One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
246. Malam Setelah Pernikahan


__ADS_3

***


Kobaran api nafsu dan semangat yang membara benar benar membuat Zayn menggila. Meskipun saat ini Jenna tidak virgin, namun rasanya tetap sama seperti saat pertama kali Zayn memasukinya. Sangat sempit sekali. Mungkin karena Jenna tidak memberikan jatahnya beberapa minggu sebelum pernikahan. Hal itu tentu saja membuat Zayn uring uringan tidak jelas. Namun Jenna tetap teguh pada keinginannya, dia benar benar tidak menurut pada Zayn.


Maksud Jenna memang baik. Dia akan tetap membuat suaminya ini merasakan kenikmatan itu meskipun dia sudah tidak virgin. Beberapa minggu sebelum pernikahan, Jenna memang selalu rutin melakukan pijat pada tubuhnya. Dan itu semua benar benar terbukti saat ini.


"Semp-hitt saya-nggh."


"Pelan mas," ucap Jenna. Wanita itu masih belum terbiasa dengan milik suaminya yang cukup besar itu.


Bukan hanya Jenna, Zayn juga kesakitan. Miliknya terasa diperas saat memasuki lubang sempit milik istrinya. Miliknya bahkan belum masuk sepenuhnya.


"Udah mas," lirih Jenna kesakitan. Wanita itu mencengkram erat bahu suaminya, menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan. Dia bukan virgin tapi kenapa sampai sesakit ini?


"Sedikit lagi sayang," ucap Zayn. Pria itu berusaha mengambil posisi aman agar istrinya tidak kesakitan. Gila, baru beberapa minggu tidak berhubungan intim saja sudah membuat milik istrinya sesempit ini. Bayangkan jika ditambah waktu lagi, mungkin akan sesulit seperti pertama kali Zayn memasukinya.


"Mas," lirih Jenna kesakitan. Zayn tentu mendengarnya namun dia tidak menanggapinya. Sebab dia sedang bersiap untuk mendorongnya.


"Tahan, mungkin akan sakit," ucap Zayn. Jenna mengangguk patuh. Sebab jika milik Zayn ditarik keluar yang ada dia akan semakin kesakitan. Hingga tak berselang lama, Zayn benar benar mendorong miliknya masuk sempurna ke dalam lubang kenikmatan itu. Zayn menggeram sedangkan Jenna mendes*h kencang. Bukan karena menikmati, namun karena kesakitan. Bahkan rasanya seperti pertama kali Zayn mengambil virginnya. Tidak terlalu di ingat memang sebab saat itu Jenna masih dalam pengaruh alkohol, namun dia masih sedikit ingat rasa sakit di malam harinya. Apalagi di pagi harinya. Gadis itu bahkan sampai berjalan mengangk*ng.


Zayn tidak langsung bergerak, pria itu memilih diam sejenak sebelum kembali bergerak menggempur Jenna. Zayn menghapus peluh yang membahasi kening Jenna. Sedangkan Jenna masih setia memejamkan matanya, wanita itu tengah menikmati rasa perih yang ia rasakan.


"Boleh aku bergerak mom?" Tanya Zayn.


"Aku bukan mama Lita," ucap Jenna.

__ADS_1


Zayn terkekeh lalu mengecup pelan bibir Jenna, "Aku memanggil mama Lita dengan sebutan mama, bukan mommy."


Jenna membuka kedua matanya. Hal yang pertama ia lihat adalah wajah tampan Zayn yang sedang berada diatasnya. Keduanya saling bertatapan. Tatapan teduh seolah menggambarkan perasaan mereka saat ini.


"Mulut kamu basah," ucap Jenna. Wanita itu mengelap sudut bibir suaminya menggunakan jari jempolnya.


"Mungkin cairan milik mu menempel disini."


Blushhh...


Rona merah seketika memenuhi pipi Jenna. Jenna memalingkan wajahnya karena malu. Tentu saja dia paham maksud ucapan suaminya. Cairan? Jelas saja, sebab tadi Zayn terus bermain dengan milik Jenna bahkan miliknya sudah keluar satu kali atas kehendak suaminya.


