
***
Akhirnya Jenna bisa bernafas lega setelah melepaskan aksesoris di kepalanya. Dia bahkan sudah melepaskan hells yang ia pakai sepanjang acara. Kakinya sedikit memerah, mungkin karena terlalu lama memakai hells itu. Biasanya Jenna memang selalu memakai hells, namun tidak sampai semerah inim untunglah tidak lecet.
Acara resepsi pernikahannya sudah selesai. Semuanya sudah pergi dari ballrom hotel. Bahkan kedua orang tua mereka juga sudah kembali ke rumah masing masing. Sementara Jenna dan Zayn menetap di salah satu kamar hotel yang sudah disiapkan oleh kedua mamanya. Kamar itu di hias sedemikian rupa. Bahkan diatas kasurnya juga disimpan kelopak kelopak mawar membentuk love. Tidak hanya itu, disana juga ada minuman berwarna merah pekat, yap itu wine.
"Yang," panggil Zayn.
"Kenapa mas?" Tanya Jenna. Wanita itu sedang menghapus make up di wajahnya.
"Pengen mam," ucap Zayn.
"Kan itu ada makanan di meja, dimakan aja. Aku masih kenyang," ucap Jenna.
"Ih yang, bukan mam yang itu," ucap Zayn.
Jenna mengernyit dan menoleh, "Maksudnya?"
"Masa gak ngerti sih," gerutu Zayn. Jenna menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan sikap suaminya ini. Kenapa Zayn terlihat manja setelah menikah? Biasanya pria ini tidak akan menye menye soal makan. Makanan terhidang cukup banyak di meja, Zayn hanya tinggal berjalan beberapa langkah saja untuk mendapatkan makanan tersebut. Itu bukan hal yang sulit juga kan, lagi pula kaki Zayn masih berfungsi.
"Mau disuapin?" Tanya Jenna, wanita itu sudah membersihkan wajahnya. Wajah bare facenya sangat Zayn sukai. Sebab jika Jenna tidak memakai make up, Jenna akan terlihat seperti anak kecil.
"Sini," ucap Zayn.
"Aku mau ke kamar mandi bentar," ucap Jenna.
"Jangan coba coba kabur," ucap Zayn mengancam.
"Kabur apa sih mas, aku mau cuci muka. Kebelet pipis juga, gak kasihan perut aku sakit pengen pipis?" Tanya Jenna.
__ADS_1
"Ya udah sana. Jangan lama, tiga puluh detik," ucap Zayn.
"Mana bisa, ngada ngada kamu," ucap Jenna kesal. Wanita itu pun pergi dari hadapan suaminya menuju ke kamar mandi. Jenna sedikit berlari kecil lalu masuk dengan cepat ke kamar mandi. Tidak lupa menguncinya.
Demi apapun, sejak tadi jantungnya sudah berdetak dengan sangat kencang. Jenna bersikap biasa seperti tadi itu sebenarnya disengaja. Sengaja agar Zayn tidak menyadarinya jika Jenna sedang gugup.
Mam yang dimaksud Zayn tentu saja Jenna paham dan mengerti. Namun wanita ini sengaja terlihat bodoh di depan suaminya.
"Huuhhh,, gila jantung gue detaknya cepet banget. Ini bukan malam pertama buat gue lepas virgin. Tapi kenapa segugup ini?" Tanya Jenna. Wanita itu menatap dirinya di depan cermin. Kedua pipinya memerah. Jenna menangkupnya, hawa panas langsung terasa.
"Ternyata segugup ini ya kalo mau malam pertama setelah menikah? Padahal gue udah gak virgin," ucap Jenna. Wanita itu menghela nafasnya dan mencuci wajahnya di kran wastafel yang ada di dekatnya.
"Makin lama tubuh gue kok makin panas sih?! Mandi aja kali ya?" Tanyanya. Sebenarnya Jenna memang belum mandi, tadinya dia tidak mau mandi. Malas. Lagi pula ini sudah malam. Tapi entah kenapa tubuhnya semakin lama semakin panas saja. Mau tak mau Jenna pun mandi air dingin. Tidak lama, mungkin hanya sekitar sepuluh menit untuk mandi.
