
Ramein ya guys :)
***
Malam harinya, Zayn mengajak Jenna berkeliling kota Bandung dengan berjalan kaki. Jenna sama sekali tidak masalah dengan hal itu, toh dia juga sering berjalan kaki saat kuliah di Amerika. Lagi pula dia jarang jalan kaki lagi seperti ini setelah pulang ke Indonesia. Meskipun sedikit pegal namun Jenna masih terus berjalan bersama Zayn.
Banyak sekali pedagang kaki lima disini, bahkan ada food truck juga. Jarang sekali di Jakarta Jenna menemukan hal seperti ini. Rasanya menyenangkan sekali. Entah kemana Zayn akan membawanya malam ini, ia sejak tadi hanya mengikuti langkah kaki pria ini.
Selain mereka, disini juga banyak pasangan yang sedang kencan. Beberapa dari mereka memilih makanan angkringan sebagai makan malamnya. Jenna ingin sekali mencobanya, namun ia takut muntah karena tidak suka dengan jenis jenis sate yang dijual disana. Yang ada dia hanya akan membuat dirinya malu.
Bukan maksud Jenna tidak menghargainya, pernah satu kali ka mencoba membelinya dan alhasil perutnya menolaknya. Apalagi sate usus, melihatnya saja sudah membuat Jenna ngeri sendiri.
"Mau makan apa?" Tanya Zayn.
Jenna tersenyum, "Really? Seorang Zayn Nagendra akan makan disini? Aku kira om gak suka makan makanan di tempat seperti ini."
"Jangan salah, meskipun aku lahir dan besar di luar Indonesia. Tapi makanan seperti ini yang sering aku datangi ketika pulang ke Indonesia," ucap Zayn. Mereka berhenti di dekat tukang sate. Zayn memesan dua porsi. Untuknya dan untuk Jenna. Mereka duduk lesehan diatas tikar karpet.
"Benarkah? Aku kira om gak suka," ucap Jenna.
"Latar belakang keluarga kita memang berada di kelas atas, namun tidak ada salahnya kan kalo aku suka makanan disini. Selain enak, makanan disini juga murah," ucap Zayn.
Seumur hidup, baru kali ini Jenna melihat seorang anak konglomerat seperti Zayn yang lahir disuapi sendok emas pun ternyata menyukai makanan kaki lima seperti ini. Berbeda dengan Mario, pria itu selalu mengajaknya makan di cafe atau restoran mewah.
Tunggu dulu. Kenapa Jenna kembali membandingkan Zayn dan Mario. Mereka berbeda. Stop membandingkannya.
__ADS_1
"Silahkan dinikmati," ucap pedagang sate. Ia membawa dua piring sate serta satu piring berisi...
"Ini apa?" Tanya Jenna.
"Itu lontong. Nasi yang dibungkus daun pisang kemudian di kukus sehingga jadi seperti itu. Kamu belum pernah mencobanya ya?" Tanya Zayn.
Jenna menggelengkan kepalanya. Ternyata lontong itu seperti ini bentukannya. Jenna belum pernah melihat dan memakannya. Selama ini ia hanya tahu dari Ale saja.
Jenna mengikuti cara Zayn memakan sate itu. Ia cukup kaget dengan rasanya. Sedikit pedas namun ada rasa manisnya juga. Tapi lama lama rasanga jadi enak. Ternyata ucapan Zayn benar, selain murah makanannya juga enak enak.
"Besok aku harus pergi ke Boston. Perusahaan cabang disana sedang bermasalah," ucap Zayn.
"Berapa lama?" Tanya Jenna.
"Entahlah, aku belum bisa memastikannya. Aku dengar dari papa, masalahnya cukup serius," ucap Zayn.
Saking lahapnya makan, mereka sudah menghabiskan satenya. Zayn membayarnya dan kembali mengajak Jenna berjalan jalan disana. Tangan mereka saling bertaut. Jenna dengan riangnya terus berceloteh seperti seorang bocah yang baru diajak keliling Bandung untuk pertama kalinya.
