One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
138. Benalu


__ADS_3

***


Zayn dan Ryan kompak menoleh ke arah Jenna dan Ale setelah mendengar helaan nafas panjang dari kedua wanita itu. Mereka mengernyit melihat raut putus asa dari kedua wanita ini. Apa ikatan persahabatan mereka sangat kuat? Sampai sampai mereka bisa merasakan beban satu sama lain?


"Lo udah apain Jenna sampe sampe dia hela nafas panjang?" Tanya Ryan pelan.


"Gue minta jatah gue lah sama dia, udah lama gue gak na ena sama dia. Tapi dia nolak mulu, gue yakin ini semua gara gara kemunculan Eliza lagi," ucap Zayn.


"Sabar aja," ucap Ryan.


"Lo sendiri, lo apain Ale?" Tanya Zayn.


"Gue ancam dia kalo dia gak mau turutin maunya gue, ya gue tidurin dia. Simpel," ucap Ryan.


"Bejat," ucap Zayn.


"Ngaca," ucap Ryan.


Kedua pemuda itu pun kembali diam. Menyesap wine yang berada di depan mereka. Tiba tiba Ryan mengajak Ale pergi, entah mereka akan kemana padahal pesta sedang berlangsung. Kini hanya ada Zayn dan Jenna saja di meja itu. Zayn tersenyum saat melirik ke arah Jenna yang sedang mencebikan bibirnya. Zayn tahu wanitanya itu sedang bosan dan gabut.


"Mau minum ini?" Tawar Zayn.


"Nanti aku mabuk," ucap Jenna.


"Gak papa, kan ada aku. Aku gak mungkin ninggalin kamu sayang," ucap Zayn.


"Sini deketan," ucap Jenna pada Zayn. Dengan cepat Zayn mendekat dan menurut. Jenna langsung melingkarkan tangannya pada lengan Zayn dan menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu.


"Kenapa sayang?" Tanya Zayn.


"Pulang, aku gak suka disini," ucap Jenna.


"Ya sudah kita pamit dulu sama om Andre sama istrinya juga. Kita pulang," ucap Zayn. Jenna mengangguk sekilas, tiba tiba Ryan datang lagi dan meminta mereka ikut bersama dia. Alhasil Zayn tidak jadi pamitan karena ikut dengan Ryan. Mereka memasuki lift, Ryan menekan tombol lantai paling tinggi.


"Mau kemana?" Bisik Jenna.


"Yan ini ada apa?" Tanya Zayn.


"Ale ngajak kalian buat ikut nongkrong di rooftop, nanti sekalian nginep disini aja. Gue udah pesen dua kamar buat kita berempat," ucap Ryan.

__ADS_1


"Aku tidur sama Ale? Gitu om?" Tanya Jenna.


"No, kamu sama Zayn dan aku bersama Ale. Tidak ada bantahan," ucap Ryan.


"Ck."


Lift terus melaju sampai mereka tiba di tujuan. Zayn dengan posesifnya merangkul pinggang Jenna dan berjalan menuju ke arah dimana ada Ale duduk disana. Gadis itu sudah terlihat seperti, mabuk?


"Heh, lo mabok? Ale, Ale," panggil Jenna.


"Enggak. Gue gak mabuk Jenn," ucap Ale. Padahal kenyataannya gadis itu sudah setengah teler. Ia hampir ambruk jika saja Ryan tidak dengan sigap menahannya.


"Lah, beneran mabuk dia," ucap Jenna. Dia pun duduk di dekat Zayn. Berhadapan langsung dengan Ale dan Ryan.


Jenna terus memperhatikan gerak gerik Ale, sepertinya ada yang salah dengan gadis itu. Dia tidak pernah minum minuman seperti itu, lalu kenapa dia sekarang meminumnya?


Zayn sendiri sudah menikmati minuman berwarna merah pekat, berbeda dengan warna wine biasanya. Bahkan Zayn juga meminum minuman berwarna kuning keemasan. Entah itu minuman apa Jenna tidak tahu. Tiba tiba Zayn menawarkan minuman itu, bau menyengat langsung menyerang hidungnya. Jenna terbatuk batuk menghirup aromanya.


"Ini enak sayang, hanya baunya saja yang menyengat," ucap Zayn.


