyum. Ia menyendokan nasi goreng lalu mengarahkannya ke mulut Jenna yang langsung diterima dengan baik oleh Jenna. Begitu pun Jenna, wanita itu menyuapi Zayn sushi miliknya
Dari seberang meja, Ale melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah sahabatnya itu. Diam diam dia tersenyum karena ikut bahagia, akhirnya setelah Jenna disakiti datang seseorang yang menawarkan cinta baru. Semoga saja mereka berdua selalu bahagia seperti itu.
"Kita juga bisa kayak gitu," ucap Ryan berbisik pada Ale. Kebetulan kursi duduk mereka memang bersebelahan.
"Masih ada pria lain yang bisa Ale ajak buat melakukan hal seperti itu," ucap Ale.
"Tidak ada pria lain, hanya ada aku. Ryan Andreas. Bersiaplah untuk segera menikah, Nabila Alesha Andreas," ucap Ryan tersenyum miring saat melihat raut wajah Ale yang berubah.
Tbc.
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN YA GUYS. MAAF LAHIR BATHINš¤
__ADS_1