One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
199. Wijaya Fam


__ADS_3

***


Jenna melotot mendengar ucapan Zayn. Apa, Paris? Kenapa tiba tiba? Yang benar saja. Jenna bahkan baru diberitahu hari ini. Kenapa pria ini selalu saja membuatnya terkejut sampai jantungan?!


"Aku gak mau mas, kan aku harus kerja di perusahaan papi," ucap Jenna.


"Tidak ada penolakan. Sudah ku bilang bukan, resign dari perusahaan om Adam dan masuk ke perusahaan ku. Mudah," ucap Zayn.


"Mas, jangan egois," ucap Jenna.


"Kita bahas nanti setelah pesta. Sebentar lagi kita sampai," putus Zayn.


Benar, mobil mereka sudah ada di area tempat pesta. Disana banyak sekali orang yang lalu lalang. Bahkan Jenna tidak tahu siapa saja mereka. Jenna tidak mengenal meskipun hanya satu orang saja. Benar benar datang ke pesta orang asing.


Zayn merangkul pinggang Jenna dengan posesif. Sebelum masuk pria itu mengecup pelan pipi Jenna. Jenna tentu saja terkejut dan menepuk pelan dada Zayn.


"Kalo ada yang lihat gimana? Kamu main nyosor aja," ucap Jenna.


"Biarin, kamu kan punya aku," ucap Zayn acuh. Pria itu menarik Jenna perlahan masuk ke dalam pestanya. Hari ini Lita berhalangan hadir sebab dia harus ikut Rendra ke luar negeri untuk perjalanan bisnis. Mau tak mau Zayn dan Jenna yang harus datang menggantikan.


Entah ini pesta apa, Jenna tidak tahu. Pestanya dilakukan di area outdoor. Namun Jenna menebak jika ini adalah pesta perayaan perusahaan. Sudah lama Jenna ikut bergabung dan berkecimpung di dunia bisnis, sedikit banyaknya dia tahu tentang pesta pesta seperti ini.


"Kita sapa dulu yang punya pestanya untuk formalitas. Setelah itu kita pulang saja sayang," ucap Zayn.


"Loh, kenapa?" Tanya Jenna.


"Kamu tahu aku paling tidak suka datang ke acara orang yang tidak aku kenali. Aku datang kesini juga karena terpaksa, mama memaksa ku," ucap Zayn.

__ADS_1


"Ya sudah aku ikut maunya kamu aja sih mas," ucap Jenna.


Keduanya masuk ke dalam acara tersebut. Mereka mencari pemilik acara. Sejak masuk tadi, beberapa tatapan wanita terus menatap damba ke arah Zayn. Sedangkan ke arah Jenna, mereka menatapnya sinis. Benar benar tidak tahu diri sekali wanita wanita itu. Mereka menatap Zayn seolah Zayn belum berpawang saja. Padahal disana jelas jelas ada Jenna.


"Selamat malam tuan Wijaya," sapa Zayn.


"Oh, Zayn? Selamat malam. Senang sekali rasanya bisa melihat orang yang paling berpengaruh di dunia bisnis bisa datang kesini," ucap Wijaya.


"Saya datang untuk mewakili papa dan mama saya yang kebetulan berhalangan hadir," ucap Zayn.


"Perkenalkan, ini Amanda istri ku dan ini Tasya anak ku," ucap Wijaya.


Zayn hanya mengangguk sekilas. "Wanita cantik di samping ku adalah calon istri ku."


"Nona Adam?" Tanya Wijaya.


"Iya," ucap Jenna tersenyum ramah.


"Ma," tegur Wijaya.


"Cantik hanya menurut anda dan tidak menurut saya. Baik buruknya calon istri saya, saya sudah menerimanya. Lagi pula, anak anda bukan tipe saya sama sekali," ucap Zayn menohok. Ia tidak peduli lagi dengan Wijaya yang menjadi rekan bisnisnya juga rekan bisnis papanya. Sebab Zayn paling tidak suka dengan ucapan wanita tua itu.


"Mata kamu sepertinya sudah dibutakan oleh cinta. Harusnya kamu sadar, dia hanya ingin harta dan kekayaan kamu saja. Coba lihat Tasya, gadis polos yang tidak pernah memikirkan harta," ucap Amanda.