Mereka berhenti di salah satu kursi panjang yang berada di dekat toko toko yang sebagian sudah tutup. Wajar saja ini sudah cukup malam.
"Kemungkinan aku akan lama disana," ucap Zayn. Ia melirik ke arah Jenna yang juga melihat ke arahnya. Jenna mendekatkan kepalanya ke arah bahu Zayn dan bersandar.
"Om pacar aku kan?" Tanya Jenna.
"Iya, tapi dengan paksaan aku. Suatu saat nanti mungkin kamu bisa pergi dari kehidupan aku karena cinta ini sepihak, bahkan kamu menerimanya dengan paksaan," ucap Zayn.
__ADS_1
"Maafin Jenna, Jenna tahu Jenna jahat karena menjadikan om sebagai pelampiasan dari masa lalu Jenna. Tapi yang harus om tahu, Jenna benar benar sudah tidak menginginkan kembali dengan orang itu. Jenna tidak pernah mau kembali pada orang yang sudah membuat Jenna hancur kemarin," ucap Jenna.
"Wajar kamu bertindak seperti itu. Aku tidak pernah menyalahkan kamu sayang," ucap Zayn.
"Om emang enggak nyalahin Jenna tapi Jenna yang benar benar bersalah. Maafin Jenna, mulai sekarang Jenna janji akan belajar mencintai om," ucap Jenna.
"Kalo udah mau belajar mencintai, seharusnya manggilnya jangan om lagi dong. Sayang gitu atau daddy," bisik Zayn diakhir ucapannya.
"Iii, merinding om. Jangan bisik kayak gitu ih," ucap Jenna. Ia menggosok gosok telinganya menggunakan tangannya.
Zayn tertawa melihat tingkah Jenna. Wanita ini benar benar sudah menghipnotisnya. Bisa bisanya dia jatuh pada pesona wanita ini.
"Jangan nakal nakal nanti disana. Awas aja kalo ada berita miring tentang kedekatan kamu sama cewek lain. Jenna gak bakalan mau ketemu kamu lagi dan Jenna juga bakalan lupain kalo Jenna mau belajar cinta sama om," ucap Jenna.
"Ngancam ceritanya? Berita seperti itu pasti saja akan ada sayang. Tugas kamu hanya satu, selalu percaya sama aku kalo cinta aku buat kamu itu nyata. Meskipun awal hubungan kita dilakukan dengan tidak baik, tapi aku yakin jika kita berdua bisa, maka akan berakhir baik," ucap Zayn.
Jenna tersenyum dan memeluk Zayn dari samping. Mereka menikmati beberapa kendaraan yang sedang berlalu lalang di depan mereka. Selain itu juga ada beberapa orang yang juga sedang kencan sama seperti Jenna dan Zayn.
Zayn tidak bisa menampik jika dia memang sedikit kecewa pada Jenna, namun ia berusaha untuk tidak memperlihatkannya. Bagaimana pun Zayn mengerti kenapa Jenna melakukan hal itu padanya. Salahnya juga karena memaksa Jenna untuk mencintainya dan menjalin hubungan dengan pemaksaan. Tapi meskipun begitu, dia juga senang karena pada akhirnya Jenna akan mulai belajar mencintainya.
"Sudah malam, kita harus pulang sayang. Udara malam juga semakin menusuk kulit rasanya," ucap Zayn. Jenna menganggukan kepalanya dan mereka pun pergi dari sana menuju resort kembali. Tidak jauh jadi mereka kembali berjalan kaki.
Jenna sangat menikmati libur akhir pekannya dengan baik. Meskipun kurang karena kedua orang tuanya pergi untuk urusan kerja, namun tidak apa. Dengan Zayn berdua saja dia sudah cukup bahagia.
Jenna tahu Zayn mungkin kecewa padanya. Untuk itu ia berkata demikian karena memang ingin kembali percaya dengan Zayn. Percaya jika tidak semua laki laki sama seperti Mario. Tidak ada salahnya untuk memberikan kepercayaan pada Zayn.
__ADS_1
Tbc.