One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
120. Kultum


__ADS_3

Gatau lagi harus semangat apa enggak buat minta di komen🫠


***


Sebenarnya sangat menyesal sekali Ale datang hari ini ke rumah Jenna jika ia ternyata dijadikan bahan gibah oleh mereka. Terutama Ryan, pria itu seolah berusaha balas dendam karena dia sudah mengabaikannya. Padahal Ale bersikap seperti itu karena sengaja, ia tidak ingin sakit hati di kemudian hari. Makanya ia memilih mundur teratur sebelum harus dipaksa mundur secara langsung.


Ale akui, banyak wanita yang ingin bersanding dengan Ryan. Bahkan mungkin dia juga sudah menyukai pria ini namun ia tertampar rasa sadar diri dan memilih pergi sebelum berjuang. Ale memilih kalah sebelum perang. Karena menurutnya percuma juga memperjuangkan Ryan sedangkan pria itu tidak menyukainya. Sama saja cari penyakit.


"Bedanya apa? Kan sama sama ngenes Le," ucap Jenna.


"Lo sebenarnya temen gue bukan sih?!" Ucap Ale kesal.


"Bukan, lo kan sahabat gue," ucap Jenna. Ia menarik tangan Ale agar wanita itu lebih dekat dengannya.


"Lo sahabat gue Le, sahabat dari gue masih jadi jamet alay. Bahkan sampe sekarang lo masih tetep jadi sahabat gue. Gue gak mau lo sakit hati sama cowok, cukup gue aja yang ngerasain hal itu. Dan gue harap lo gak pernah berubah apapun yang terjadi diantara kita ke depannya," ucap Jenna.


Ale melengkungkan bibirnya ke bawah. Ia benar benar terharu dengan ucapan sahabatnya ini. Ale lantas memeluk Jenna.


"Gue bersyukur danget karena tuhan kasih sahabat sebaik lo ke gue. Gue bener bener manusia paling beruntung karena ketika keluarga gue gak ada bahkan gue gak punya pasangan pun, lo selalu jadi tempat gue buat pulang. Lo selalu jadi rumah yang selalu nunggu gue buat datang. Sorry, mungkin selama ini gue gak pernah ngasih feedback yang baik ke lo. Tapi lo harus yakin, gue sayang banget sama lo," ucap Ale.


Jenna tersenyum dan membalas pelukan Ale. Bagaimana pun ia akan tetap bersikap baik pada Ale atau pada siapa pun. Jika mereka tidak memberikan hal yang sama atau malah membuatnya sakit hati, biarkan itu menjadi urusan mereka bersama tuhannya.


"Lo lagi kultum ya Le?" Tanya Jenna.


"Si bangs*t, gue lagi serius juga," ucap Ale kesal.


"Gak boleh serius sama gue, gue maunya serius sama cowok gue," ucap Jenna.


"Serah Jenn, serah. Semerdeka lo aja," ucap Ale. Jenna hanya tertawa saja mendengarnya. Menggoda Ale memang menyenangkan apalagi sampai membuat gadis ini menangis. Benar benar sesuatu yang sangat menyenangkan.


Sementara Zayn dan Ryan hanya diam menatap para wanita yang ada di depan mereka. Apa setiap wanita selalu seperti ini? Saling mengatakan apa yang ada di hati mereka kemudian berpelukan? Untungnya untuk para laki laki tidak pernah terjadi hal itu. Bayangkan saja jika itu terjadi, sudah pasti mereka akan dianggap jadi gay.

__ADS_1


"Jadi menurut kamu saya harus seperti apa Alesha?" Tanya Ryan.


"Apa?" Tanya Ale.


"Jadi kamu suka kan sama saya? Hanya saja kamu gengsi untuk menyampaikannya," ucap Ryan.


"Gak usah kepedean deh. Saya gak suka sama anda, ada pria lain yang lebih baik dari pada anda," ucap Ale.


"Siapa? Kok gak cerita," tanya Jenna sewot. Ale yang kebetulan berada di samping Jenna langsung membisiki wanita itu. Tiba tiba Jenna tersenyum membuat Ryan was was. Apa benar wanita yang selalu ia ikuti itu benar benar ada?


