
***
Jenna melambaikan tangannya saat mobil yang ditumpangi Zayn pergi. Ada sedikit perasaan tidak rela saat Zayn pergi. Rasanya Jenna ingin terus bersama pria itu. Saat bersama Zayn, Jenna merasa senang juga nyaman sekali.
Tunggu dulu, apa yang dia pikirkan barusan? Tidak, tidak. Apa apaan ini. Jenna menerima Zayn karena kasian sekaligus mencoba mempercayainya kembali. Entah ini akan bertahan sampai kapan, yang jelas Jenna belum sepenuhnya percaya.
Jenna berbalik masuk kembali ke rumahnya. Namun di pintu, Jeni sudah menunggunya. Wanita itu terlihat senyum senyum tidak jelas.
"Mami kenapa?" Tanya Jenna.
"Enggak, mami seneng aja akhirnya Jennaira Adam punya kekasih yang bener bener kaya raya. Hidup kamu terjamin kalo sama dia Jenn," ucap Jeni. Ia menggandeng tangan anaknya dan masuk ke dalam rumahnya.
"Tahu dari mana mami kalo om Zayn kaya raya?" Tanya Jenna.
"Ya tahu lah. Dia kan CEO Nagendra Group," ucap Jeni.
"Bukannya om Rendra yang jadi CEO disana?" Tanya Jenna.
"Udah diganti sama anaknya. Rendra cuma sesekali doang mampir ke perusahaannya," ucap Jeni.
Jenna hanya menggidikan bahunya dan pamit ke kamarnya. Sungguh sangat ia lelah sekali saat ini. Namun sebelum tidur, Jenna ingin mandi dulu.
Menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit, akhirnya Jenna selesai mandi. Ia melilitkan handuk di kepalanya sedangkan tubuhnya dibalut bathrobe. Ia menatap dirinya pada pantulan cermin. Di lehernya banyak sekali kissmark hasil karya seorang Zayn Nagendra.
"Aaaa, kesel gue. Ini bakalan lama ilangnya," erang Jenna. Ia sedikit menyingkap bathrobe-nya. Di dadanya juga banyak bercak merah keunguan. Bahkan bibirnya juga sedikit luka.
"Awas ya om, Jenna gak bakalan tinggal diem aja," ucap Jenna. Ia pun melepaskan lilitan handuk di rambutnya dan mengeringkannya. Saat sedang asik mengeringkan, tiba tiba ponselnya berbunyi. Panggilan video dari Zayn masuk.
"Apa?" Semprot Jenna saat panggilan sudah terhubung.
"Malam sayang," sapa Zayn.
"Malam om," ucap Jenna.
"Habis mandi ya?" Tanya Zayn.
Jenna mengambil ponselnya dan mengarahkan kamera ponselnya ke lehernya.
__ADS_1
"Lihat nih gara gara om, mana disini juga. Bibir aku juga jadi luka. Tanggung jawab!" Ucap Jenna.
Zayn terkekeh. Rasa lelahnya menguap, hilang begitu saja saat melihat tingkah menggemaskan kekasihnya.
"Nanti aku tambahin yang banyak. Bibirnya juga aku bikin bengkak lagi," ucap Zayn.
"Jangan ih! Jangan harap Jenna mau tidur sama om lagi. Udah cukup ya," ucap Jenna.
"Kenapa? Bukannya kamu selalu menikmati permainan kita? Kamu ingat gak, kemarin kamu bin*l banget sayang. Suara kamu terus terdengar indah di telinga aku," ucap Zayn.
"Om kerja? Kan udah malem," ucap Jenna. Ia merebahkan tubuhnya diatas kasur miliknya.
"Ada sedikit pekerjaan tadi sayang, jadi aku kerja dulu sebelum pulang," ucap Zayn.
"Pulang kemana?" Tanya Jenna.
"Ke rumah istri aku," ucap Zayn.
Deg.. maksudnya? Bukannya Zayn belum menikah?!
"S-serius om?" Tanya Jenna.
"Ya udah balik sana. Jangan temuin Jenna lagi," ucap Jenna. Ia hendak mematikan panggilan itu namun Zayn menahannya.
"Kamu belum dengar ucapan aku sepenuhnya sayang. Jangan marah. Istri yang aku maksud itu kamu, bukan wanita lain. Kan kamu tahu sendiri kalo aku cuma mau sama kamu," ucap Zayn.
