
***
Ale sedang berjalan keluar dari restoran milik kedua orang tuanya. Pekerjaan di restoran memang tidak terlalu sulit, namun Ale ditantang oleh kedua orang tuanya untuk menciptakan menu baru untuk restorannya. Itu sebabnya pikirannya mumet sejak kemarin. Ia memang lulusan tata boga di universitas bergengsi yang ada di luar negeri. Tapi itu bukan berarti jadi acuan untuknya bisa menciptakan menu baru dengan mudah.
Belum lagi Ale harus observasi mengenai menu yang akan ia buat. Entah enak atau tidaknya ia tidak tahu, konsep makanannya pun belum ia tahu. Ditambah kedua orang tuanya meminta waktu selama satu bulan pada Ale agar bisa segera membuat menu baru.
Hei, Ale tidak mungkin bisa menciptakan sebuah menu baru untuk restorannya. Pandai memasak bukan berarti makanan yang ia buat akan disukai banyak orang kan? Itu belum pasti.
"Puyeng banget gila, mana Jejen gak bisa gue hubungin lagi. Kan gue mau minta saran tuh anak," ucap Ale. Gadis itu jadi sering keluar restoran untuk mengeksplor beragam makanan yang disajikan entah di cafe atau restoran. Semuanya ia jajahi.
Seperti saat ini, Ale sedang duduk sendirian menyantap salah satu hidangan restoran bintang lima. Ia memakan abalon yang dipadukan dengan hati angsa.
Dari tampilannya ini menarik dan cukup menggugah selera. Namun porsinya sangat minim sekali. Sekali hap langsung habis dalam satu suapan saja. Ale mulai memotongnya dan memakannya dengan perlahan. Lidahnya menyecap beragam rasa yang ada pada makanan itu. Rasanya juga enak, namun Ale tidak menyukai hati angsa.
Dilihat dari segi materialnya saja, abalon dan juga hati angsa harganya juga cukup mahal jika menggunakan bahan berkualitas. Pantas saja porsinya sangat kecil. Ale hanya memakan habis abalonnya sedangkan hati angsanya ia simpan saja. Ia tidak suka.
Kini ia beralih ke steak wagyu A5 yang dipadukan dengan rose sauce.
"Beuh, matengannya kesukaan gue ini," ucap Ale. Ia pun mulai memakannya dalam satu hap. Menu menu disini sepertinya mungkin memang sengaja dihidangkan dalam porsi mini.
"Enak banget gila. Apalagi rose sauce-nya. Tapi cuma dikit. Mana kenyang," ucap Ale. Kini ia beralih pada dessert berwarna merah berbentuk hati.
"Anjir, ngeri ngeri sedep ngeliatnya. Mana bentuknya bucin banget lagi," ucap Ale. Ia memotong dessert itu. Ternyata yang berwarna merah ini adalah layer penutup es krim di depannya. Rasa es krim vanilla. Namun sangat lembut. Ale sampai memejamkan matanya ketika menikmati makanan ini.
Tanpa sadar, ada seseorang yang memperhatikannya sejak tadi. Dia seorang pria dewasa. Awalnya ia tidak tertarik dengan wanita yang duduk sendirian, namun melihat ekspresinya yang lucu membuatnya tidak mampu mengalihkan atensinya dari wanita itu.
Wanita itu memakan pesanannya kemudian berbicara. Beberapa ekspresinya terlihat mendumel.
***
Jenna terusik dalam tidurnya saat mencium bau sedap dari arah dapurnya. Ia pun membuka matanya dan bangun. Berjalan perlahan sambil menguap. Dari pintu masuk ke dapur, ia melihat Zayn yang sibuk dengan alat alat masak. Pria itu nampak sangat cocok lucu sekali ketika sedang menggunakan celemek.
__ADS_1
Jenna pun bergerak dari sana. Berjalan menuju ke arah Zayn. Ia merentangkan tangannya dan memeluk pria itu dari belakang. Dapat Jenna rasakan jika tubuh Zayn menegang.
