
***
"Jadi, Zayn dan Jenna sudah sepakat untuk segera bertunangan?" Tanya Rendra.
"Iya pah, Jenna akhirnya setuju untuk bertunangan dengan Zayn. Dan Jenna juga setuju untuk segera mengatur tanggal tunangan dan pernikahan," ucap Zayn.
Semua orang tua yang ada disana tersenyum lega. Akhirnya mereka akan segera menjadi besan. Apalagi Lita, akhirnya dia bisa menjadikan Jenna sebagai menantunya. Artinya calon cucunya akan hadir di rahim anak wanita itu. Lita benar benar senang. Dulu ia hanya berangan angan akan memiliki menantu seperti Jenna, tapi kini semua impiannya tercapai. Lita benar benar senang bukan kepalang.
"Apa itu benar nak?" Tanya Rendra memastikan. Karena setahu dia, cara Zayn mendekati Jenna kurang lazim seperti kebanyakan pasangan lain.
"Iya pah, Jenna sudah menyetujuinya dan meminta mas Zayn mengatur semuanya. Jenna terima beres saja," ucap Jenna tersenyum.
"Papa gak percayaan amat sama anak sendiri," ucap Zayn kesal.
"Bukan begitu Zayn, papa tahu seperti apa kamu memaksa Jenna untuk bersama dengan kamu. Papa hanya memastikan karena papa tidak mau Jenna terpaksa menjalani kehidupan bersama kamu, karena papa ingin yang terbaik untuk kamu dan Jenna," ucap Rendra.
"Benar. Untuk Jennai, jangan kira papi dan mami tidak tahu apa yang sudah terjadi diantara kalian. Papi dan mami memilih diam karena kami pikir itu hak kalian, asalkan kedekatan kalian masih dalam batas wajar," ucap Adam.
Jenna paham dan mengerti maksud ucapan papi Adam. Tidak mungkin selama ini beliau tidak tahu apa yang Jenna lakukan di luar. Bahkan mungkin soal s*x yang sering dilakukan Jenna dan Zayn sudah diketahui oleh mereka. Jenna benar benar merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi. Semuanya sudah terjadi juga kan?
"Mami bangga sama kamu sayang. Kesalahan apapun tidak akan pernah menghapus nama baik kamu di mata mami. Kamu sudah membuat mami dan papi bangga selama ini. Maafkan kami karena terkadang kami sering mendikte kamu sesuai dengan yang kami mau tanpa bertanya apa kamu suka melakukannya atau tidak," ucap Jeni.
Jenna terharu. "Makasih mi, maafin kesalahan yang sering Jenna buat dari dulu. Maafin Jenna juga pi," ucapnya. Wanita itu pun memeluk mami dan papinya setelah bergeser duduk.
"Setiap orang pasti pernah berbuat salah. Tuhan juga maha pemaaf sayang, apa iya papi dan mami tidak akan memaafkan kamu? Itu tidaklah mungkin," ucap Adam.
__ADS_1
"Makasih banyak," ucap Jenna.
Keluarga Zayn tersenyum melihat kedekatan keluarga Jenna. Dari sini mereka menyimpulkan bahwa Jenna memang anak yang manja namun hanya kepada kedua orang tuanya. Tapi tak jarang juga jika Jenna manja terhadap Zayn. Hanya saja Jenna menunjukan sisi manjanya itu saat berduaan saja.
Mereka pun kembali mengobrol santai sembari mencari tanggal yang pas untuk dijadikan hari mereka tukar cincin dan pernikahan. Sepertinya kedua keluarga benar benar sudah sepakat dan memberikan restu mereka untuk Jenna dan Zayn.
"Bagaimana jika tanggal tunangan kalian jatuh pada hari senin tanggal satu?" Tanya Lita.
"Wait, bukannya itu awal bulan? Dan awal bulan tinggal satu minggu lagi?" Tanya Jeni.
"Iya Jen, lebih cepat lebih baik bukan?" Tanya Lita, "Bagaimana dengan kalian?" Tanyanya lagi pada Jenna dan Zayn.
Jenna menoleh ke arah Zayn. "Secepat itu?"
