
***
"Neng, ini kenapa atuh dibakar? Kan sayang," tanya bi Uci.
"Ngalangin pemandangan kamar bi. Jenna mau ganti pajangan lain yang lebih bagus," ucap Jenna.
Bi Uci hanya ber-oh saja. Wajar saja, anak majikannya ini sangat luar biasa kaya raya. Jadi tidak perlu heran lagi.
Jenna pun masuk ke dalam rumah meninggalkan bu Uci yang masih membakar sampah. Bi Uci memang terkadang membakar sampah di malam hari. Katanya jika dibakar pagi pagi akan merusak udara sejuk di pagi hari dan di siang hari panas sedangkan sore hari bi Uci selalu mager. Alias malas bergerak.
Jenna mengambil banyak snack dan minuman kaleng dari dapur untuk ia bawa ke ruang keluarga. Disana ia rencananya memang akan menonton bersama dengan keluarganya. Termasuk bi Uci dan mang Ucup.
"Rambut kamu kok belum disisir sih?! Sini mami sisirin," ucap Jeni. Jenna pun berjalan mendekat ke arah maminya dan duduk lesehan dibawah sofa. Meja yang ada di depan sana sudah diangkut oleh papinya agar menjauh dari sana karena rencananya Jenna akan rebahan disana sembari menonton.
Jeni dengan telaten menyisir rambut anak kesayangannya. Kebetulan sisir miliknya masih ia simpan diatas rambutnya. Ia memang sudah terbiasa seperti ini.
Film pun dimulai. Semuanya sudah berkumpul di depan tv besar berukuran 60 inchi. Suara speaker menggema. Beruntung Adam lebih dulu mengecilkan volumen tv.
Jenna mengambil cemilan dan mulai memakannya saat film sudah dimulai. Opening filmnya cukup bagus. Jenna menikmatinya. Begitu juga dengan yang lainnya.
Sebenarnya Mira sudah mengantuk namun demi cucu kesayangannya ia rela menahan kantuknya sembari sesekali menguap. Malik yang paham istrinya sudah mengantuk pun menarik lembut kepala sang istri untuk menyandar pada bahunya.
"Tidur aja," bisiknya. Mira mengangguk sekilas dan memejamkan matanya. Ia sungguh sudah mengantuk sekali. Matanya terasa sangat berat.
Tiga puluh menit berlalu, film pun sudah selesai. Bi Uci dan mang Ucup sudah pamit duluan untuk tidur. Sedangkan Adam mematikan tv karena memang sudah waktunya tidur.
__ADS_1
Malik menggendong istrinya masuk ke dalam kamar. Jeni dan Adam pun berjalan ke kamar mereka. Tersisa Jenna saja. Ia harus membereskan sisa snack yang ia pakai. Setelah selesai ia pun naik ke atas menuju ke kamarnya.
Rambutnya sudah kering jadi ia bisa langsung rebahan dan tidur. Namun sebelum tidur, Jenna lebih dulu mengecek ponselnya yang ia tinggalkan di kamar. Ada beberapa chat yang masuk.
Mulai chat dari Ale, Mario, dan nomor tak dikenal. Jenna membalas pesan Ale sedangkan pesan Mario tidak ia balas bahkan tidak ia baca. Ia hanya mengarsipkannya saja supaya tidak mengganggu pemandangan. Namun di nomor tak dikenal ini, ada tiga panggilan tak terjawab dan satu pesan.
Jennaira Adam, kita akan segera bertemu lagi.
Begitu kira kira isi dari pesan nomor tidak dikenal ini.
"Siapa nih? Ketemu mau apa? Mau kasih gue uang kaget kali ya?" Gumam Jenna. Dia pun mengabaikan pesan itu dan menepuk nepuk bantal miliknya kemudian tidur. Jenna juga sudah mematikan lampu kamar yang diubah menjadi lampu temaram khusus tidur. Ia sudah memejamkan matanya dan sebentar lagi akan menuju ke alam mimpi.