"Ngagetin sayang," ucap Zayn. Ia berusaha menetralkam tubuhnya yang terkejut itu.
"Masak apa?" Tanya Jenna. Wanita itu menyembulkan kepalanya dari arah kiri tangan Zayn.
"Steak sayang, kamu mau?" Tanya Zayn.
"Mau lah. Aku bantuin sini," ucap Jenna.
"No. Kamu lagi sakit, duduk aja disana. Sebentar lagi ini siap," ucap Zayn.
"Beneran gak mau aku bantuin?" Tanya Jenna sekali lagi.
"Beneran cinta. Udah sana duduk," titah Zayn.
Jenna menahan senyumnya, "Oke, oke."
"Ngelamunin apa sayang?" Tanya Zayn. Ia membawa dua nampan piring berisi steak. Aroma asap yang keluar dari steak itu sungguh sangat menggugah selera makan Jenna.
"Enggak. Enggak mikirin apa apa kok," ucap Jenna.
"Yakin?" Tanya Zayn. Jenna mengangukan kepalanya. Ia menerima piring steak miliknya. Hidungnya menghirup dalam aroma steak itu. Sangat sangat enak sekali aromanya.
Saat Jenna akan memotongnya, tiba tiba Zayn menarik piring milik Jenna dan menggantinya dengan piring miliknya, berisi steak yang sudah dipotong potong olehnya dengan cepat saat Jenna sedang menikmati aroma steak itu.
"Habiskan ya," pinta Zayn.
"Okey."
Mereka berdua pun memakan steak itu dengan tenang. Jenna terdiam menikmati rasa steak itu. Rasanya benar benar enak sekali. Tidak kalah dengan restoran bintang lima. Disana juga ada wine, namun Jenna tidak meminumnya. Ia memilih orange juice sebagai gantinya.
__ADS_1
"Apa ada yang mengganggu pikiran mu?" Tanya Zayn.
"Ah, tidak. Itu tidak penting," ucap Jenna.
"Katakan saja. Aku pasti akan menjawabnya," ucap Zayn.
"Em, om bilang Jenna orang pertama buat om. Apa sebelumnya om tidak pernah memiliki kekasih?" Tanya Jenna.
Zayn terdiam. Tak berselang lama ia tersenyum dan menatap ke arah Jenna. "Jika kamu tidak percaya, kamu tinggal tanyakan saja sama mama aku."
"Enggak gitu. Bukan maksud Jenna gak percaya om, Jenna cuma aneh aja. Apa iya orang kayak om gak punya pacar atau mantan gitu?" Tanya Jenna.
"Tapi kenyataannya memang seperti itu Jennai. Selama sekolah pun aku tidak pernah tertarik sama sekali dengan wanita mana pun. Kamu benar benar wanita pertama untuk aku sekaligus cinta pertama aku," ucap Zayn. Ia mengambil minuman wine miliknya.
Matanya menatap ke arah Jenna yang juga menatapnya.
"Yaudah iya. Jenna lanjut makan ini," ucap Jenna.
"Habiskan."
Jenna menganggukan kepalanya samar. Ia kembali memakan steak miliknya yang dibuat oleh Zayn. Saking enaknya ia sampai lahap memakannya.
Sementara Zayn terus menatap ke arah Jenna. Ia yakin sekali jika wanita itu masih memiliki banyak pertanyaan di otaknya. Namun ia tahan dan tidak ia keluarkan.
Zayn tersenyum kecil melihat Jenna yang makan dengan lahap. Cara makan Jenna memang elegan namun tetap saja menurutnya itu lucu.
"Pelan pelan sayang, nanti lidah dalam kamu ke gigit," ucap Zayn.
"Iya." Jenna menjawabnya sekilas dan kembali fokus makan. Ia mengabaikan ucapan Zayn tadi hingga....
"Awhhhhh."
__ADS_1
Tbc.