Jenna terkekeh mendengarnya, "Benarkah? Lalu beberapa minggu yang lalu saya pernah melihat anak anda berada di salah satu pusat perbelanjaan. Dia sedang bersama seorang pria yang saya kenal. Dia juga klien bisnis papi saya. Setahu saya, dia sudah menikah. Tapi kenapa dia bisa bersama pria itu? Bahkan mereka terlihat sangat dekat sekali."


Zayn tersenyum kecil mendengarnya. Wanitanya ini memang paling pintar membalikan keadaan. Dia diam bukan berarti dia cupu, namun dia diam untuk membuktikan jika tenang memang solusi untuk memecahkan masalah.

__ADS_1


"Jangan sembarangan bicara!" Ucap Tasya dan Amanda bersamaan.


"Jika tidak merasa tidak perlu marah, saya tahu bicara saja memang tidak ada gunanya," ucap Jenna.


"Sayang, boleh minta ponsel ku?" Tanya Jenna pada Zayn.


"Tentu sayang," ucap Zayn. Pria itu mengeluarkan ponsel milik Jenna dan memberikannya pada pemiliknya. Jenna memang menitipkan ponselnya pada Zayn sebab tas kecilnya tidak mampu menampungnya.


Jenna sendiri membuka ponselnya dan menunjukan sebuah video dimana ada Tasya dan seorang pria disana. Mereka terlihat sangat mesra. Namun yang terlihat menerima hanya prianya. Berbeda dengan Tasya, wanita itu terlihat terpaksa.


Jenna memang melihat kejadian itu beberapa minggu yang lalu. Dia hanya asal mengambil videonya. Entah kenapa video itu ternyata berguna. Awalnya Jenna hanya ingin memberitahukan hal ini pada istri dari pria itu, tidak disangka jika dia malah memperlihatkannya pada wanita yang ada di video ini.


"See?" Tanya Jenna. Tasya terlihat sangat marah karena Jenna memperlihatkan video itu. Itu memang dirinya. Dia sedang bersama salah satu cabang prianya.


"Anda bisa saya tuntut karena mengambil video anak saya sembarangan!" Ucap Amanda.


"Tuntut saja, toh di mall itu juga dilengkapi cctv. Yang kalah bukan saya tapi anak anda, sebab anak anda sudah jadi perusak dalam hubungan rumah tangga orang lain. Jika dikulik lagi, mungkin korbannya tidak hanya satu mungkin banyak. Tapi saya malas melakukannya," ucap Jenna.


"Maafkan sikap anak dan istri saya nona Adam. Saya mohon jangan bocorkan hal ini pada siapa pun," ucap Wijaya memotong. Dia tentu saja takut, berhadapan dengan marga Adam bukanlah sesuatu hal yang mudah. Beberapa kali juga dia hampir kecolongan akibat kelalaiannya. Untungnya Adam Malik tidak menyadarinya.


"Tidak perlu meminta maaf. Sikap mereka murni dengan apa yang ada pada diri mereka sendiri. Hanya saja, anda harus mempersiapkan diri anda pada meeting pertemuan semua dewan direksi besok. Papi saya tidak sebodoh yang anda kira," ucap Jenna.


Wijaya melotot seketika mendengar ucapan Jenna. Jadi selama ini Adam diam bukan karena tidak tahu tapi sedang menyusun sebuah rencana? Sial!! Dia kecolongan lagi.


"Saya tidak menyangka jika saya akan datang ke pesta tuan Wijaya yang dulu selalu menggoda mami saya. Ternyata dunia sesempit ini ya? Bagaimana om, apa om sudah berhasil menghancurkan rumah tangga mami dan papi saya?" Tanya Jenna.


"Bagaimana kamu tahu hah?!" Tanya Wijaya.

__ADS_1


"Saya tahu karena kedua orang tua saya terbuka pada saya. Selain untuk mengajari saya, mereka juga memberitahu hal itu agar saya tahu mana saja orang yang tidak perlu saya percaya di dunia bisnis."


Tbc.


__ADS_2