"Gak tahu ah, Jenna kesel sama om," ucap Jenna.
Tut.
Panggilan pun dimatikan oleh Jenna sepihak. Ia kesal sekaligus senang. Entahlah, ia bingung dengan perasaannya sendiri. Lebih baik ia segera memakai baju dan tidur. Ia sangat lelah sekali.
***
Hendri baru saja pulang dari Bali. Hidupnya terasa indah sekali setelah menikmati hubungan intim dengan beberapa wanita penghibur di club. Sepertinya ia harus mengatur rencana lagi untuk kembali ke luar kota.
Di rumahnya, Yura sedang pergi entah kemana. Ia hanya disambut oleh istrinya.
__ADS_1
"Capek ya pah? Mau mama pijitin?" Tanya Heni.
"Boleh, nanti setelah papa mandi ya. Oh iya, Yura kemana?" Tanya Hendri.
"Katanya ada party sama temen temennya. Biarin lah pah, lagian dia udah dewasa juga," ucap Heni.
"Iya ma."
"Pah, berita itu bener? Yang Jenna sama CEO Nagendra itu? Itu siapa yang sebarin fotonya?" Tanya Heni.
"Papa belum cerita sama mama. Sebenarnya papa yang minta sebarin foto itu. Papa sendiri juga yang ambil foto itu waktu di Bali kemarin, kebetulan pas papa refresh otak ke pantai, tiba tiba papa lihat Jenna lagi pelukan sama Zayn. Ya udah papa ambil gambarnya terus besoknya papa suruh media upload foto itu," jelas Hendri.
"Oh my god! Serius pa? Papa hebat banget sih, tahu gak tadi aja Jeni gak ikutan ke acara arisan. Katanya lagi sibuk, padahal dia lagi hindarin wartawan. Rasanya mama pengen lihat reaksi wajah mereka waktu di kerubungi wartawan," ucap Heni.
"Tenang ma, besok pasti para wartawan bakalan incer terus mereka buat minta keterangan. Apartement-nya Jenna juga udah papa kasih tahu alamatnya. Bawahan papa bilang apartement-nya Jenna di kerubungi wartawan. Papa jamin kalo Jenna sama Zayn masih di Bali. Mereka gak bisa pergi dari Bali saat ini, ya untuk menghindari wartawan pastinya," ucap Hendri.
"Mama puas banget, pasti besok Jenna sama Zayn gak bakalan ke kantor dong pah?" Tanya Heni.
"Enggak akan. Besok rencana papa buat ambil semua investor sama klien mereka supaya rencana proyek pembangunan hotel yang dipegang Jenna gagal total dan Adam bakalan merugi besar," ucap Hendri.
"Papa emang pinter," ucap Heni.
Sementara di lain tempat, tepatnya di sebuah club, Yura sedang melenggok lenggokan tubuhnya diatas dance floor. Ia sudah berada disana sejak satu jam yang lalu. Pikirannya sudah tidak sewaras sebelum ia mabuk.
Yura bahkan tidak sadar jika di belakangnya ada seorang pria tua berperut buncit terus mengerayangi tubuhnya. Namun anehnya, Yura tidak merasa terganggu sama sekali olehnya. Justru ia dengan sengaja menunggingkan bokongnya sehingga bersentuhan dengan milik pria tua itu.
Pria tua itu memeluk tubuh Yura dan merem*s kedua squishy milik Yura. Yura hanya melenguh dan mendesis saat miliknya direm*s. Ia bahkan tidak risih saat pria itu menarik tubuhnya kemudian menyatukan bibir mereka.
"Kita ke kamar?" Tanyanya.
"Berani bayar berapa?" Tantang Yura tersenyum miring.
"Semau kamu," ucapnya.
"Seratus juta, bagaimana?" Tanya Yura.
"Asal kau bisa membuat ku puas diatas ranjang," ucapnya lagi.
__ADS_1
"Itu gampang. Mari ke kamar sekarang," ucap Yura. Ia naik ke atas pangkuan pria ini dan memeluknya erat. Pria iu tentu saja senang karena berhasil menangkap seorang wanita muda untuk menemani malam suntuknya saat ini.
Tbc.