"Gak mau mas, aku gak mau mabuk nantinya. Bisa bisa kamu gitu lagi ke aku," ucap Jenna.


"Iya, tapi enggak ada s*x sebelum menikah. Dan jangan tanya kapan aku siap dinikahin ya? Aku belum punya jawaban apa apa," ucap Jenna.


"Nikah cepetan Jenn, nanti gue nyusul sama Ryan," ucap Ale. Gadis itu bersandar dengan manja di dada bidang Ryan.


"Dia mabuk om?" Tanya Jenna.


"Dia maksa minum yang merah itu, alhasil kayak gini," ucap Ryan.


"Jangan di unboxing ya om? Kasihan nanti kalo udah sadar, takutnya dia bisa gila," ucap Jenna.


"Justru dia mancing terus dari sebelum kesini," ucap Ryan.


Jenna mengernyit. Ale memancing nafsu Ryan? Apa benar?


Tanpa sepengetahuan Jenna, Ryan mengkode Zayn untuk memberikan minuman yang sedang dipegang oleh Zayn. Yap, minuman kuning keemasan tadi. Rupanya terlihat seperti teh hangat namun warnanya sedikit cerah. Zayn sempat menyernyit, namun tak lama dia pun mengerti dan tersenyum miring.


"Coba dulu sayang, kamu gak akan tahu bisa teler atau enggaknya. Ini enak loh," ucap Zayn.

__ADS_1


"Beneran? Gak bohong?" Tanya Jenna.


Zayn berdehem pelan, "Enggak sayang."


Dengan ragu Jenna menerima gelas yang diberikan oleh Zayn. Ia terus terganggu dengan bau minuman itu, namun ia tetap mencobanya. Selain paksaan dari Zayn, dia juga penasaran dengan minuman itu. Jenna pun mencobanya. Awalnya mulutnya tidak bisa menerimanya, namun lambat laun ia meminumnya sampai habis.


"Mm, rasanya kok gini ya?" Ucap Jenna.


"Enak?" Tanya Zayn.


Jenna menggelengkan kepalanya. Entah ini enak atau tidak namun rasanya benar benar aneh. Ia belum pernah mencobanya. Tapi dia ketagihan dan memintanya kembali pada Zayn. Zayn dengan senang hati memberikan minuman yang diinginkan oleh Jenna.


"BABY, KENAPA NINGGALIN AKU?!" Teriak Eliza menggema. Membuat Zayn dan Ryan menoleh.


"Mampus, tuh benalu datang waktu Jenna udah teler untungnya," ucap Ryan. Zayn melirik ke arah sampingnya, benar saja Jenna-nya sudah teler.


"Ini minuman apa?" Tanya Zayn.


"Gue cekokin beberapa obat yang bisa bikin dia berada di bawah lo malam ini. Sama halnya dengan wanita gue, gue yakin lo tahu itu obat apa," ucap Ryan menyeringai.


"Bangs*t lo," umpat Zayn.


"Ayolah, gue tahu lo udah gak tahan. But, beresin dulu benalu itu," ucap Ryan. Tak lama Eliza pun sudah berada di samping Zayn. Duduk dengan manja di sebelah pria ini.


"Kenapa gak sama aku kesininya? Kenapa sama dia?!" Ucap Eliza.


Zayn menepis lengan Eliza yang berada di lengannya dengan cepat. Saat dia akan berbicara, Jenna lebih dulu menarik tekuk pria itu untuk menciumnya.


Di seberang mereka, Ale terkikik geli melihat Eliza yang diabaikan oleh Zayn.


"Pelakor, gak usah gangu. Hussh, hushh," usir Ale.


"Lo keluar atau lo mau lihat kegiatan Jenna sama Zayn?" Tanya Ryan.


"Gak bisa! Zayn cuma boleh sama gue," ucap Eliza.


"Baby, ayo kita ke kamar. Tinggalin wanita ini aku bisa puasin kamu," ucap Eliza pada Zayn. Ia menarik pria itu sehingga ciumannya terlepas. Namun lagi lagi Zayn menepis tangan wanita itu dan memangku tubuh Jenna, membawanya pergi dari sana.


Ryan memanggil beberapa bodyguard untuk menyeret Eliza keluar dan meminta berjaga di depan pintu lift. Karena kamar Jenna Zayn dengan kamarnya dan Ale bersebelahan.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2