Selesai mandi, Jenna mencari pakaiannya. Semuanya sudah ada disana. Sebab sang mami sudah menyiapkannya sebelumnya. Jenna membuka koper miliknya. Wanita itu terlebih dahulu mengambil under wear dan memakainya. Namun saat ia mencari baju tidur, tak satu pun dia menemukannya. Disana hanya ada pakaian kurang bahan saja. Sebagian besarnya.
"Tapi takut," cicitnya.
Bukan hal yang tidak Jenna ketahui lagi seberapa beringasnya Zayn ketika bermain diatas kasur. Bahkan Jenna sering kewalahan ketika Zayn sedang mengeksekusinya diatas kasur.
Tok... tok.. tok...
"SAYANG KOK LAMA?!" Teriak Zayn.
"Ck, gak sabaran banget itu laki," ucap Jenna pelan. Wanita itu pun bangkit dari sana dan memakai lingerie yang ada di tangannya. Dia menghiraukan teriakan suaminya dan memilih memakai baju haromah itu.
Sementara di luar walk in closet, Zayn terus menggedor gedor pintu yang di kunci istrinya itu. Dia tidak mendapatkan sahutan apapun dari dalam sana. Apa istrinya baik baik saja?
"SAYANG AKU DOBRAK YA KALO GAK KAMU BUKA," teriak Zayn. Pria itu menempelkan telinganya ke pintu coklat yang ada di depannya. Tidak terdengar suara apapun disana. Perasaannya jadi cemas, tapi tidak mungkin kan jika Jenna melompat dari lantai hotel ini? Ini sangat tinggi.
__ADS_1
"OKE AKU DOBRAK," putus Zayn. Pria itu ancang ancang mengambil posisi untuk segera menubruk pintu itu agar terbuka. Namun sebelum Zayn maju, pintu di depannya sudah terbuka.
Ceklek...
Muncul sosok istrinya yang sedang berdiri menatap aneh ke arahnya. Istrinya terlihat sangat cantik dengan balutan kemeja putih milik Zayn.
"Ngapain?" Tanya Jenna.
"Mau aku dobrak tadinya, udah dua puluh menit gak keluar keluar," ucap Zayn.
"Aku abis mandi mas. Panas banget tubuh aku," ucap Jenna. Wanita itu keluar dari dalam walk in closet dan berjalan mencari remot ac untuk mengatur suhu udara menjadi sedikit lebih dingin.
Zayn mengikutinya dari belakang. Meskipun terbalut kemeja, namun Zayn dapat melihat bentuk tubuh indah istrinya. Kemeja yang dipakai Jenna sedikit tipis. Dibalik kemeja itu Zayn dapat melihat under wear yang dipakai istrinya.
"Wangi," ucap Zayn. Pria itu memeluk tubuh istrinya dari belakang. Hidungnya terus mengendus area leher belakang serta samping istrinya. Jenna mengepalkan tangannya, bukan marah melainkan untuk menyalurkan rasa geli yang ia rasakan. Tidak ada tumpuan tangannya untuk meremas sesuatu.
"Malam ini ya?" Tanya Zayn.
"Apa mas?" Tanya Jenna pelan.
"Kamu udah gak polos lagi sayang, aku udah ambil hak aku duluan waktu kita di club. Apa masih perlu aku menjelaskan maksud ucapan aku dengan rinci?" Tanya Zayn.
Jenna menghela nafasnya dan membalikan tubuhnya. Kedua tangannya mengalung di leher sang suami. Matanya lamat lamat memperhatikan wajah tampan suaminya. Memang benar benar sangat tampan. Wajar saja suaminya ini jadi banyak incaran wanita diluar sana.
Jenna memajukan kepalanya. Wanita itu yang lebih dulu mengambil inisiatif untuk memulai. Zayn tentu saja tidak menolaknya. Ini yang sejak tadi dia inginkan. Gejolak api nafsu dalam dirinya terus memberontak meminta segera melakukan hal ini. Apalagi lawannya selalu Jenna. Tentu saja tubuhnya semakin bersemangat. Jangan tanya yang dibawah sana. Jelas saja sudah bereaksi sejak Jenna keluar dari dalam walk in closet.
Tbc.
Meskipun kalian bosen, tapi kalian ttp baca. Makasih banyak yaaa😊🙌
__ADS_1