
***
Perasaan Ale benar benar sedang tidak bisa ia kontrol sendiri. Sejak pergi dari rumahnya tadi, Ale terus melalun di restorannya. Lebih tepatnya di ruangannya. Sudah siang hari, bahkan sudah menuju ke sore hari namun Ale masih diam dengan melamun. Bahkan ia mengabaikan beberapa karyawan restoran yang menawarkannya makan pagi. Ale menolaknya, ia sedang tidak mood makan. Bahkan ia tidak mood melakukan aktivitasnya.
Aktivitas yang awalnya dia pikir akan berjalan lancar, ternyata harus hancur berantakan. Jika saja Ryan bisa menahan dirinya mungkin Ale tidak akan semarah tadi. Tapi peduli apa, akhirnya Ale bisa meluapkan apa yang dia rasakan. Ale terus menatap lurus ke arah jendela yang berada di belakang meja kerjanya. Kebetulan wanita itu sedang menghadap ke arah Jendela dan sedang membelakangi kursinya. Ia bahkan meminta kepada karyawannya untuk tidak mengijinkan siapa pun masuk. Ale sedang tidak mau di ganggu.
Ale terus terdiam memikirkan bagaimana caranya ia keluar dari jeratan seorang Ryan Andreas. Namun sepertinya sudah tidak ada jalan keluar. Sama halnya seperti apa yang sudah dikatakan oleh Jenna. Jika Ryan sudah menjeratnya, maka Ale benar benar tidak memiliki jalan untuk kembali. Ale sudah terlanjur masuk ke dalam genangan kehidupan Ryan.
Namun kembali lagi, bukankah Ale sudah bilang untuk melakukannya secara pelan pelan dan tidak terburu buru? Namun sikap Ryan saja benar benar tidak menghargai keputusannya. Ale bukan tidak mau dengan Ryan, dia hanya sedang meyakinkan hatinya saja. Meyakinkan apakah Ryan benar benar untuknya?
Rintangan dan halangan ke depannya sudah pasti akan ada. Ale tentunya harus mencari tahu dulu berapa banyak wanita yang tidur dengan Ryan selain dirinya, Ale harus memastikan juga jika Ryan benar benar sudah berubah atau belum. Dia tidak mau di kemudian hari jika mereka sedang bertengkar atau Ryan sedang bosan dengan Ale, Ryan akan mencari kehangatan dengan wanita lain. Belum lagi Ale harus menyiapkan mentalnya, karena sudah pasti akan ada banyak wanita yang mencampuri hubungannya dengan Ryan.
Pemikiran pemikiran itu kadang membuatnya sangat stress. Namun Ale tidak pernah membaginya dengan siapa pun termasuk Ryan.
Saat sedang dalam pemikiran yang cukup rumit, tiba tiba hidungnya mencium bau harum masakan. Ale menghela nafasnya, dia sudah bilang jika tidak ingin makan. Kenapa karyawannya terus terusan mengganggunya dengan menawarkan makanan?!
"Sudah saya bilang, saya tidak ingin makan. Bawa kembali makanan itu," ucap Ale tanpa memutar kursi kerjanya.
Tuk..
__ADS_1
Bunyi sebuah nampan yang disimpan diatas meja kerja Ale. Suara itu membuat atensi Ale teralih sampai memutarkan kursi kerjanya.
"Sudah-,"
"Makan adalah salah satu hal yang penting bagi manusia. Aku tahu kamu masih marah kepada ku, tapi jangan marah kepada diri kamu sendiri dengan cara menghukum perut kamu itu. Dear, makan lah," ucap Ryan pelan.
Yap, pria yang datang ke ruangan Ale adalah Ryan. Sebenarnya dia sudah cukul gemas sejak pagi tadi mendengar kabar jika Ale menolak makanan yang ditawarkan. Ryan ingin sekali datang saat itu juga dan memaksa Ale makan. Namun Ale sedang dalam emosi yang tinggi, dari pada memperkeruh suasana lebih baik Ryan menahannya dulu. Meskipun sebenarnya dia sangat ingin datang dan memaksa wanitanya makan.