***
Sekitar pukul enam pagi, Jenna sudah dipaksa bangun oleh maminya. Bahkan dari jam setengah enam maminya sudah gaduh sekali memasuki kamar Jenna. Sayangnya Jenna lupa mengunci pintunya.
Mau tak mau Jenna pun bangun dan memaksa membuka matanya yang sangat rapat sekali.
"Iya mami iya, udah ngocehnya. Jenna mandi ini," ucapnya. Ia pun bangun dan berjalan perlahan masuk ke kamar mandinya.
Ini salah satu alasan dia saat berkuliah tidak mau satu rumah dengan maminya. Jenna lebih rela telat masuk kampus dari pada harus dipaksa bangun seperti ini.
Iya, Jenna memang sering telat masuk kampus namun anehnya dia menjadi lulusan terbaik dengan IPK tertinggi dari pada teman temannya yang lain.
Sekitar satu jam lamanya Jenna baru keluar dari dalam kamar mandi. Ia sangat lama karena tadi ia ketiduran lagi disana.
__ADS_1
Jenna sudah bersiap dengan outifnya yang dipilihkan sang mama. Sebuah dress cocktail berwarna hitam dengan aksesoris belt di bagian pinggangnya. Jenna juga memakai hells berwarna senada dengan bajunya. Sedangkan rambutnya, ia menggerainya.
"Pilihan mami emang paling the best. Gue pake baju ginian aja udah keliatan kayak bussninesa woman," ucap Jenna. Ia pun mengambil ponselnya dan keluar dari dalam kamarnya. Jenna memang tidak membawa tas karena memang untuk apa. Toh semua uangnya ada di mbankingnya.
Jenna sarapan pagi bersama dengan keluarganya. Jeni dengan telaten memberikan nasi goreng beserta ayam goreng kesukaan anaknya. Jenna makan dengan lahap. Entah mengapa ia selalu saja lapar setiap saat. Beruntung badannya tidak berubah menjadi gemuk meskipun ia banyak makan.
Setelah selesai sarapan, Jenna dan Adam juga Malik bersiap untuk ke kantor. Mereka bertiga berpamitan pada Jeni dan Mira kemudian masuk ke dalam mobil.
Waktu tempuh menuju ke kantor sekitar empat puluh menit lamanya. Jenna keluar dari dalam mobil setelah dibukakan pintunya oleh Adam, ayahnya. Adam memang selalu memperlakukan anaknya seperti seorang putri. Jenna adalah anak yang sangat ia tunggu tunggu setelah menikah selama tiga tahun lamanya. Jadi dia dan istrinya sangat memanjakan Jenna.
"Dam, ayah langsung ke ruangan ayah. Ada beberapa berkas yang harus ayah periksa dulu sebelum meeting," ucap Malik.
"Iya yah. Jenna biar ikut Adam aja. Ayo sayang," ucap Adam. Jenna mengangguk dan berjalan menggandeng tangan papinya.
Saat ia masuk, semua pasang mata karyawan disini langsung menatap ke arahnya. Beberapa karyawan yang berpapasan dengan Adam dan Jenna pun menundukan kepalanya memberi hormat.
Mereka semua sudah tahu siapa wanita yang menggandeng tangan CEO dari Adam's Enterprise. Dia adalah anak semata wayang bos mereka.
Jenna mengikuti langkah papinya masuk ke dalam ruangan kerja miliknya. Ternyata disana sudah ada yang menunggu papinya.
"Maaf menunggu lama, tuan Nagendra," ucap Adam. Dia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan pria itu.
"Tidak apa apaa tuan Adam," ucapnya. Jenna yang sibuk dengan ponselnya pun tidak tahu siapa pria yang ada di ruangan papinya ini.
"Jenna sayang, perkenalkan, dia adalah tuan Nagendra. Anak rekan bisnis papi," ucap Adam. Saat namanya disebut Jenna pun menaikan wajahnya untuk melihat ke arah depan. Lebih tepatnya ke arah pria ini.
__ADS_1
Mata Jenna melotot sempurna melihat pria di depannya ini yang sedang menatapnya dengan senyum smirk yang sangat tipis.
Tbc.