
***
Yura menatap langit langit kamarnya yang berwarna putih cerah. Barusan dia keluar dan bertemu dengan Mario, namun Mario tidak mau berbicara dengannya dan langsung pergi begitu saja. Entah kenapa pria itu berubah. Bahkan gilanya pria itu semakin jauh saja darinya.
Jujur, Yura merindukan Mario yang dulu. Mario yang selalu menurutinya, Mario yang selalu mau menjamah tubuhnya, dan Mario yang mau segalanya bersamanya.
Sekarang, pria itu berubah. Entah apa yang mengubahnya, namun Yura yakin jika itu semua karena Jenna. Mario berubah tiba tiba seperti ini tentu saja Yura kesal bukan main, pasalnya pria yang dulunya begitu tunduk padanya kini benar benar berubah total. Yura masih tidak habis pikir, apa kurangnya selama ini pemberian dirinya pada Mario. Uang, kesenangan, dan yang lainnya. Padahal Mario hanya tinggal diam dan menurutinya, sisanya biar Yura yang hadapi. Tapi sepertinya ada yang mengubah pikiran Mario.
"Apa?" Tanya Yura saat seseorang menghubunginya.
"Kami sudah menemukan alamatnya," ucap orang di sebrang telepon.
"Very nice. Kirimkan segera alamatnya, setelah itu kau akan mendapatkan upah mu," ucap Yura.
"Tentu bos," ucapnya.
Tut.
Yura tersenyum senang karena akhirnya orang suruhannya mendapatkan alamat Mario. Dia akan langsung kesana saat ini juga. Sejauh apapun Marip menghindar dan pergi, Yura akan tetap bisa menemukannya. Tentunya karena uang.
Yura tentu saja sudah berdandan dan menyiapkan dirinya sejak tadi. Karena ia sudah yakin jika orang orang suruhannya akan berhasil menemukan keberadaan Mario. Yura mengambil tas selempangnya dan pergi dari sana. Dia tidak melihat keberadaan kedua orang tuanya di rumahnya. Entah kemana mereka Yura tidak tahu, lebih tepatnya dia tidak peduli. Dia punya kehidupannya sendiri yang harus ia urus.
Yura masuk ke dalam mobilnya dan melaju menuju ke alamat yang sudah dikirimkan oleh bawahannya. Dia juga sudah mentrasfer uang pada bawahannya itu karena kinerjanya yang bagus.
__ADS_1
Ternyata alamat tempat tinggal Mario yang baru cukup jauh dari area perkotaan. Pantas saja dia sangat sulit mencarinya selama ini. Bahkan butuh waktu juga bagi bawahannya itu untuk mendapatkan alamat Mario yang baru.
Perjalanan menuju ke alamat Mario kali ini menghabiskan waktu sekitar satu jam lebih tiga puluh menit. Yura mematikan mesin mobilnya dan menatap rumah kecil yang ada di depannya. Rumah itu terang oleh lampu, keadaan gelap karena memang sudah malam. Diluar rumah Yura melihat keberadaan motor Mario.
"Finally, i did it," ucap Yura pelan. Dia melepas jaket yang menutupi dress ketat berwarna merahnya. Yura bahkan sengaja tidak memakai dalaman atas, karena ia ingin memperlihatkannya pada Mario.
Yura keluar dari dalam mobilnya dan berjalan masuk. Dari luar, Yura mendengar suara musik. Mario memang selalu mendengarkan musik setiap saat. Tidak peduli itu akan membuat orang lain terganggu atau tidak. Yang jelas Mario menyukai musik.
Perlahan Yura membuka pintu depan rumah Mario. Ternyata tidak di kunci. Area disini sangat sepi, bagaimana bisa Mario tidak mengunci pintu? Bahkan motornya juga masih berada diluar. Yura berjalan masuk setelah membuka pintu depan. Rumah Mario cukup luas di dalamnya, mungkin karena tidak ada barang barang. Bahkan tidak ada sofa disini. Kasihan sekali.
