
***
Sepulang dari rumah Jenna tadi, Ale terpaksa harus ikut satu mobil lagi dengan Ryan. Padahal ia sudah tidak mau bertemu dengan pria ini lagi. Meskipun first kissnya diambil oleh Ryan, tapi ya sudah. Jika Ryan ingin bersama wanita lain Ale bisa apa? Mereka hanya sebatas kenal dan tidak memiliki hubungan apa apa. Bahkan mungkin, teman saja bukan. Mereka bersama mungkin karena ketidaksengajaan.
Ale tahu, Ryan pria tampan dengan banyak aset dan kekayaan. Sudah pasti banyak kaum hawa yang mendekatinya. Ryan dan Zayn memang sama sama kaya raya. Wajar saja jika banyak yang mendambakan mereka. Pantas saja Jenna selalu overthinking. Ternyata sesulit itu memiliki pria yang tampan.
"Ale, kamu baik baik saja?" Tanya Ryan. Mereka saat ini masih berada di dalam mobil.
"Baik. Memangnya saya kenapa?" Ucap Ale.
"Tidak, hanya saja kamu lebih banyak diam. Beda dari biasanya, aku senang mendengar cerita random kamu," ucap Ryan.
"Ah itu. Anggaplah itu karena saya bosan jadi saya menceritakan itu kepada anda. Mungkin ketika saya bercerita, saya terlalu excited sampai membuat anda tidak nyaman. Maafkan saya, saya tidak akan melakukan itu lagi," ucap Ale tersenyum paksa.
Ryan mengernyit. Kenapa wanita ini jadi seperti ini? Biasanya Ale akan bercerita hal random dan suasana akan jadi asik. Namun kini, kenapa wanita ini seolah tidak mau melakukan hal itu lagi. Apa karena Ryan membuat kesalahan? Apa hanya karena ia tidak membalas pesan Ale waktu itu, Ale jadi marah seperti ini? Bahkan wanita ini menjauhinya.
"Apa karena aku tidak membalas pesan yang kamu kirim kamu jadi seperti ini? Atau karena rumor itu?" Tanya Ryan.
"Stop. Saya tidak ingin ikut campur soal itu. Itu urusan anda dan saya tidak mau pusing, kita hanya kebetulan saling mengenal karena ketidaksengajaan di Padang saat itu. Jadi tolong bersikap biasa saja ya? Kita tidak selevel. Saya hanya manager restoran biasa," ucap Ale.
"Kenapa kamu jadi bawa bawa kekayaan? Bahkan bicara mu jadi formal seperti ini. Aku tidak suka Alesha," ucap Ryan.
Ale menganggukan kepalanya, "Lagi pula saya tidak berharap anda suka kepada saya. Karena saya tahu diri."
Astaga, Ryan rasanya ingin membogem kursi pengemudi di depannya. Ia dibuat kesal dengan ucapan gadis ini. Selama beberap hari ini Ale sudah mengabaikan pesan dan panggilannya. Bahkan ketika Ryan akan berkunjung ke restorannya, Ale mendadak tidak ada disana.
__ADS_1
"Orang tua kamu di rumah?" Tanya Ryan.
"Apa urusannya dengan anda jika orang tua saya ada di rumah atau tidak? Apa itu penting?" Tanya Ale.
Fu*kkk!!!! Habis sudah kesabaran Ryan. Wanita memang sangat sulit sekali dimengerti. Pantas papanya selalu membaca buku seribu satu kisah tentang wanita. Ternyata di buku juga setebal itu. Ryan bahkan tidak ingin membacanya. Meskipun ia harus memahami wanita, setidaknya ia masih memiliki pemikiran. Meskipun itu selalu saja menimbulkan pertikaian ucapan seperti ini.
Mobil sudah sampai di depan rumah Ale yang sangat sepi. Bahkan lampunya juga mati.
"Tunggu," ucap Ryan. Ia menarik tangan Ale agar tidak keluar. Bahkan pria itu memotong ucapan terimakasih Ale.
"Apa lagi?" Tanya Ale.
"Nath, bawa antarkan aku ke apartement sekarang," ucap Ryan.