"Mau kamu gimana? Aku ikut maunya kamu aja yang," ucap Zayn.
"HAI CALON MAMA MERTUA DAN PAPA MERTUA."
Ucapan Jenna terpotong saat ada seseorang yang berteriak. Kompak semua keluarga menoleh ke sumber suara. Lebih tepatnya sumber masalah. Terlihat Lita mengepalkan tangannya seolah menahan emosi. Ia hendak bangun dari duduknya namun Rendra menahannya lebih dulu.
"Kenapa gak ajak ajak aku kalo mau makan disini?" Tanya Eliza. Iya, wanita itu. Dia sudah seperti penguntit saja. Kemana mana selalu saja ada. Dunia memang sempit, tapi tidak sesempit ini juga kan?
"Tahu diri? Atau enggak punya harga diri?" Tanya Lita.
"Mama sinis banget sama Liza. Jangan gitu dong ma, gimana pun kan Liza akan menjadi menantu mama," ucap Eliza. Wanita itu menarik kursi kosong yang berada di sebelah meja kemudian duduk diantara Lita dan Zayn.
__ADS_1
"Menantu saya? Saya hanya punya satu anak dan anak saya akan saya nikahkan dengan Jennaira Adam, bukan wanita murahan pengincar harta seperti kamu," ucap Lita menohok.
Eliza tertawa sumbang, "Pengincar harta ma? Realistis saja, wanita mana yang tidak matre? Mereka butuh banyak uang untuk kehidupan mereka. Apalagi wanita kebutuhannya banyak."
"Kenapa enggak kerja?" Tanya Jeni. Sang mami Jeni kini mengeluarkan suaranya setelah banyak diam ketika bertemu dengan Eliza. Jeni sudah tahu siapa Eliza. Jadi dia sudah mengerti kenapa selalu ada wanita ini dalam hubungan Jenna dan Zayn, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menghancurkan hubungan mereka berdua. Benar benar tidak tahu diri.
"Lah, kodratnya wanita itu diam di rumah. Kami ini tulang rusuk bukan tulang punggung," ucap Eliza.
"Halah, bilang aja gak punya keahlian di bidang pekerjaan yang menghasilkan uang. Karena keahlian kamu kalo enggak pelakor apa lagi? Berasa ratu kali ya, apa apa dilayanin. Giliran uang habis ketar ketir nyari suntikan dana dengan mengangk*ng. Malu maluin kaum wanita aja," ucap Jeni. Jenna melongo mendengar ucapan maminya yang terkesan frontal dan tidak ada penyaringnya.
"Cih, ingat sama kondrat bu! Wanita itu tulang rusuk," ucap Eliza tak mau kalah.
"Iya, kodrat wanita memang tulang rusuk. Tapi zaman sekarang banyak kok wanita yang memilih bekerja dan berakhir menjadi wanita independent. Mereka memilih seperti itu karena kerja keras hasil usaha sendiri lebih baik dari pada hasil dari booking online. Masa harga diri cuma dihargai lima ratus ribu per satu jam, situ waras?!" Tanya Jeni kesal.
Eliza mengepalkan tangannya. Kenapa wanita tua di depannya ini sangat menyebalkan sekali?! Seharusnya dia tidak perlu banyak bicara. Dia bukan siapa siapa Zayn, kenapa dia banyak sekali bicara?!
"Dan lagi, saya bukan ibu kamu! Saya gak sudi seumur hidup jadi ibu dari seorang wanita yang sering open b*!! Harga dirinya aja cuma lima ratus ribu," ucap Jeni memotong Eliza yang akan mengeluarkan suaranya.
Eliza benar benar naik pitam dia mengambil gelas berisi air kemudian ia siramkan pada Jeni, namun Zayn yang dengan cepat membaca situasi pun membalikan keadaan.
Byurrr....
Yang basah bukan Jeni, melainkan Eliza. Zayn dengan cepat memutar gelas yang dipegang Eliza agar gelas itu tumpah ke bajunya.
"Tahu diri, wanita bayaran murah bukan level gue. Apalagi udah banyak cowok yang booking lo. Gue juga milih milih, dan pilihan gue cuma Jenna," ucap Zayn.
__ADS_1
Tbc.