Orang suruhannya terus melaporkan tentang Ale padanya. Saat itu Ryan juga sedang berada di parkiran restoran milik keluarga Ale. Karena setelah mendapatkan kabar dimana keberadaan Ale, Ryan langsung datang menyusulnya. Namun dia tidak langsung masuk, melainkan diam di dalam mobilnya dengan memerintah beberapa orang karyawan untuk memberikan makan pagi, namun semuanya ditolak.
"Kebetulan aku juga belum makan. Apa kita bisa makan bersama?" Tanya Ryan.
Apa Ryan belum memakannya?
"Aku akan memakannya bersama kamu. Maafkan aku karena menghancurkan rencana indah makan pagi kita. Apa sekarang dengan ini semua aku bisa menebusnya?" Tanya Ryan. Ia menatap ke arah Ale yang terus diam saja seperti patung. Namun Ryan berinisiatif untuk maju dan menarik pelan tubuh Ale lalu memeluknya.
"Maaf dear," ucap Ryan pelan. Ale membalas pelukan Ryan dengan erat. Dia memang marah namun dia juga merindukan pria ini.
"Maaf baru menemui kamu jam sekarang, sebenarnya sejak pagi tadi aku sudah di sekitaran ini. Namun aku memilih untuk diam dulu di mobil sembari menunggu emosi kamu mereda. Maafkan aku, maaf," ucap Ryan tulus.
__ADS_1
Ternyata dugaan Ale salah. Ryan bukan tidak mau meminta maaf, melainkan sedang menunggu momen yang pas. Ia juga bahkan rela berdiam berjam jam di mobilnya hanya untuk menunggu emosinya reda. Apakah dengan sikap Ryan yang seperti ini bisa menunjukan bahwa dia memang sedang serius pada Ale?
"Aku mau makan," ucap Ale.
Hanya itu yang keluar dari mulut wanita ini. Tidak ada ungkapan kembali dari maaf Ryan. Namun sudahlah, Ryan tidak akan mengungkitnya lagi. Biarkan wanitanya seperti ini dulu. Nanti Ryan akan memikirkan lagi caranya, bagaimana agar wanitanya ini menerimanya lagi.
Ale membawa nampan berisi makanan ke sofa yang ada di ruangannya diikuti oleh Ryan. Ia duduk bersebelahan dengan Ryan. Mereka pun makan bersama setelah Ale memberikan roti sandwich untuk Ryan.
Ale makan dengan lahap. Sebenarnya dia memang lapar, namun karena sedang emosi dan sedang tidak mood, alhasil dia merusak perutnya. Padahal yang membuatnya kesal sekaligus marah adalah Ryan, namun dia malah menyiksa perutnya. Benar benar tidak adil.
Mereka makan dalam diam. Ale masih larut dalam pikirannya sementara Ryan diam memikirkan cara bagaimana membuat wanitanya kembali jinak.
Beberapa menit berlalu, mereka sudah selesai makan. Sebenarnya ini sudah masuk waktu makan siang bukan lagi makan pagi, namun tak apa. Yang penting ada yang masuk ke perut Ale. Ale menenggak habis susu miliknya begitu juga dengan Ryan yang meminum kopinya setelah meminum.aie putih. Tiba tiba Ale menyandarkan kepalanya pada dada bidang Ryan.
"Aku ngantuk," ucap Ale.
Astaga. Ternyata wanitanya memang kelelahan akibat aktivitas mereka semalam. Karena marah Ale bahkan menyiksa dirinya dengan tidak kembali istirahat setelah pagi tadi.
"Tidurlah," ucap Ryan. Pria itu mengecup pelan kening Ale lalu membalas pelukan Ale. Sebelah tangan Ryan digunakan untuk mengelus pelan bahu tangan Ale agar wanita ini nyaman dan cepat tidur.
__ADS_1
Tbc.