
***
Sementara itu di Indonesia, Ale dan Ryan baru saja keluar dari dalam sebuah restoran yang berada tak jauh dari tempat mereka akan menginap. Kebetulan Ale dipaksa Ryan untuk ikut perjalanan ke luar kota tepatnya ke daerah Bali. Disana Ryan ada beberapa pekerjaan, Ale dipaksa pria itu untuk ikut. Dan parahnya lagi, kedua orang tuanya mengijinkannya ikut dengan pria itu. Mau tak mau Ale harus ikut.
Dengan malas wanita itu mengikuti kemana pun Ryan pergi. Dia bahkan tidak bisa berkomunikasi dengan Jenna sahabatnya. Entah bagaimana kabar wanita itu saat ini. Setelah mereka berdua dijerat oleh pria berduit, mereka benar benar tidak memiliki waktu untuk bertemu. Sebab baik Jenna atau pun Ale sama sama harus mengikuti pria yang menjerat mereka.
Ryan tadi memaksa Ale untuk makan dulu di restoran yang ada di hotel yang mereka tempati. Ale mengiyakannya saja, dia juga lapar jadi tidak ada salahnya mengiyakan ajakan pria ini.
Ryan memang baik, sangat baik. Namun entah kenapa Ale memang belum bisa menerima Ryan sepenuhnya. Bohong memang jika Ale benar benar menerima Ryan. Dia bersikap seperti itu hanya karena ingin membuat kedua orang tuanya bahagia. Mereka terlihat sangat bahagia saat Ale memiliki kekasih. Sepertinya karena selama ini Ale tidak pernah memperkenalkan pacarnya pada kedua orang tuanya.
"Tidur sama aku?" Tanya Ryan.
"Gak mau, kamu nafsuan. Aku gak mau hamil," ucap Ale.
"Hamil itu baik. Bisa mempererat hubungan kita," ucap Ryan.
"Jangan terburu buru. Udah aku bilang kan?" Tanya Ale.
"Iya sayang. Maaf, aku gak bahas soal itu lagi. Tapi kita tidur seranjang kan?" Tanya Ryan. Keduanya saat ini sedang berada di dalam lift menuju ke lantai hotel yang akan mereka tempati.
"Iya," putus Ale. Dia malas berdebat, tubuhnya sudah lelah. Dia butuh istirahat dan tidur. Masalah tidur nanti, biarlah itu jadi urusan nanti. Palingan pria itu akan menjamah tubuhnya. Memang kadang tidak bisa Ale terima perlakuan Ryan padanya. Namun poin plusnya, tubuhnya terasa seperti di pijat meskipun hanya di area itu saja.
"Love you," ucap Ryan.
"Harus ku jawab?" Tanya Ale.
__ADS_1
"Tentu, diatas ranjang nanti," ucap Ryan tersenyum miring.
"Yan-,"aiaw6
"Haha, bisa aja kamu om. Aku bener bener gak nyangka," ucap seseorang yang baru saja masuk ke dalam lift. Bahkan ucapan Ale terpotong karena mendengar ucapan itu.
Ale mengernyit melihatnya. Dia seperti mengenal wanita itu, namun dia siapa? Ale sedikit melupakannya. Mungkin karena dia terlalu lelah dan mengantuk, otaknya jadi tidak bisa berpikir.
Sedangkan Ryan langsung menarik Ale ke dalam pelukannya dan bergeser agar menjauh dari dua pasangan itu. Mereka terlihat seperti tidak baik baik. Keduanya terlihat mabuk, namun yang lebih mabuk itu prianya sedangkan wanitanya tidak terlalu.
"Cewek ini?" Ucap Ale menggantung. Suaranya sangat kecil sekalo, bahkan itu hanya bisa di dengar oleh Ryan saja. Ia langsung mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Jenna lalu memoto wanita itu dari belakang. Bahkan Ale memvideonya. Tentunya tanpa sepengetahuannya.
Gila, ternyata wanita ini memang selalu melayani pria pria hidung belang. Lihat saja, dia bahkan tidak risih saat pria tua itu merangkul dan entah apa yang dilakukannya di depan sana, yang jelas tangannya tidak mau tinggal diam. Sepertinya.