"Apa maksud kalian? Ale tidak memiliki pacar kan?" Tanya Ryan.


"Kepo kayak monyetnya dora," ucap Ale pada Ryan.


"Udah ya Jenn, gue balik dulu. Nanti gue kesini lagi oke," ucap Ale pada Jenna.


"Iya. Hati hati pulangnya," ucap Jenna.


"Oke sahabat," ucap Ale. Gadis itu pun melenggang pergi begitu saja dari sana. Ryan yang melihatnya pun langsung gerak cepat menuju ke luar kamar mengejar Ale.


"Temen om kan banyak ceweknya. Bisa di coblos lagi, kenapa harus sama Ale?" Tanya Jenna.


"Sayang, cewek cewek yang kamu maksud itu cuma jadi mainan Ryan aja. Aku lihat kalo sama Ale dia emang beneran suka," ucap Zayn.


"Oh, jadi mainan ya? Terus aku juga sama gitu? Bagus lah, aku makin gak mau sama kamu," ucap Jenna marah.


"Heh, enggak sayang. Aku mana pernah main kayak gitu. Serius yang, enggak," ucap Zayn kalang kabut.


Sialan, seharusnya ia tidak mengatakan hal ini. Seharusnya ia pendam saja sendirian, arghh. Bagaimana mana ini?!


"Sayang, aku enggak kayak gitu," ucap Zayn. Namun Jenna hanya diam saja. Wanita itu lebih fokus pada cheese cake lembut yang diberikan oleh Ale. Ia sama sekali tidak menghiraukan ucapan Zayn disampingnya.

__ADS_1


Sementara itu dilain tempat, tadinya Ale akan naik taksi online yang sudah ia pesan namun dengan cepat Ryan menariknya dan memberikan lembaran uang pada sopir taksi itu sebagai gantinya. Ryan menarik tangan Ale masuk ke dalam mobilnya. Namun di dalam mobil hanya terjadi keheningan saja.


Ale sibuk dengan dunianya sendiri sedangkan Ryan bingung bagaimana mencari topik pembicaraan yang pas. Entah kenapa otak encernya tiba tiba sulit berfungsi, padahal biasanya dia paling cepat tangkap.


Ryan berusaha berpikir keras, namun rasanya sangat buntu.


"Apa ponsel lebih menarik dari pada aku?" Tanya Ryan.


"Iya," jawab Ale.


"Yakin? Ponsel hanya memberikan kamu kesenangan mata saja, sedangkan aku bisa memberikan kamu kesenangan duniawi," ucap Ryan.


Ale mengernyit, "Maksud anda apa?"


What the f*ck!!! Ryan salah bicara. Seharusnya dia tidak mengatakan hal itu. Ryan bodoh!


"Ah, tidak. Anggap saja kamu tidak pernah mendengarnya," ucap Ryan mencoba tenang. Padahal aslinya ia gelagapan sendiri.


"Apa semua laki laki yang berprofesi sebagai CEO selalu bermain wanita? Yang aku tahu, seratus dari pria yang menjadi CEO, sembilan puluh lima persen mereka seorang player. Hanya lima persen yang jujur terhadap dirinya dan pasangannya. Apa aku benar?" Tanya Ale.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Tanya Ryan.


"Hanya bertanya saja. Jika tidak ingin menjawab juga tidak apa. Lagi pula jawabannya sudah pasti benar," ucap Ale.


"Lupakan hal itu. Aku yang akan bertanya, apa maksud ucapan kamu tadi? Maksud kamu memiliki kekasih? Apa itu benar?" Tanya Ryan.


"Kenapa anda sangat ingin tahu sekali tentang privasi saya? Bukannya kita hanya orang lain?" Tanya Jenna.


"Iya, kita memang hanya orang lain untuk sekarang. Tapi tidak untuk nanti Alesha. Makanya saya bertanya apa kamu memiliki kekasih atau tidak?" Tanya Ryan.


"Sayangnya itu bukan urusan anda, mau saya punya kekasih atau tidak-,"

__ADS_1


"Itu jadi urusan saya karena saya mencintai kamu, Nabila Alesha."


Tbc.


__ADS_2