Yura berjalan ke arah pintu yang berada tak jauh dari sana. Disana dia mendengar dengan jelas suara musik. Sepertinya itu kamar Mario. Yura lantas membukanya perlahan dan mengintip. Terlihat Mario sedang duduk diam sembari menikmati segelas wine dan juga sebatang rokok. Pria itu terlihat stress?
Ah, Yura ingat. Jenna baru saja bertunangan dan tunangannya cukup megah, sudah pasti Mario stres karena hal itu. Yura pun berjalan masuk ke dalam kamar itu. Ia melihat Mario yang sama sekali tidak menyadari keberadaannya. Yura pun langsung duduk di samping Mario.
Mario melirik sekilas dan kembali melirik ke arah lain. Yura tersenyum kesal melihatnya.
"Apa seperti ini rupa orang stress yang ditinggal tunangan? Tapi lebih tepatnya bukan ditinggal, karena sejak awal kamu yang meninggalkan dia. Wajar saja bukan jika dia akan bersama dengan pria lain?" Tanya Yura.
Mario diam. Dia tidak mau membalas ucapan Yura karena malas. Lagi pula untuk apa meladeni wanita yang haus akan batang ini? Tidak ada gunanya sama sekali.
"Ayolah Mario, kamu pikir kamu bisa tahan dengan tidak bercinta? Ingat, kamu sudah sering melakukannya dulu bersama ku," ucap Yura.
"Gue bisa sewa cewek lain, gue gak mau lo," ucap Mario ketus.
__ADS_1
Yura tertawa sumbang mendengarnya. Pria so jual mahal. Kita lihat, apa Mario bisa menahan hasratnya untuk tidak menyentuhnya.
"Well, kamu mungkin lupa seperti apa nikmatmya saat kita berdua bersama diatas kasur. Entah kasur atau sofa, mungkin di wastafel dapur," ucap Yura terkekeh. Dia mengingat dimana saja dia dan Mario melakukan pergulatan panas bersama. Bahkan Yura masih ingat seperti apa rasanya. Yura benar benar merindukannya.
"Yo, mau sampai kapan? Aku benar benar menginginkan kamu. Berbulan bulan lamanya kita tidak seperti itu lagi. Apa kamu benar benar tidak membutuhkan aku lagi?" Tanya Yura. Mario hanya diam saja. Dia terus menghisap batang rokoknya serta meminum wine miliknya.
Yura sedikit kesal dengan Mario, kenapa pria ini sangat sulit sekali untuk tunduk seperti dulu? Sepertinya dia harus memulainya lebih dulu. Memancing nafsu Mario adalah salah satu pemikirannya sejak dulu.
Tangan Yura naik ke atas paha polos Mario karena pria itu hanya menggunakan celana kolor yang tertarik ke atas saat dia tidur. Yura mulai mengecup pelan bahi tangan kanan Mario cukup lama. Tangannya juga bahkan sudah naik ke atas selangk*ngan Mario. Hingga akhirnya tangan itu pun berada diatas milik Mario.
Yura merem*s pelan milik Mario. Bahkan sejak tadi Yura terus melihat raut wajah Mario yang terus berbeda. Yura tahu jika Mario juga menginginkan hal itu. Namun pria ini sepertinya gengsi. Jadi ya sudah biar Yura yang menggodanya lebih dulu.
"Lihat kan, hanya aku yang bisa membuatnya berdiri setegak ini," ucap Yura. Mario menatap gelap ke arah Yura. Yura sangat senang sekali dengan tatapan Mario yang seperti itu padanya.
Yura pun bangkit dan melepaskan dress ketatnya. Hanya menyisakan dalaman bawahnya saja. Yura pun kembali duduk namun dia duduk diatas pangkuan Mario. Yura langsung menyambar bibir Mario dan diterima dengan baik oleh pria ini.
Gotchaa!!
Yura benar benar senang karena akhirnya Mario tunduk padanya.
"F*ck me, Mario," ucap Yura pelan.
Mendengae ucapan Yura, jiwa dan nafsu Mario seolah terpanggil. Dia tidak lagi menolak gadis ini dan langsung menyambar bibir dan tubuhnya yang lain.
__ADS_1
Tbc.