"Bergeraklah. Tapi pelan," ucap Jenna. Zayn tersenyum lalu merendahkan kepalanya dan berbisik di telinga istrinya.


"Kamu tahu aku seperti apa di atas ranjang. Apalagi lawan ku adalah kamu, jangan pernah meminta berhenti apalagi mencoba tidur. Aku tidak akan mengalah seperti biasanya," bisik Zayn sembari ******* telinga istrinya. Tentu saja Jenna bereaksi. Dia bergerak begitu juga pinggulnya sehingga miliknya yang sudah dimasuki oleh suaminya juga ikutan bergerak.


Celaka!!!


***


Kebulan asap rokok ditambah dengan kerlap kerlip lampu serta dentuman musik dj menggema memenuhi seisi ruangan. Bahkan bukan hanya di area ruangan dance floor saja, namun di ruangan privat pun masih terdengar samar.


Seorang pria tengah menghisap rokoknya sembari dilayani dua orang wanita penghibur di sisi kiri dan kanannya. Jangan tanya seperti apa tampilan mereka saat ini. Tentu saja dengan gaun tipis yang kurang bahan. Memang mereka sengaja memakai gaun seperti itu, selain untuk terlihat lebih sexy dan cantik, mereka juga berniat menggoda para pria hidung belang.


Setiap harinya, tempat ini tidak pernah sepi. Pasti selalu saja ada yang datang. Entah untuk sekedar melepaskan nafsunya atau mungkin untuk menghilangkan rasa pening di kepalanya karena aktivitas dan masalah hidup mereka.

__ADS_1


Pria itu adalah pemilik dari club ini. Tidak setiap hari memang dia pergi ke club miliknya ini. Sebab selain club, dia juga memiliki bisnis lain. Dia seorang CEO dari perusahaan Arda Corp bernama Felix Arda.


Siapa yang tidak mengenal pria ini? Pria yang dikenal kejam dan sangat semena mena dalam melakukan sesuatu hal.


"Tuan."


Felix menoleh ke arah pria muda yang umurnya satu tahun lebih muda darinya. Pria itu adalah asisten pribadinya. Selain asisten pribadi, dia juga sekretarisnya di kantor.


"Data yang anda minta. Sekaligus jadwal anda ke depannya," ucap Toro, bawahannya.


Felix menerima map itu dan membacanya, pria itu mengusir wanita wanita yang menggodanya sejak tadi. Namun Felix benar benar tidak tergoda. Mereka hanya ingin uang, bahkan lubang mereka juga tidak bisa memuaskannya. Felix tidak berminat.


"Jadi mereka masih di Indonesia? Mereka sama sekali belum bergerak?" Tanya Felix.


"Belum tuan. Mereka masih menetap dan belum ada tanda tanda akan pergi. Apa saya perlu mengirimkan mata mata lagi?" Tanya Toro.


"Tidak perlu, cukup yang sudah disana saja. Segera bersiap, ketika mereka pergi aku juga akan pergi ke tempat yang sama. Sudah lama aku tidak bertemu dengan bedebah itu. Aku kembali dengan cukup banyak kekuatan. Dan aku yakin dia akan kalah kali ini," ucap Felix.


"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Toro. Felix mengangguk dan kembali fokus pada beberapa lembar foto yang ada di tangannya. Beberapa foto tidak menarik perhatiannya, namun ada satu foto yang begitu menarik perhatiannya.


"Cantik sekali. Seharusnya aku yang jadi pasangan mu, bukan bedebah ini. Sayang sekali bukan wanita secantik kamu malah menikah dengan mahluk bodoh seperti dia," ucap Felix.


Sebuah foto yang ia pegang dengan tangan kanannya. Di foto itu tengah berdiri seorang wanita cantik. Foto itu diambil candid, jelas saja sebab itu adalah foto yang dikirimkan oleh bawahannya.


"Sebentar lagi kita akan bertemu manis. Tunggu aku, aku yang paling baik untuk mu. Aku akan membahagiakan mu, mungkin," ucapnya tersenyum smirk. Ia menyimpan foto foto itu di meja yang ada di depannya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2