"Ya kalo mau ke apart, lepasin tangan saya. Saya keluar dulu," ucap Ale.
"Maaf tuan," ucap Nath. Pria yang menjadi asisten Ryan itu pun melajukan mobilnya menuju ke apartement Ryan.
"Heh, tunggu dulu. Saya belum keluar. Kok main bawa aja," ucap Ale sewot.
"Ada yang harus kita bicarakan. Mungkin," ucap Ryan tersenyum miring.
Oh my good!!! Pria ini tampan sekali. Apalagi saat memperlihatkan senyum miring seperti itu.
Astaga. Sadar Ale, kamu diculik saat ini!!
__ADS_1
"Tolong ya, anda jangan macam macam sama saya. Jika anda memang menginginkan bayaran karena sudah memberikan tumpangan pada saya, saya akan membayarnya. Tapi biarkan saya keluar saat ini," ucap Ale.
"Aku memang menginginkan bayarannya Ale, tapi tidak dengan uang melainkan dengan hal lain. Dan aku tidak akan menurunkan kamu sebelum kamu membayarnya," ucap Ryan. Lagi lagi senyum miring menghiasi wajah pria ini. Tolong lah, Ale wanita yang lemah jika di hadapkan hal seperti ini.
"Maksud anda apa?" Tanya Ale namun Ryan tidak menjawabnya. Pria itu kembali menatap ke arah depan dan tidak melepaskan cekalan tangannya pada tangan Ale.
Ale berpikir, kenapa ia tidak keluar saja? Pintu mobil bisa dibuka dan ia bisa loncat. Tapi nyali Ale sangat mungil. Ia tidak mungkin loncat karena mobil ini juga melaju sangat kencang. Dan lagi, cekalan tangan Ryan sangat kuat mencengkramnya. Tidak ada lain selain diam dan pasrah.
Perjalanan menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit dari rumah Ale menuju ke apartement Ryan. Saat sampai, Ale keluar dan hendak lari namun Ryan dengan cepat menangkapnya dan menggendongnya seperti karung beras. Bahkan di dalam lift pun, Ale tetap di gendong seperti itu.
Pintu lift terbuka, Ryan melangkah kan kakinya menuju ke pintu unit apartementnya. Ia masuk setelah pintu terbuka. Sialnya, Ale dilempar ke atas kasur. Cukup menyakitkan meskipun kasur itu empuk.
"Apa apaan sih?! Kalo gak bisa nurunin pelan ya jangan digendong," ucap Ale kesal.
"Mau ngapain?" Tanya Ale was was saat Ryan membuka jas kemudian dasi di lehernya.
"Meminta bayaran," ucap Ryan tersenyum miring.
"Jangan gila ya? Ale bisa laporin kamu ke polisi," ucap Ale.
"Laporin aja, uang aku banyak. Sebelum kamu buat laporan, aku bisa menuntut mu balik Alesha," ucap Ryan. Ia melepas kancing kemeja teratasnya setelah lengan kemejanya di gulung. Ryan merangkak ke atas kasur. Sementara Ale merapatkan dirinya ke dashbor ranjang. Ryan menarik kaki Ale agar lebih mendekat ke arahnya. Ale terkejut dan memekik. Namun sedetik kemudian pekikannya terhenti. Benda kenyal lebih dulu membungkamnya.
Yap, bayaran yang diinginkan oleh Ryan adalah ciuman. Karena perjalanan bisnis sialan dan berita miring itu Ale jadi menjauh darinya.
Ale ingin memberontak namun kedua tangannya ditahan diatas kepalanya. Tekuknya juga ditahan. Ale hanya mampu menutup mulutnya tanpa mau membalas ciuman pria itu. Namun Zayn tidak kehabisan akal, pria itu menggigit bibirnya sampai Ale memekik terkejut bahkan kesakitan. Kesempatan itu tidak di sia sia kan oleh Ryan. Lidahnya langsung menerobos masuk untuk mengabsen setiap inci mulut Ale. Ale mau tak mau menggerakan lidahnya seolah membalas ciuman Ryan, namun sebenarnya bukan. Ale menggerakannya karena ia tidak mau pria itu menciumnya seperti ini. Ale tidak mau.
__ADS_1
Tbc.