Ale dan Ryan hanya diam. Mereka hanya berharap semoga lantai yang mereka tuju segera sampai. Mereka berdua benar benar risih melihat kejadian ini. Ale masih berpikir, ia mencoba mengingat ngingat lagi siapa wanita ini. Rasanya tidak asing untuknya. Tapi, entahlah.
Selang beberappa menit, lift kembali terbuka. Ryan dan Ale hendak keluar namun pasangan di depannya lebih dulu keluar. Ale benar benae syok, kenapa mereka sampai bersebelahan dengan kamar yang dipesan Ryan?
"Hiraukan saja, akan aku jelaskan nanti dia siapa. Sepertinya kamu melupakannya," ucap Ryan.
"Kok tahu Ale lupa sama cewek itu?" Tanya Ale.
"Gerak gerik kamu mudah sekali untuk dibaca sayang. Sekarang kita istirahat dulu dan bahas ini besok. Oke?' Tanya Ryan sembari menekan kartu ke arah touch screen agar pintunya terbuka.
"Iya mas."
__ADS_1
***
Pagi harinya, Ale mencoba menelepon Jenna. Semalam videonya sudah sampai pada Jenna namun wanita itu tidak kunjung membalasnya. Jangankan membalas, untuk sekedar membalasnya saja tidak ada. Padahal nomornya aktif namun pesan yang Ale kirim belum dibaca oleh Jenna. Baru di pagi harinya dia mencoba menelepon wanita itu. Namun sudah berkali kali dia menelepon, tetap saja tidak diangkat. Apa mungkin sibuk?
"Sayang, sarapan dulu," ucap Ryan sembari menyodorkan roti tawar kering beserta dengan telur orak arik yang ditambahkan susu dan keju ke dalamnya. Telur itu berada di tengah tengah roti.
"Mas, Jenna kok gak angkat teleponnya ya? Apa dia masih tidur?" Tanya Ale.
"Mungkin. Sebab Zayn membawanya ke Paris. Entah untuk staycation atau apa, aku gak tahu. Cuma kemarin Ghani bilang juga ingin bertemu kita di Paris," ucap Ryan.
"Ha? Jadi Jenna di Paris?" Tanya Ale.
"Iya sayang. Rekan bisnis sekaligus teman ku dan Zayn akan mengadakan pesta perayaan perusahaan. Kami diminta datang," ucap Ryan.
"Lalu kita akan kesana?" Tanya Ale.
"Tentu saja. Kamu harus ikut, selain untuk menemani ku, kamu juga akan menjadi pasangan ku di pesta itu," ucap Ryan sembari menyeruput kopi miliknya. Ale sendiri hanya terdiam sembari meminum teh miliknya. Jenna ke Paris? Tentu saja dia juga akan ikut, sekalian liburan. Tapi Ale yakin bukan hanya liburan dan pesta saja. Pasti Ryan juga akan meminta jatah ranjang. Padahal jelas jelas mereka belum menikah.
"Lusa kita berangkat karena pestanya sekitar dua hari lagi. Aku sudah meminta ijin pada papa mama kamu, dan mereka mengijinkannya," ucap Ryan.
Mulut Ale terbuka lebar, apa ia tidak salah dengar? Orang tuanya mengijinkannya? Sebenarnya apa yang diberikan bajing*n ini pada kedua orang tuanya sampai sampai mereka mengijinkan anak perempuan mereka ikut pergi dengan pria mesum ini?!
"Terkejut?" Tanya Ryan terkekeh.
"Iya lah. Kenapa bisa mama papa ijin aku semudah itu?" Tanya Ale ngegas.
__ADS_1
"Bisa. Soalnya aku baik, mereka pasti akan mengijinkan aku untuk membawa putri mereka," ucap Ryan. Ale tertawa sinis mendengarnya. Baik? Dari segi apanya Ryan terlihat baik? Mungkin itu hanya sifat bunglonnya saja.
Tbc.